Praktik arif ekologi budaya (3)

Oleh: I Ngurah Suryawan 

Bersama dengan masyarakat di kampung Suku Tomerauw - Jubi/Dok. Penulis
Bersama dengan masyarakat di kampung Suku Tomerauw – Jubi/Dok. Penulis

SALAH satu sasi yang juga sering dilakukan oleh masyarakat Tomerauw adalah sasi rawa, yaitu usaha untuk menjaga perkembangbiakan ikan-ikan yang berada di wilayah suku Kanum di Tomerauw. Sasi rawa ini biasanya dilakukan jika hasil tangkapan ikan penduduk di kampung mulai menurun.

Saat saya ke Tomerauw, April 2016, masyarakat kampung sedang bergembira, karena bulan ini musim panen ikan di rawa-rawa sekitar kampung. Ini juga berarti adalah rezeki besar bagi warga kampung. Mereka telah puasa untuk musim ikan selama dua tahun lamanya pada saat sar.

Setelah sar dibuka berarti ikan-ikan sudah berkembang biak dengan baik dan saatnya untuk ditangkap. Tidak ada pembukaan sar (sasi adat) sore itu di Kampung Tomerauw. Memang saya hanya beberapa jam saja di Tomerauw sebelum kembali lagi ke Wasur.

Nataniel Ndimar, seorang warga, mengatakan jika musim ikan di rawa tiba, maka bisa dipastikan “orang-orang kota”– begitu mereka menyebutnya–akan datang menuju Tomerauw dengan menyiapkan puluhan cool box (tempat pendingin ikan). “Orang-orang kota” ini akan rela menunggu di kampung berjam-jam guna mendapatkan ikan dari para warga. Kata Nataniel, ikan-ikan mereka dapatkan dalam jumlah banyak karena pemberlakuan sar (sasi).

Masyarakat di Kampung Tomerauw sangat menghormati pelaksanaan sar, termasuk orang-orang dari luar kampung yang masih memahami arti penting dari pelaksanaan sar rafa ini.

Namun tidak demikian dengan “orang-orang kota” ini. Mereka dengan gampang saja ke kampung untuk mendapatkan hasil dari masyarakat kampung yaitu ikan rawa. Masyarakat kampung mendapatkan uang dan begitu seterusnya.

Nataniel Ndimar pada sore itu mengungkapkan bahwa masyarakat di kampung belum berpikir untuk mengelola hasil ikan mereka secara mandiri. Yang ada dalam pikiran mereka adalah menjual dan mendapatkan uang dengan sesegera mungkin.

Hingga kini masyarakat di Kampung Tomerauw belum pernah mengelola hasil bumi sendiri. Oleh karena itulah orang-orang luar selalu melihat peluang kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kampung Tomerauw. Sehingga yang terjadi adalah orang-orang luar selalu mencuri hasil alam, termasuk yang ada di rawa-rawa yang sangat kaya.

Ndimar mencontohkan sumber daya yang terdapat di rawa-rawa yang berada di belakang kampung.

Setelah memberlakukan sar, yaitu larangan bagi semua orang untuk mencari ikan, udang, dan berburu buaya, makhluk hidup yang berada di rawa mempunyai perkembangan yang baik. Oleh sebab itulah setelah sar dibuka, bisa dipastikan bahwa hasil yang akan didapatkan akan lebih banyak.

Wilayah sakral

Selain sar bagi marga Ndimar, praktik ekologi untuk perlindungan sumber daya alam lainnya bagi orang Kanum adalah wilayah tempat-tempat sakral sagu yang sangat mereka jaga, sangatlah berperanan penting sebagai sumber penghidupan sehari-hari.

Tempat-tempat tumbuhnya sagu di dalam rawa-rawa yang terbentang luas di belakang perkampungan selalu mereka jaga dan rawat. Yang merusak rawa sagu berarti juga bunuh diri untuk kehidupan mereka selanjutnya.

Pohon-pohon sagu yang tumbuh di wilayah rawa-rawa di Kampung Rawa Biru bagi orang Kanum Smerkey sangat disakralkan. Wilayah rawa sagu tersebut diberi nama Ntemtom.

Di wilayah ini sagu akan tumbuh terus-menerus tanpa habis-habisnya, sehingga mereka percaya bahwa sagu di lokasi ini sakral. Mereka juga mempercayai bahwa sagu di Rawa Biru menjadi cikal bakal penyebaran sagu oleh nenek moyang mereka di kampung-kampung orang Kanum lainnya.

Jika sagu mereka yakini akan terus tumbuh karena para leluhur selalu menjaga dan lingkungan selalu menghidupinya, tidak demikian dengan yang lainnya. Sumber daya alam yang mengelilingi rawa-rawa sagu di wilayah orang Kanum sangat rentan dieksploitasi oleh orang luar maupun orang Kanum sendiri, hanya demi mencari uang. Eksploitasi yang berlebihan itulah yang dikhawatirkan akan merusak keseimbangan lingkungan alam Kanum.

Sasi bagi orang Kanum bertujuan untuk menghemat sumber daya alam yang ada di wilayahnya. Secara khusus di Kampung Tomerauw, sasi dilakukan jika mereka memandang sudah tidak terjadi keseimbangan tempat dimana binatang, maupun tumbuhan tersebut hidup dan berkembang.

Orang Kanum memiliki pandangan bahwa jika ada ketidakseimbangan dalam rantai makanan akan dengan mudah terlihat dengan liarnya binatang untuk mencari makanan di sekitar wilayah kampung. Jika ini sampai terlihat, maka bisa dipastikan bahwa telah terjadi permasalahan dalam keseimbangan lingkungan hidup.

Yunus Maiwa mencontohkan bahwa yang menjadi perhatian sebelum pelaksanaan sasi adalah memperhatikan makhluk hidup yang berada di kawasan air dan darat. Kawasan air yang terutama adalah ikan. Kawasan darat yang beragam ini dimiliki masing-masing marga. Tapi yang terutama adalah babi, rusa, dan kanguru.

Jika binatang-binatang ini menjadi liar, maka ada yang salah dalam keseimbangan lingkungan, terutama yang berhubungan dengan rantai makanan dengan manusia. Hal ini berarti manusia telah berbuat salah dan merusak ketenangan ekosistem yang ada. Dengan situasi seperti itu, maka sangat diperlukan untuk melakukan sasi untuk memastikan keberlangsungan hidup ekosistem tetap berjalan baik.  (*)

Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat

Add Comment