Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari, Bupati Akui Perda Nomor 5 Tahun 2015 Tidak Berjalan Maksimal

TIFAOnline, SENTANI— Selama 14 hari ke depan sejak Senin (18/3/2019) Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura telah menetapkan keadaan Tanggap Darurat di Kabupaten Jayapura agar seluruh potensi yang ada di kerahkan dan focus bagaimana proses evakuasi korban dan penuntasan dampak dari bencana banjir bandang yang terjadi Minggu (17/3/2019).

Bongkahan kayu – kayu besar yang di bawa dari Cagar Alam Cycloop mendarat di jembatan AURI Kemiri. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Dalam jumpa pers bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awaitouw mengakui bahwa meski selama ini Pemda Kabupaten Jayapura telah menetapkan Perda Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop, tetapi selama ini kurang di gubris oleh masyarakat, dan juga penegakan hukumnya juga kurang maksimal.

“sebenarnya 3 tahun lalu kita sudah ada Perda soal Pengelolaan Kawasan Penyangga Cagar Alam Cycloop, sudah kita sampaikan ke masyarakat dan juga sudah di kordinasikan dengan BKSDA, dimana ada 5 titik yang kita sudah tetapkan, dan dibantu pengawasannya oleh pegiat lingkungan, tapi tidak direspon dari masyarakat”, kata Mathius Awaitouw.

Bahkan Pemda Kabupaten Jayapura juga sudah menggelar Festival Cycloop yang merupakan salah satu strategi untuk mengedukasi masyarakat yang bermukim di kawasan Cycloop, namun karena yang bermukim di kawasan tersebut beberapa warga masyarakat dari daerah lain sehingga dibutuhkan dukungan dari Pemerintah Provinsi juga.

Entah berapa jumlah kerugian harta benda, tampak kondisi salah satu rumah warga di tepi jalan raya yang ditinggal pemiliknya mengungsi. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

“karena ini menyangkut warga lain juga, sehingga mau tidak mau kita butuhkan dukungan Pemerintah Provinsi Papua untuk memberikan pemahaman dan menertibkan serta menangani warga dari kabupaten lain yang bermukim di kawasan Cagar Alam Cycloop”, kata Mathius Awaitouw, Bupati Jayapura.

Tumpukan material pasir dan lumpur di jalan raya depan kompleks AURI Kemiri. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Menurutnya lagi dampak dari pengrusakan lingkungan yang di lakukan oleh masyarakat yang bermukim di kawasan Cycloop sehingga daya serap air hutan di kawasan tersebut menjadi tidak maksimal dan dampaknya terjadi banjir bandang Minggu (17/3/2019).

Dan menurutnya selain korban jiwa yang sudah mencapai 72 orang, juga terjadi kerusakan parah sejumlah infrastruktur jembatan dan jalan, termasuk juga kerugian materiil yang di alami oleh sejumlah warga masyarakat terdampak.

Untuk itu ke depan ia juga akan meninjau kembali lokasi perumahan yang menjadi korban karena lokasinya berada di daerah beresiko, bahkan menurut Bupati Kabupaten Jayapura, salah satu perumahan yang menjadi korban banjir, BTN Gadjah Mada di duga tidak memiliki dokumen Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) atau di duga melaksukan dokumennya.

Ruas jalan depan kantor Distrik Sentani yang penuh dengan timbunana material pasir, lumpur dan kayu, tampak salah satu mobil warga yang tidak bisa di selamatkan saat banjir datang. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Hasil pantauan TIFAOnline, Minggu (17/3/2019) ruas jalan mulai dari depan Sentani City Square (SCS) di penuhi dengan tumpukan material pasir dan lumpur dan juga berbagai material kayu dalam ukuran sedang maupun besar.

Tumpukan material yang di bawa air bah dari Cagar Alam Cycloop tersebut masih di singkirkan ke tepian jalan dengan cara manual, karena belum ada alat berat.

Material lumpur dan pasir yang menjebol pagar tembok Markas YOnif 751 Asrama. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Markas Yonif 751 juga masih terendam oleh air plus pasir dan lumpur hingga di bagian jalan depan Markas 751, bahkan beberapa bagian pagar terlihat jebol, menumpuknya material pasir dan lumpur membuat arus jalan macet, karena jalanan sangat licin dan ruas jalan menyempit.

Salah satu fasilitas pendidikan di Kota Sentani yang terendam lumpur pasir. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Kondisi yang lebih parah lagi di sekitar Jembatan AURI Kemiri, dua sekolah yang ada di sekitar areal tersebut di penuhi dengan timbunan lumpur dan pasir yang menggunung, kayu – kayu dalam berbagai ukuran juga memenuhi bagian depan SMA dan SMP yang ada di area tersebut.

Belum lagi kondisi kompleks AURI Kemiri, seakan menjadi tempat parkir kayu – kayu dalam bentuk gelondongan memenuhi kompleks tersebut, bahkan RS AURI hampir separuhnya tertimbun oleh lumpur dan pasir, demikian juga beberapa rumah warga di sekitar Kali Kemiri, kayu – kayu besar bergelimpangan menghantam rumah yang ada hingga roboh.

Bbeberapa inrastruktur di Kota Sentani yang rusak parah akibat banjir bandang. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Hingga Senin (18/3/2019) Tim SAR di bantu TNI/Polri masih focus melakukan pencarian dan penyelamatan korban sehingga upaya pembersihan material banjir masih di upayakan seperlunya agar arus lalu lintas kembali lancar dan mempermudah proses pendistribusian logistic. (walhamri wahid)

Add Comment