Perusahaan perkebunan diminta berbagi ruang dengan gajah

Ilustrasi gajah Asia,pixabay.com
Ilustrasi gajah Asia,pixabay.com

Pekanbaru,Jubi – Perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan hutan tanaman industri diminta berbagai ruang serta lebih peduli dengan habitat gajah Sumatera. Permintaan itu terkait ruang habitat gajah di Provinsi Riau sudah terfragmentasi, sehingga perlu tindakan bersama untuk menjaga agar mereka tetap bisa hidup di habitatnya.

“Satwa tidak mengenal habitat di luar atau dalam konservasi. Mengelola gajah harus arif hingga bisa hidup berdampingan,” kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Indra Exploitasia, di Pekanbaru, Jumat, (27/7/2018).

Menurut dia, permintaan itu salah satunya adalah melalui peran perusahaan yang memiliki areal perkebunan atau konsesi yang berbatasan dengan habitat gajah. Sedangkan berbagi ruang hidup yang dimaksud adalah bagaimana memperlakukan satwa di habitatnya dengan arif dan terintegrasi dengan baik melibatkan seluruh pihak.

“Saya berharap upaya itu dapat menjadi percontohan bagi daerah lain untuk menerapkan hal yang sama,” kata Indra menjelaskan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, menjelaskan pada dasarnya setiap perusahaan baik yang bergerak dibidang perkebunan maupun konsesi hutan industri memiliki ketentuan untuk menyisakan ruang konservasi.

“Termasuk perlindungan satwa gajah,” ujar Suharyono .

Menurut dia, sejumlah perusahaan telah memenuhi ketentuan tersebut. Namun, ke depan dia berharap perusahaan dan pemerintah akan memiliki rencana aksi yang lebih jelas agar penyediaan areal konservasi dapat berjalan dengan baik dan terpadu.

Suharyono mengatakan KLHK sedang fokus pelestarian gajah Sumatera, namun dia menuturkan penyediaan ruang konservasi tidak tertutup hanya pada satwa tersebut, namun juga satwa dilindungi lainnya seperti harimau atau beruang.

Secara teknis, dia mengatakan penyediaan ruang konservasi tersebut dapat dilakukan dengan menyiapkan gerak jalur atau “home range” serta penyediaan tanaman yang menjadi makanan gajah.

Dengan begitu, gajah yang keberadaannya harus terus dilindungi tidak akan mengganggu komoditas perkebunan maupun konsesi perusahaan.

“Sudah disetujui direktur KKH agar di Riau segera susun rencana aksi,” katanya. (*)

Add Comment