Malam itu, makan malam terakhir bagi Stenly dan dua anaknya

Sentani, Jubi – Malam itu, Stenly Monim duduk bercengkrama bersama tiga anaknya, Yofina, Martina, dan Albert Monim di meja makan. Pukul 19.30 WP saatnya makan malam. Dengan lauk seadanya, keluarga kecil tersebut cukup menikmati hidangan di atas meja yang telah disiapkan.

“Istri saya kebetulan ada ke Rindam. Saya sudah suruh pulang jam 4 sore, tapi ternyata istri saya datang jam 9 malam. Saat dia datang, rumah kami sudah tidak ada. Ada enam rumah terbawa banjir,” kata Stenly mengenang malam minggu kelabu 16 Maret 2019, di mana banjir bandang menerjang Kota Sentani, Kabupaten Jayapura.

Akibat banjir bandang tersebut, puluhan korban jiwa berjatuhan dan masih ada ratusan jiwa pun hilang hingga kini. Tim gabungan pun masih terus mencari.

“Anak-anak saya sempat menangis karena air kali mulai naik. Saya menyuruh mereka untuk tenang, sembari saya mencari pertolongan di luar rumah. Saya sempat berteriak minta tolong tapi karena suara derasnya air sehingga teriakan saya tidak terdengar oleh warga sekitar,” ujar Stenly.

Stenly dan lima kepala keluarga lainnya tinggal di tengah kali Kemiri. Lokasi tempat tinggal enam kepala keluarga tersebut berada di ‘pulau’ (dataran tinggi di tengah kali kemiri). Kini, lima kepala keluarga tersebut tidak diketahui keberadaannya.

“Saya sempat menelpon keluarga yang membawa mobil SAR. Saya berpikir dengan menggunakan mobil SAR (yang ada tangganya) bisa menyelamatkan kami sekeluarga. Tapi terlambat, banjir setinggi 10 meter telah menghanyutkan kami. Saya terdampar di samping perumahan AURI, tidak jauh, dua meter saya menemukan anak pertama saya, Yofina dan puji Tuhan dia selamat,” katanya.

Namun, tidak jauh dari Stenly dan Yofina, anak keduanya yaitu Martina terbujur kaku dibawah reruntuhan bangunan dan juga pohon pinang.

“Saya berusaha untuk tenang dan tidak panik ketika melihat anak saya yang sudah meninggal. Kalau saya panik, maka keselamatan saya dan Yofina akan semakin buruk. Yofina pun menangis karena melihat adiknya yang sudah meninggal. Saya bilang, Yofina ayo kita jalan, kita cari Albert. Siapa tau Albert ada di atas,”

kenang Stenly.

Pencarian terhadap Albert (anak ketiga) yang masih berusia satu tahun ini pun dilakukan oleh Stenly dan Yofina. Kondisi pada saat itu masih hujan lebat disertai banjir yang tak kunjung henti.

“Saya mengandalkan senter dari handpone untuk menyusuri jalan menuju rumah kami di ‘pulau. Tapi Albert tidak ketemu. Saya memutuskan untuk mencari tempat aman bersama Yofina, tapi karena derasnya air, Yofina yang saya gendong di pundak sempat hanyut lagi. Saya berusaha menggapai tangannya tapi tidak bisa, Yofina sudah jauh terbawa arus,”

kisahnya.

“Tuhan tolong saya…Tuhan tolong saya. Saya masih ingin melihat bapa dan mama saya,” kata Stenly menirukan ucapan sang anak Yofina ketika sejam kemudian kembali bertemu untuk kedua kalinya.

Ketegaran hati Stenly tersebut berbuah hasil. Stenly dan Yofina, akhirnya dipertemukan dengan Clara Merlin (istri) yang terjebak banjir di daerah Mall Borobudur.

“Saya tidak berani memberitahukan bahwa dua anak kami sudah tidak ada (meninggal). Tapi saya melihat raut istri saya, dia sudah paham dengan kondisi pada malam itu. Kami hanya pasrah kepada Tuhan, semoga kami bisa menemukan kedua anak kami. Tuhan mendengar doa kami, malam ini (15/3/2019) saya mengambil jenazah dua anak saya di RS Bhayangkara,” 

ujar Stenly dengan lirih.

“Maaf ya saudara, saya harus pamit karena masih membawa jenazah anak saya ke Sentani malam ini unuk dikuburkan besok pagi,” kata Stenly sambil berlalu diujung lorong kamar jenazah RS Bhayangkara.

Kisah pilu ini hanya satu diantara cerita yang bisa dirangkum Jubi. Jika menilik data, Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayagkara, AKBP. dr. Hery mengatakan jenazah Albert Monim, anak dari Stenly Monim baru bisa diidentifikasi siang tadi, dan sudah dikembalikan ke pihak keluarga.

“Kami berhasil mengidentifikasi kantong jenazah dengan nomor 093 dan tidak terbantahkan jenazah tersebut adalah Albert Monim, usianya baru satu tahun. Identiikasinya menggunakan data primer berupa struktur gigi dan data sekunder berupa properti yang dikenakkan korban serta data rekam medik lainnya,”

katanya. (*)

Editor       : Edho Sinaga

Add Comment