Masyarakat saat menjalani pengobatan di salah satu posko – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Pasca banjir bandang ,  ruas jalan raya Sentani–Abepura, tepatnya di  kawasan Doyo, Distrik Waibhu, Sentani, Kabupaten Jayapura,   masih diperbaiki.

Banjir  bandang akibat hujan deras sebelumnya terjadi pada Sabtu malam, 16 Maret 2019 hingga Minggu dinihari, 17 Maret 2019

Hingga Selasa sore, 19 Maret 2019 sejumlah petugas masih mengeruk puing-puing, pasir, dan material akibat banjir.

Di sekitar kawasan Kampung Harapan, air keruh merendam sebagian badan jalan. Tingginya mencapai  betis orang dewasa. Pengendara di jalur di jembatan di sekitarnya–yang tak jauh dari Stadion Papua Bangkit–harus menggunakan lajur kanan jika ke arah Abepura, Kota Jayapura.

Di sisi lain, beberapa petugas tampak membersihkan berbagai material sisa banjir  sekitar rumah warga di tepi danau Sentani. air di tepian danau Sentani meluap  beberapa meter menuju jalan raya.

Sedangkan di sekitar kawasan Hotel Grand Tahara, warga berjibaku memotret pemandangan yang tidak biasa. Sebuah eksavator yang mengeruk pasir dan bebatuan di dalam air keruh menjadi objek foto. Mereka seakan tak peduli pada jembatan yang bergoyang.

Beberapa meter dari kawasan itu, di depan Hotel Grand Alison, air memenuhi badan jalan. Air meluap dari sisi jalan menggenangi badan jalan. Mobil, motor, dan pengungsi pun ekstra hati-hati karena harus menghindari eksavator dan beberapa pekerja.

Selasa petang itu, warga Sentani, Bernard Ramandey bilang pada Jubi,  hujan mengguyur kawasan ini sejak Senin sore, 18 Maret 2019 hingga Selasa siang, 19 Maret 2019.

Beberapa titik yang cukup parah, yaitu (kawasan) Kemiri, Doyo, dan BTN Sosial.

“Jalan penghubung BTN Sosial juga putus, sempat banjir dan ada sebuah rumah yang terbelah dua. Di kawasan Doyo, banyak pengungsi yang menyelamatkan diri,” ujarnya.

Sejak Selasa pagi, katanya, Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pekerjaan Umum bersama aparat militer terus mengevakuasi korban dan membersihkan badan jalan.

“Jembatan Doyo yang tadinya terputus, sore ini terhubung kembali berkat bantuan dari Denzipur,” katanya.

Posko bertebaran

Sepanjang tepi jalan raya Sentani, posko bantuan bertebaran. Warga, petugas dan relawan terus memantau dan merawat korban.

Di sana ada  60 orang pengungsi terdiri dari mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Teologi Advent Papua di Doyo. Kampus mereka diluluhlantakkan banjir, sehingga harus menyelamatkan diri di Posko Induk Advent Peduli Bencana. Selama di posko, empat petugas hilir mudik merawat korban.

“Tidak ada yang terjangkit penyakit. Namun, ada yang mengalami cedera, ada luka-luka, karena terkena kayu dan material batu,” kata Gledis Manangsang, petugas Youth Emergency Service Papua di Posko Advent Sentani.

Sebuah pastori juga menjadi tempat penampungan beberapa korban.Sebagian besar penghuninya, juga mahasiswa dan dosen. (*)

Editor: Syam Terrajana

Source: Jubi

Add Comment