Pangan luar “menjajah” pangan lokal Papua

Masyarakat yang lagi asik makan papeda bersama di sempe - Jubi/Engel Wally
Masyarakat yang lagi asik makan papeda bersama di sempe – Jubi/Engel Wally

Makanan dari luar Papua, baik dalam bentuk kemasan, maupun bukan kemasan perlahan mendominasi dan “menjajah” panganan lokal.

 

Hal itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebut saja transportasi dan migrasi.

 

Akses transportasi yang mudah dan percepatan migrasi membuat “selera” makanan lokal semakin menghilang.

Sedianya makanan lokal seperti papeda, ubi, keladi, buah merah, dan panganan lainnya perlu dilestarikan.

Koordinator Papua Jungle Chef, Charles Toto kepada wartawan di Jayapura, Selasa, 2 Oktober 2018 mengatakan, dalam sidang Parlemen Oseania, pihaknya mengusulkan kepada forum untuk mengembalikan kejayaan pangan lokal Papua.

“Kami berpikir untuk mengembalikan makanan lokal melalui even makan papeda dalam sumpit, maupun festival pangan lokal lainnya,” kata Toto.

Menurut Toto, tidak mengonsumsi pangan lokal berdampak pada perubahan signifikan dalam kehidupan orang asli Papua (OAP).

 

Maka dari itu, pemerintah harus menyeriusi kondisi tersebut. Resep-resep peninggalan orang-orang tua, misalnya, dalam kuliner lokal, harus dibukukan.

 

Dengan begitu, anak-anak cucu nanti dapat mempelajari, mengetahui dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bahan bakunya yang disediakan oleh alam yang kaya tidak boleh dihilangkan.

 

“Kita menggali potensi orang-orang tua kami yang sudah mulai punah dengan menjaga resep tradisional,” kata dia.

Selain itu, lanjut Charles Toto, “bagaimana kekayaan makanan lokal Papua bisa dikenal oleh masyarakat internasional,” ujarnya.

 

Pria yang baru saja mengikuti Festival Slow Food di Milan, Italia itu melanjutkan, orang-orang di luar negeri terkejut dan mengagumi resep masak makanan lokal Papua.

I

ronisnya, kata dia, di Tanah Papua dan Indonesia pada umumnya, makanan lokal Papua semakin tidak diminati.

“Papua jungle chif mempresentasikan hasil racikan kami selain itu kami juga menunjukan jati diri Orang Asli Papua (OAP),” ujar Charles.

 

“Kami pertahankan ini dan kami perjuangan dan kami masih hidup dengan cara makan seperti ini. Hal ini  yang kita mau tunjukkan kepada dunia bahwa orang asli Papua juga bisa,” lanjut Toto.

 

Komunitas Penggiat Sagu Papua juga sedang gencarnya menggelar festival sagu di kampung-kampung. Perhelatan itu melibatkan masyarakat setempat.

 

Festival Sagu dinilai sebagai upaya menyelamatkan dusun sagu dan bumbu-bumbu lokal Papua.

 

Beberapa hari lalu digelar festival makan sagu di sempe (gerabah) di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura. Sempe merupakan wadah (gerabah) untuk menyediakan papeda.

 

Festival makan sagu di sempe digelar setiap 30 September dan baru dimulai tahun 2017, dengan menyediakan lima puluh sempe. Ketika itu Kampung Abar menargetkan setidaknya menghadirkan 150 sempe pada tahun 2018.

 

“Kami komitmen sebab luasan sagu terbanyak ada di Papua, Jayapura  kemudian terbanyak jenis ada di Papua. Orang Papua juga punya hubungan religi dan kultur dengan sagu,” kata Koordinator Penggiat Sagu Papua, Marshall Suebu.

Menurut Marshall, sagu dianggap melekat dalam budaya orang asli Papua, terutama daerah pesisir. Masyarakat bahkan telah mengenal sagu dan menokok sagu untuk makanan sehari-hari sejak bertahun-tahun lamanya.

 

Dengan demikian, komunitas yang dinakhodai Suebu berharap agar Pemerintah Provinsi Papua mendukung kegiatan yang mereka lakukan.

 

Dirinya bahkan sudah menemui sejumlah ondoafi (tetua adat) di Jayaputa untuk membahas sagu dan upaya pelestariannya.

Pembudidayaan hutan sagu dan alih fungsi hutan menjadi lahan sagu, dinilainya sebagai upaya melestarikan sagu.

“Ondoafi menyambut kami sangat baik,” kata Suebu.

 

Suebu mengatakan, sebagai wujud dukungan para ondoafi, sejumlah lahan disediakan untuk menanam sagu.

“Di kampung Toware mereka siapkan 15 hektare, 25 hektare di Kampung Evale. Kampung Abar sudah menyediakan 20 hektare lahan sagu,” kata Suebu.

 

Pemerintah Provinsi Papua telah berupaya membudidayakan sagu dengan gerakan menanam sagu. Setiap perempuan menanam setidaknya sepuluh pohon.

 

Sagu juga diupayakan sebagai produk unggulan dan pangan lokal pengganti beras. (*)

 

Sumber: http://tabloidjubi.com/

Add Comment