Sekolah Adat Mengembalikan Jati Diri Yang Pernah Ada

Peserta didik Sekolah adat sedang mengikuti materi tentang penggunaan bahasa sentani. /SK
Peserta didik Sekolah adat sedang mengikuti materi tentang penggunaan bahasa sentani. /SK

Awal abad 19 (Tahun 1925),pengaruh luar masuk dalam siklus kehidupan dan sisitem kepemimpinan telah melenyapkan seluruh inisiasi budaya dan membakar tempat pendidikan generasi muda “Khombobulu” di pesisir Danau Sentani.

Terjadi perubahan radikal ditengah masyarakat yang menyebabkan tergesernya nilai dan norma serta sisitem peradaban budaya leluhur nenek moyang yang sudah ada sejak turun temurun.

Masuknya pengaruh luar tersebut juga telah menghilangkan benda-benda budaya yang bernilai sakral. Pengaruhnya yang dirasakan saat ini adalah Identitas dan jatidiri budaya terbawa dalam arus migrant yang mendominasi budaya pesisir pantai Tanah Papua.

Atas dasar fenomena tersebut, muncul ide untuk mengembalikan jatidiri, adat istiadat, dan kebiasaan positif dimasa lapu yang sudah punah oleh perkembangan jaman,

Dalam persiapan pelaksanaan FDS, ada kegiatan pra FDS yang biasa dilaksanakan Empat hari sebelum pelaksanaan  yaitu pawai budaya Nusantara, pada kesempatan inilah pembicaraan Sekolah Adat dibicarakan antara Pendiri Sekolah Adat dan Bupati Jayapura.

Pelaksanaan FDS ke Sepuluh Tahun 2017, resmi dibuka  oleh Gubernur Papua Lukas Enembe sekaligus meresmikan Sekolah Adat Kabupaten Jayapura dengan pengguntingan pita di Kawasan Pantai Wisata Khalkote pada 19 Juni 2017 lalu.

Pada 4 Agustus 2017, bersamaan dengan kunjungan Bupati Minahasa Selatan (Minsel) ke Sekolah Adat Kabupaten Jayapura, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw secara resmi melonching beroperasinya Sekolah Adat tersebut.

Satu tahun berlalu sekolah Adat Kabupaten Jayapura kini dihuni oleh 76 Siswa aktif dengan 14 tenaga pengajar sukarela yang dengan senang hati membagi ilmu mereka bagi generasi muda yang perduli terhadap jati diri mereka melalui pembelajaran nilai-nilai adat dan istiadat.

Pendiri sekaligus Kepala Sekolah Adat, Origenes Monim menyampikan salah satu gagasannya untuk mendirikan sekolah ini adalah Sekolah Adat Kabupaten Jayapura sebagai lembaga pendidikan non formal yang mampu melestarikan nilai-nilai adat sebagai wahana budaya bangsa. Serta memiliki nilai strategis dalam menopang dan memberikan bobot pengetahuan, sikap, ketrampilan, dan jati diri masyarakat adat dan pemerintahan Kampung Adat di Kabupaten Jayapura.

“ Terjadi pergeseran moral ditengah perkembangan generasi muda saat ini secara kusus di sentani. Karena jaman dahulu ada tempat belajar bagi generasi muda yang disebut “khombo”. Tetapi ketika masuknya misionaris yang membawa ajaran agama, tempat belajar ini dimusnahkan karena dianggap turut mengajarkan hal-hal yang beraliran mistik,”

“ Tetapi seperti ada semacam kegelisahan yang muncul terhadap perilaku, kebiasaan serta adat istiadat dari masyarakat lokal disini yang terus mengalami degradasi pola pikir. Maka ide untuk mengembalikan “khombo” terjawab setelah ada koordinasi dengan pimpinan daera ini,” jelas Origenes Monim di Sentani 4 Agustus lalu.

Setelah resmi menjadi sebuah wadah pendidikan atau “khombo moderen”, Sekolah adat juga menyelenggarakan proses belajar mengajar layakanya sekolah formal.

Sekolah adat mempunyai kurikulum,jadwal,serta 10 mata pelajaran yang diajarkan kepada setiap peserta didik. Dengan jadwal dan program yang terencana selama dua semester di masing-masing mata pelajarannya.

Yang  menjadi perbedaan sekolah ini dengan sekolah formal umumnya, tentu dari mata pelajaran yang diajarkan.

Mata pelajaran yag diajarkan di sekolah adat sebagian besarnya adalah bagian dari aktifitas serta kebiasaan dan cara hidup masyarakat sentani pada kususnya di waktu lampau seperti Mam atau Adat istiadat dan tata aturanya yang meliputi Robu, Kulu, Rungkangge, Wakundang, Hembonirela,dan masih banyak lagi yang lain.

Tetapi ada sebagian mata pelajaran yang sifatnya umum dan biasa juga diajarkan pada sekolah formal seerti Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN), Pariwisata, dan Seni lukis.

Beroperasinya sekolah ini sampai dengan saat ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat setempat, Kepala Suku dan juga pihak lain seperti Pemerintah Daera dan juga swasta.

Kendati demikian pasti dalam mengurusi wadah yang didalamnya membetuk watak serta pola pikir manusia untuk mengerti dan tahu bagaimana menajalani hari-hari hidup mereka dikemudian hari pasti ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi.

Fasilitas pendukung yang digunakan saat ini memang masih jauh dari harapan seperti gedung tempat belajar, fasilitas dan peralatan penunjang kegiatan belajar mengajar.

Sementara dalam sekolah ini terdiri dari sejumlah kelas yang telah kami bagi sesuai dengan jenjang dan usia para peserta didik. Nama kelas yang digunakan disekolah ini diambil dari nama ikan Gabus jenis ikan yang merupakan endemik di Danau Sentani Sentani.

Kelas Kandey bagi usia 8-13 tahun setara dengan SD kelas 1-SMP kelas 7 siswanya ada 20 orang, Khahea untuk usia 14-21 Tahun setara dengan SMP kelas 8 – SMA kelas XII siswanya ada 20 orang, Khahe untuk usia 20-30 Tahun setara dengan perguruan tinggi – orang dewasa siswanya 20 orang, Khayou bagi usia 31 – orang tua dewasa/umum siswanya ada 20 orang, Kahebey untuk mahasiswa dan masyarakat umum siswanya ada 10 orang, dan kelas Calon Instruktur siswanya ada 10 orang.

Untuk tenaga pengajar saat ini kami gunakan para tua-tua adat di Kampung yang dengan sukarela membagi ilmu pengetahuan mereka kepada peserta didik, termasuk sejumlah seniman lokal yang bersedia membantu. Tetapi juga ada tenaga pengajar dari luar yang mempunyai niat tulus untuk membantu kami disekolah adat ini.

Dalam sisitem pembiayaan masih swadaya sendiri selaku pendiri dan juga Kepal Sekolah adat, seperti baju seragam, tranportasi motor jonson antar jemput peserta didik dan konsumsi saat kegiatan berjalan. Sementara untuk honor dan gaji bagi para pengajar hingga saat ini belum terakomodir.

“ Proses selama ini yang menjadi kendala adalah bangunan yang represetatif bagi tempat belajar, modul-modul belajar dalam kurikulum yang harusnya diperbanyak sebagai panduan belajar. Disisi lain pemerintah juga harus mengeluarkan semacam regulasi untuk mendukung dan memproteksi keberadaan sekolah adat dalam keberadaanya sehingga sekolah ini juga bisa menjadi sekolah daera,”

“ Kami juga berterima kasih kepada pemerintah daerah melalui instansi tehnis telah mengeluarkan ijin operasional bagi sekolah ini. Baik dinas pendidikan, dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten jayapura. Pada dinas pendidikan ijin operasionalnya adalah sekolah sejenis, harapan kita kedepan ijin ini dapat berubah satatus menjadi sekolah non formal,” ujar Monim.

Selaku pendiri dan Kepala Sekolah Adat Kabupaten Jayapura Origenes Monim sangat berharap agar tujuan berdirinya sekolah ini menjadi aset pengetahuan sikap, dan ketrampilan lokal. Tetapi juga sebagai wadah berhimpun untuk belajar kebudayaan lokal yang menghasilkan lulusan yang beradap dan terampil dibidang seni dan budaya.

Harus ada ruang bagi pelaku seni dan budaya untuk berekspresi dan mengolah kreatifitas mereka serta memiliki kompentensi untuk berkarya.

Saat ini sekolah adat masih menjalani masa libur mereka sejak perayaan satu Tahun berjalannya sekolah adat di Kabupaten Jayapura yaitu 19 Juni 2018. Sekolah adat akan aktif kembali pada 22 Agustus 2018 mendatang.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw yang melonching jalannya Sekolah Adat ini mengatakan pihaknya sangat berterima kasih kepada masyarakat setempat yang juga sebagai masyarata adat. Yang begitu perduli dan kreatif untuk membangun kesadaran diri terhadap nilai-nilai budaya.

Menurutnya, apa yang dilaksanakan dalam wadah pendidikan berbasis adat sangat tepat dan sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Daera soal Kampung Adat.

“ Pemerintahan berbasis adat sudah ada sejak dulu, dan didalamnya ada muatan pendidikan, ketrampilan yang selalu diwariskan kepada generasi-generasi muda pada waktu itu. Dalam perkembangannya pada saat ini memang tidak mudah, tetapi akan kita upayakan untuk membantu dengan dana hibah secara rutin tiap tahun,” kata Bupati dua periode ini.

Salah satu peserta didik Sekalo Adat Kabupaten Jayapura Marnece Doyapo dari Kampung Abar Distrik Ebungfauw yang duduk pada kelas Khahea saat ditemui di Sentani 6 Agustus lalu mengaku sangat senang dan termotifasi untuk selalu belajar dan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi diwaktu lalu.

Marnece juga mengatakan ada banyak kisah dan ceritera dari para pendahulu tentang tradisi serta adat istiadat yang dilakukan oleh leluhur kita diwaktu lalu.

“ Saya sangat berterima kasih kepada bapak/ibu guru yg ada di sekolah adat kabupaten jayapura yang telah mengajar dan memberikan banyak ilmu kepada kami untuk mengenal lebih dekat budaya tradisional adat suku sentani yangg pengetahuanya tdk kami dapatkan pada sekolah formal umumnya. Sebagai peserta didik, saya sangat berharap agar anak –anak sentani yang belum bergabung bersama kami bisa ikut belajar bersama di sekolah adat. Karena nanti lulusan sekolah adat ini dapat menjadi orang yang beradat di tengah masyarakat dan dapat menciptakan lapangan perkrjaan melalui keahlian yang dimiliki selama memnimba ilmu disekolah ini,” ungkapnya.

Sekolah Adat Kabupaten Jayapura pada tahun ini sedang membuka pendaftaran bagi sisiwa baru. Yang berminat segera mendaftarkan diri langsung pada Yayasan Pemberdayaan dan Pengembangan Adat Kabupaten Jayapura dengan alamat : RW 03 Bhubay Kampung Hobong Distrik Sentani. No tlp/HP 0822 9888 8275 / 0813 4409 2295. (**)

Add Comment