Filosofi perahu tradisional di danau Sentani

Sentani, Jubi – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, pada 11 Januri lalu melepas 14 perahu tradisional yang akan digunakan masyarakat di Kampung Ifale Distrik Sentani.

Terkait hal tersebut, Bupati Awoitauw mengatakan perahu tradisional yang biasa digunakan dan dimiliki masyarakat di pesisir danau Sentani, lambat laun mulai tidak terlihat. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman serta penggunaan fasilitas perahu saat ini sudah tidak seperti dulu lagi.

Menurutnya, selain perkembangan zaman yang terjadi, adanya tuntutan ekonomi dan mobilisasi massa yang tinggi, sehingga masyarakat lebih memilih perahu yang praktis dan efisien dari sisi waktu dan biaya.

Dikatakan, tanpa disadari telah terjadi degradasi budaya pada masyarakat Sentani. Nilai-nilai budaya yang sudah turun temurun mulai punah.

“Perahu tradisional orang Sentani memiliki banyak filosofi. Seperti politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan. Semuanya terlihat dalam bentuk fisik perahu tradisonal ini,” ujar Bupati Awoitauw, di Sentani, Selasa (12/2/2019).

Misalnya, jelas Bupati Awoitauw, dari sisi politik, perahu tradisional Sentani tidak menggunakan seman-seman (penyeimbang) layaknya perahu lainnya. Artinya, kita bicara keseimbangan yang terjadi di tengah masyarakat Sentani sangat dinamis, tetapi juga sebagai stabilisator dalam kondisi apapun yang terjadi.

“Dalam kepentingan ekonomi, masyarakat menggunakan perahu ini sebagai sarana penunjang dalam mencukupi kebutuhan mereka. Termasuk dalam sistem pertahanan dan keamanan, generasi muda diajarkan menggunakan perahu ini agar cakap dalam mengawal serta mampu mempertahankan kampung meraka dari segala bentuk gangguan yang datang,” ungkapnya.

Sementara itu, Lukas Mokai, warga Kampung Ifale, sang arsitek 14 perahu tradisional ini, mengaku perahu-perahu tersebut dikerjakan sendiri selama dua minggu dengan dukungan anggaran ADK sebesar Rp 15 juta.

“Kita mengembalikan apa yang sudah ada sejak lama di tengah masyarakat, supaya masyarakat tetap mencintai apa yang menjadi budaya, kebiasaan, serta nilai-nilai yang sudah digariskan sejak leluhur kita,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Add Comment