Ketika Robong Holo mengamuk

Jayapura, Jubi – Air terjun Robong Holo sudah berubah warna dari putih bening menjadi keruh kecoklat-coklatan. Ini pertanda buruk karena ada aktivitas yang mengganggu kepala air alias mata-mata air dari gunung sudah semakin parah.

Cycloop atau Robong Holo menurut orang Sentani memiliki makna yang berarti daerah atau hutan air. Nama ini jelas membangkitkan niat semua warga untuk menjaga daerah pegunungan Robong Holo dari kerusakan hutan yang akan berdampak terhadap siklus air. Perambahan hutan semakin terasa memasuki paruh tahun 2000-an, hingga akhirnya menjadi petaka banjir bandang di malam Minggu, 16 Maret 2019.

“Saya melihat ternyata air terjun pu warna su berubah menjadi warna coklat alias warna tanah yang terbawa arus,” kata Karel Septinus, warga Kota Jayapura kepada Jubi, Minggu (17/3/2019), usai mengecek langsung ke lapangan.

Padahal dalam lagu Keroncong Gunung Cycloop karya mendiang Stevi Mambor personel Black Brothers syairnya menggambarkan keagungan Cycloop antara lain,

Kabut putih menipis kabut putih bersih menutup puncakmu

Ribuan pohonan seakan mengejar membelai punggungmu

Malam hari kau berubah bagaikan benteng terlupakan

Gunung Cycloop di kakimu Danau Sentani

Sungguh serasi menciptakan keindahan

Tiada kau merasa tiadakah kau lelah berdiri di sana

Telah sejuta abad kau selalu berjaga memandang di alam

Siang hari kau tersenyum bagaikan raja kemenangan

Namun syair lagu Keroncong Gunung Cycloop bukan lagi tersenyum tetapi Robong Holo mengamuk dan membersihkan semua rumah dan puluhan nyawa manusia hilang, lenyap dalam sekejap. Bayangkan hanya semalam, Sabtu (16/3/2019) air dari gunung Cycloop memporakporandakan kabupaten yang sedang giat-giatnya berjuang meraih Piala Adipura.

Lahan kristis di Cagar Alam Cycloop terus tergerus sekitar 1.000 hektar tiap tahun, khusus di Kabupaten Jayapura lahan kritis sekitar 83.000 hektare. Perubahan kawasan mulai berubah sejak 2003 telah terjadi perambahan oleh 43.030 jiwa atau sekitar 752 keluarga (Studi Natural Hisorsis Manajemen Papua).

Hasil ini tak berbeda jauh dengan pengamatan WWF-Papua, menjelaskan kawasan kritis yang terdapat di CA Cycloops diperkirakan mencapai sekitar seribu hektar, yang banyak terjadi di kawasan penyangga (buffer zone).

Kayu suwang (Xanthosneon sp), jenis kayu endemik Papua yang hanya memiliki sebaran terbatas di Pegunungan Cycloops, banyak ditebang. Pasalnya kayu ini dipakai untuk arang dan pembakar ikan yang banyak dijumpai di jantung Kota Jayapura.

Tak heran kalau perubahan bentangan alam tak terkendali dan menyebabkan sumber air semakin berkurang debitnya saat musim kemarau. Sebaliknya sungai-sungai akan meluap ketika musim hujan tiba dan hasilnya semua jembatan serta  rumah penduduk hilang dan pesawat di dalam hangar lapangan terbang Advent Doyo ikut terseret arus.

Sebagai kawasan Cagar Alam (CA), Cycloops diresmikan pada tahun 1978 melalui SK No.56/Kpts/Um/I/1978 dan dikukuhkan pada tahun 1987 lewat SK No.365/Kpts-II/1987) yang mencakup wilayah seluas 22.500 hektar. Di tahun 2012, CA bertambah luasannya menjadi 31.479,89 lewat SK Menhut nomor 782/MenHut-II/2012.

“Cycloops merupakan sumber ketersediaan air bersih bagi seluruh warga yang ada di Kota Jayapura maupun di sebagian besar wilayah Kabupaten Jayapura,” ujar Richard Kalilago, antropolog yang tergabung dalam Community Outreach and Sustainable Development USAID LESTARI program Papua, kepada Mongabay Indonesia,belum lama ini.

Lebih lanjut kata Richard mengenang di era tahun 1980-an, ketika masih bergabung dalam kelompok mahasiswa pecinta alam di Universitas Cenderawasih, tekanan terhadap pegunungan Cycloops sudah mulai terjadi. Perambahan hutan untuk mencari kayu suwang, perburuan satwa endemik, galian C, pembukaan lahan, hingga pembangunan fasilitas perkantoran pun telah terjadi. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Add Comment