Tonny Tesar : Surat larangan jual pinang untuk non OAP sudah melalui sosialisasi

Jayapura, Jubi – Bupati Kepulauan Yapen, Papua Tonny Tesar menyatakan, surat larangan bagi non Papua atau amber untuk berjualan pinang di wilayahnya sudah melalui sosialisasi dan pantauan langsung ke lapangan.

Penjuall Pinang Papua
Penjuall Pinang Papua

“Surat pelarangan bagi non Papua untuk berjualan pinang itu betul ada, dan itu hanya berlaku di Kepulauan Yapen saja,” kata Tonny Tesar, di Jayapura kemarin.

Ia menjelaskan, pihaknya membuat surat edaran terkait dengan proteksi pedagang pinang dan sirih bagi orang asli Papua, dikarenakan makan pinang merupakan satu budaya, tetapi jika biarkan penjualan pinang secara bebas (semua orang bisa menjual), maka dikuatirkan masyarakat asli Papua bisa tersisih.

“Makanya kami mengambil kebijakan buat satu surat edaran, khusus berlaku di Kota Serui tidak boleh lagi Amber menjual atau memperdagangkan pinang dan sirih. Ini merupakan satu pemberdayaan ekonomi bagi OAP sekaligus mengangkat budaya di Serui,” ujarnya.

“Nanti kami lihat respon masyarakat, kalau baik maka akan diitingkatkan ke sektor-sektor lain seperti penjualan sagu dan barang tradisional lainnya. Intinya kami ingin OAP maju dan sejahtera,” sambungnya.

Saat ditanya berapa banyak non OAP yang berjualan pinang, ujar ia, untuk persentase memang jumlahnya belum besar, hanya saja yang terjadi di lapangan sangat terlihat jelas ketimpangan.

“Saya sudah melihat sendiri kondisi rill di lapangan, dan memang saya kaget ternyata dalam satu lokasi tempat berjualan pinang misalnya, dari 20 orang pedagang hanya terdapat dua orang asli Papua. Karena alasan inilah saya keluarkan surat itu,” katanya.

Tak hanya itu kata ia, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen juga telah membuat satu surat edaran larangan makan pinang di dalam pasar. Sehingga jika ada masyarakat yang ingin makan pinang, diharuskan membawa sendiri tempat untuk membuang ludah pinang dan sampahnya dibuang pada tempatnya.

“Ini bagian dari budaya sekaligus memproteksi ekonomi masyarakat kita yang selama ini menggantungkan hidup dengan menjual pinang,” ujarnya.

Secara terpisah, salah seorang warga asal Kota Serui yang enggan diberitakan namanya menilai kebijakan yang dikeluarkan Bupati Yapen Tonny Tesar sah-sah saja, namun perlu peninjauan lebih mendalam. Artinya, pemerintah juga harus tahu alasan pasti dari kurangnya OAP yang berjualan pinang.

“Pemerintah harus mencari tahu alasan minimnya OAP berjualan pinang, karena saya yakin pasti ada alasannya. Jika kurangnya pengalaman, silahkan pemerintah bina melalui pelatihan-pelatihan dan disertai modal yang berkelanjutan. Dengan begitu, apa yang diinginkan pemerintah bisa terwujud,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Add Comment