Danau Sentani, nasibmu kini

PERAHU-PERAHU tak lagi memiliki tambatan. Banjir memapar muka air danau sejajar dengan aspal jalan.

Banjir bandang di Sentani dan guyuran hujan hampir setiap hari di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, sejak Sabtu malam (16/3/2019), mengakibatan rumah-rumah yang berdiri di atas Danau Sentani tenggelam. Ratusan orang terpaksa mencari dataran tinggi atau mengungsi.

Di Kampung Yabaso, posko-posko bantuan mulai didirikan. Setengah wilayah kampung sudah terendam. Jalan yang biasa dilalui mobil untuk menyisir pinggiran danau, lenyap berganti air yang menyatu dengan danau. Perahu-perahu terparkir di atas badan jalan, tampak berdampingan dengan beberapa mobil bantuan.

Saat memasuki danau, air berubah warnanya menjadi cokelat kehijau-hijauan. Sampah-sampah yang diseret banjir bandang beraneka rupa. Bahkan ada pepohonan sagu yang tercerabut dan hanyut. Alat elektronik seperti televisi, bisa ditemui mengambang di tengah danau.

Sejumlah rumah di pesisir pulau di Kampung Ifar Besar, nyaris tenggelam utuh. Warga kebanyakan mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, dan membangun tenda-tenda darurat.

Warga Kampung Yoboi sedang membersihkan sampah di sekitar gereja yang posisi lantainya sedikit tinggi dari muka air danau. -Jubi/Kristianto Galuwo

Salah satu lokasi terparah adalah Kampung Yoboi. Sebab kampung ini tidak memiliki dataran tinggi. Rumah-rumah mengapung di tepian hutan sagu dan rawa.

Menurut salah seorang warga, Yudha Benhur Tokoro (36), muka air danau naik sejak kejadian banjir bandang. Awalnya hanya sampai di betisnya. Semakin lama, air sudah setinggi pinggang.

Jika normal, jarak muka air danau dengan lantai rumah atau jembatan, setinggi satu meter. Tapi setelah banjir, tinggi air dari lantai rumah sampai di kepala orang dewasa. “Jadi kira-kira air naik dua meter lebih,” katanya.

Proses evakuasi oleh masyarakat Yoboi dengan menggunakan perahu milik warga. Mereka menyusuri beberapa jalur di hutan sagu. Rute itu menuju Kehiran, tempat biasanya warga mengungsi.

“Perempuan dan anak-anak sudah mengungsi di Kehiran. Ada sekitar 300-an lebih orang. Termasuk istri dan tiga anak saya. Kepala kampung juga ada di sana,” katanya, Jumat (22/3/2019).

Ada 40-an lebih warga yang bertahan di kampung. Kebanyakan terdiri dari pria dewasa untuk berjaga-jaga. Sejak Kamis (21/3/2019), mereka mulai membangun lantai papan sebagai tongkrongan, tepat di depan bangunan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Klasis Sentani, Jemaat Maranatha Yoboi.

Gereja di Kampung Yoboi yang terendam. -Jubi/Kristianto Galuwo

“Malam berkumpul di sini. Bikin kopi, main gitar, bernyanyi, atau masak mi. Nanti ada juga yang keliling pakai perahu untuk ronda,” katanya.

Ia mengenang, banjir tahun ini yang menimpa kampungnya dan sebagian besar kampung di pesisir danau adalah yang terparah. Pernah terjadi kenaikan muka air danau pada 2013, namun tak membuat semua warga mengungsi.

Selain itu, banyak produksi sagu yang ikut terendam, bersama keramba ikan milik para nelayan. Diperkirakan, kerugian mencapai ratusan juta.

“Kalau air danau meluap, kami memang biasanya bersiap-siap. Tapi banjir bandang kemarin tidak bisa diprediksi,” katanya.

Pemulihan trauma anak-anak

Selain merendam seluruh rumah warga di Kampung Yoboi, berbagai macam fasilitas di kampung rusak. Salah satunya adalah Rumah Baca Yoboi.

Pendiri Rumah Baca Yoboi, Hanny Felle (47), mengatakan ada berbagai macam pernak pernik, alat belajar, sekaligus buku-buku yang rusak karena terendam.

“Ratusan buku tidak bisa diselamatkan. Hanya beberapa saja yang bisa diangkut ke kota,” katanya, saat ditemui Jubi di Kota Sentani, Jumat (22/3/2019).

Ia sendiri telah mengungsi pasca-bencana, Sabtu kemarin. Dikatakannya, ada sekitar 85 anak yang aktif di rumah baca, usia rata-rata 3 sampai 15 tahun. Semuanya telah diungsikan di Kampung Howale (Kehiran 1), Distrik Sentani, sejak Selasa (19/3/2019).

Namun sekalipun anak-anak didiknya berada di pengungsian, kegiatan belajar dan bermain bersama direncanakannya akan dilaksanakan, Senin (25/3/2019).

Anak-anak di Rumah Baca Yoboi, sebelum banjir terjadi. -Jubi/Engel Wally

“Belajar dan bermain bersama ini sebagai pemulihan trauma bagi anak-anak, setelah bencana yang terjadi,” katanya.

Baginya, anak-anak di usia dini tidak boleh merasa tertekan akibat bencana yang menimpa. Apalagi kesehatan mental anak-anak penting untuk diperhatikan. Nantinya, ia akan melibatkan beberapa komunitas pemerhati anak untuk ikut memulihkan trauma anak-anak.

Ia juga prihatin, karena selama di pengungsian, sebagian anak-anak mulai terserang penyakit seperti batuk, pilek, dan gatal-gatal.

“Baik kesehatan fisik dan mental harus diawasi dan dijaga baik-baik. Agar masa pertumbuhan anak-anak tidak terganggu,” katanya.

Kondisi Danau Sentani

Sejak Rabu (20/3/2019), tumpukan sampah ditemukan mengapung di Danau Sentani. Pada Jumat (22/3/2019), tumpukan sampah tersebut terus meluas dan mulai menguarkan bau busuk.

Selain sampah, beberapa bangkai babi juga ditemukan di antara tumpukan sampah. Karena banjir bandang menyeret ratusan ternak dan sebagiannya bermuara ke danau.

Kepala Distrik Sentani, Budi Yokhu (36), mengatakan telah melaporkan kondisi danau tersebut ke pemerintah, agar bisa dibersihkan secepatnya karena banyak orang yang bergantung pada Danau Sentani.

“Danau harus dibersihkan karena hajat hidup orang banyak di sini,” katanya, Kamis (21/3/2019).

Pemerintah Kabupaten Jayapura, bersama PDAM Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua, sejumlah LSM, dan Pemerhati Lingkungan, pernah menggelar Seminar Hari Air Sedunia, pada 12 Maret 2018 lalu, di Kota Sentani. Ada sejumlah poin penting yang dihasilkan dari seminar yang menghadirkan para pakar lingkungan. Salah satu poinnya adalah perlindungan terhadap Cagar Alam Cycloop dan Danau Sentani.

Pegunungan Robhong Holo dilihat dari tengah Danau Sentani. -Jubi/Kristianto Galuwo

Danau Sentani yang memiliki luas 9.630 hektare terletak 75 meter di atas permukaan laut, dan memiliki kedalaman sekitar 50 meter, sejak 29 Maret 2013, pernah meluap dan merendam 24 kampung di sekitarnya.

Pada 10 Januari 2017, danau meluap lagi dan merendam puluhan rumah. Kemudian air meninggi kembali pasca-bencana banjir bandang Sabtu kemarin, hingga merendam puluhan rumah yang berada di pesisir danau dan tepi 21 pulau kecil di dalamnya.

Disampaikan Robert J. Kodoatie ketika Seminar Hari Air Sedunia di Sentani, pada 12 Maret 2018, ada sekitar 14 Daerah Aliran Sungai (DAS) besar yang mengalir ke danau (inlet). Kemudian ada satu DAS yang mengalir keluar dari danau (outlet).

“Kenaikan muka air danau setinggi satu meter secara instan bukan pertama kali, sebab tahun 1940, 1967, dan 1996. Saat itu kondisi di sekitar danau masih dikelilingi hutan. Jadi kenaikan air itu adalah peristiwa atau gejala alam yang tidak biasa (anomali), atau disebut banjir air tanah (groundwater flood),” sampainya.

Rusaknya Cagar Alam Cycloop atau Pegunungan Robhong Holo, sangat berpengaruh pada kondisi Danau Sentani. Karena itu, masyarakat Sentani kerap menyebut Robhong Holo dan Danau Sentani, adalah dua mahakarya Tuhan yang harus dijaga bersama-sama. (*)

Laporan ini dibantu wartawan Jubi, Engel Wally.

Source: JUBI

Add Comment