Greenpeace Indonesia dan KLHK beda pandangan soal penyebab banjir bandang Sentani

Nabire, Jubi –  Nabire, Jubi – Greenpeace Indonesia menuding kerusakan hutan di sekitar pegunungan Cycloop adalah pemicu banjir bandang yang menerjang kawasan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Greenpeace menduga telah terjadi penggundulan hutan di kawasan pegunungan yang melemahkan kemampuan penyerapan air saat terjadi curah hujan ekstrim, sehingga longsor jatuh ke area dataran rendah Sentani.

“Pemerintah terutama pemerintah Kabupaten Jayapura harus menyelidiki penyebab kerusakan ekosistem pegunungan Cycloop, perubahan tutupan hutan yang hilang patut diduga akibat perambahan dan pembukaan hutan di kawasan cagar alam untuk kepentingan pemukiman serta pertanian” ujar Charles Tawaru, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia melalui keterangan persnya yang diterima Jubi, Selasa (19/3/2019).

Menurut Greenpeace faktor utama adalah ulah manusia. “Pelanggaran tata ruang yang membiarkan hutan sebagai penahan longsor juga penegakan hukum yang tidak berjalan efektif terkait pembalakan hutan” kata Charles.

Terpisah, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) IB Putera Parthama mengatakan tidak ada pembalakan liar di sekitar area bencana banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua.

Putera menuturkan hal itu ditunjukkan dengan tidak ditemukannya material kayu bekas tebangan yang hanyut terbawa banjir.

“Pohon-pohon tersebut masih lengkap dengan ranting dan akar-akarnya, hal ini menunjukkan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil kegiatan penebangan kayu yang menyebabkan banjir bandang,” ujar Putera dalam konferensi pers di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, yang dilansir Antara, Selasa (19/3/2019).

Sementara di bagian hulu, kondisi daerah tangkapan air juga sangat rawan terhadap longsor karena memang tingkat kecuramannya tinggi dengan jenis tanah metamorf yang sangat kedap air sehingga sangat mudah longsor.

Dengan kawasan Pegunungan Cycloop yang memiliki kemiringan lereng yang tajam, walaupun kawasan hutannya tidak rusak, namun ketika terjadi curah hujan sangat ekstrim dengan kondisi hulu daerah aliran sungai (DAS) yang tidak stabil maka berdampak besar terjadinya banjir bandang yang menuju daerah pengembangan yang ada di bawah.

Dia mengatakan kondisi hulu DAS dengan batuan yang kedap air dan rawan longsor membentuk bendung alami yang tidak stabil dan mudah jebol pada saat curah hujan tinggi.

“Yang kita yakini terjadi di hulu itu terjadi longsor mungkin sekian bulan atau sekian tahun lalu berbagai bendungan alami terbentuk, kemudian di tanggal 16 Maret 2019 itu selama tujuh jam terjadi hujan yang luar biasa maka bendungan alami itu jebol, membawa segala material termasuk batu, kayu, tentu airnya ke bawah (hilir),” tuturnya.

Putera juga mengatakan perubahan kondisi tutupan lahan dari hutan menjadi nonhutan dari waktu ke waktu di daerah tersebut tidak begitu signifikan, hanya seluas 495,47 hektare (ha) atau 3,3 persen pada periode 2012-2017.

“Dari 2012 ke 2017, tutupannya menjadi nonhutan hanya 3,3 persen, jadi kurang kuat mengasosiasikan kejadian ini kaitannya dengan perubahan tutupan hutannya,” ujarnya.

Dia menuturkan memang di daerah tangkapan air itu, ada pemukiman dan lahan pertanian kering yang dikelola masyarakat setempat dengan total luas 2.415 ha, namun itu dinilai relatif stabil dari waktu ke waktu.

Dia juga menuturkan pada 2018, luas tutupan hutan di DAS Sentani masih berkisar 55 persen, dan itu dinilai baik.(*)

Editor: Zely Ariane, Jubi

Add Comment