Penebangan liar adalah kejahatan hutan

Sentani, Jubi – Tokoh masyarakat adat Ondofolo Kampung Sereh dan pemilik hak ulayat, Yanto Eluay, mengatakan aktivitas di kawasan cagar alam sesungguhnya telah melanggar hukum dan termasuk dalam kejahatan hutan.

“Berkebun, perambah hutan, penebangan pohon-pohon di kawasan penyangga cagar alam merupakan kejahatan yang sesungguhnya harus ditindak tegas,” tegas Yanto, saat ditemui di Sentani. Minggu ( 12/5/2019).

Dikatakan, bukti dan faktanya sudah terlihat dari dampak yang saat ini dirasakan melalui banjir bandang. Upaya pemerintah melalui koordinasi dan sosialisasi diharapkan lebih cepat dan langsung pada sasaran.

“Ada langkah-langkah pemulihan yang akan terus dilakukan untuk mengembalikan keberadaan hutan di Robongholo, termasuk Danau Sentani, oleh semua pihak, dan ini adalah hal yng sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Sebagai pemilik hak ulayat, Yanto berharap pihak-pihak yang lain dari lembaga swasta dan juga pemerintah selalu berkoordinasi dalam melakukan sesuatu di kawasan cagar alam.

“Dua mahakarya ini adalah pemberian Tuhan bagi kita, sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. Sudah cukup, banjir bandang yang menerjang kota ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Sentani, Demas Tokoro, mengatakan tidak ada cara lain untuk menjaga kawasan cagar alam ini selain membersihkan kawasan tersebut dari aktifitas masyarakat.

“Selama hal ini tidak dilakukan, bencana yang terhebat akan selalu menghantui kehidupan kita selamanya. Bencana permanen sudah ditetapkan untuk Robongholo, apakah kita harus tinggal begini terus kak?. Pemerintah daerah harus mengambil langkah secepatnya,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Add Comment