NOKEN Jenis Dan Fungsi Dalam Budaya Suku Dani Lebah Baliem Papua dan Sistem Noken dalam Pilkada

Noken Papua dipinjam dari bahasa Belanda dari kata “Noken as” yang ada hubungannya dengan peralatan motor (Wikipedia). Noken dalam bahasa Lembah Baliem Wamena Papua dinamakan “Su”. Masing-masing daerah Papua memiliki sebutan sendiri sesuai bahasanya.

Penyebutan Su semata noken un sich. Ada juga sebutan Su-Yokal. Pali-Su, Ewe-Su, Su-Eken, Su-Sogolowan, Wam-Su, Yekerek-Su, Su-Hotik, Wene-Su, Ye-Su.

Terdiri dari dua kata, Su (noken) dan Yokal, yakni sejenis Noken penutup bagian bawah (aurat) wanita dewasa. Ciri khusus wanita menikah dan masih gadis dikenali dari bahan. Yokal sebagai ciri khusus membedakan wanita sudah menikah atau belum (masih gadis dalam budaya Wanita Lembah Baliem adalah Yokal.

Biasanya Wanita Lembah Baliem yang belum menikah (gadis) memakai Sili (Sali). Jenis dan bahannya beda dari yokal. Cara pembuatannya juga beda. Para gadis Lembah Baliem yang masih berumur 5-15 tahun memakai anyaman Kem” “Sili”. Bahannya dianyam khusus dari rerumputan yang biasa tumbuh di kolam alam di Wilayah Pegunungan Papua (bukan kulit kayu).

Su dan Yokal bahannya sama dari anyaman kulit kayu khusus. Pohon serat kulit kayu yang dijadikan noken ada beberapa jenis pohon khusus dan memiliki nama masing-masing.

Misalnya Noken khusus diperuntukkan mengangkut Ubi atau Petatas (makanan pokok khusus Orang Papua umumnya Wilayah Pegunungan Tengah) dan sarana mengangkut bahan makanan manusia dan ternak. Jenis Noken ini bahannya kasar, kuat, dan keras dan diambil dari serat akar Pohan Pandan Hutan. Pohon jenis ini biasa hanya tumbuh di Wilayah pegunungan Papua. Jenis bahan noken ini lebih kasar dan keras.

Pembuatan noken dari serat akar pohon pandan biasa dipintal-pintal mama-mama Papua dimalam hari, pengerjaannya umumnya pada musim buah pandan berbuah. Disaat musim pohon berbuah kaum pria memetik buah kaum ibu menyibukkan diri dengan membuat noken dari akar pohon pandan hutan yang baru tumbuh.

Jenis noken dari serat akar pohon pandan tidak diperuntukkan lain selain hanya untuk sarana mengangkut makanan manusia dan hewan ternak. Jenis Su atau noken ini khusus untuk mengisi bahan-bahan kebutuhan sehari-hari umumnya ubi jalar dari kebun. Inilah umumnya fungsi noken berbahan akar dari pohon pandan hutan.

Lain lagi noken berbahan serat kulit pohon (kayu), yang lebih halus dan lembut cara pembuatannya memakan waktu lama hingga bulanan dan berbahan lebih halus dan lembut. Jenis noken ini dari serat kulit pohon dan pembuatannyapun khusus dan diambil dari beberapa jenis pohon khusus pula.

Yokal bahannya sama dengan jenis kulit pohon ini. Noken dari bahan kulit kayu khusus ini pembuatannya lama, lebih rapih, mewah, memakai bahan pewarna khusus dan memiliki nilai magis bahkan dianggap noken berharga karena noken jenis ini memiliki nilai ekonomi tinggi misalnya sebagai mas kawin, alat transaksi jual beli dalam kebudayaan orang Lembah Baliem, ucapara perkawinan, pembayaran utang-piutang, tanda jasa pesta adat keramat, alat pembayaran babi dalam pesta kematian pertama dan pesta kematian kedua atau pesta penutup kematian kerabat keluarga, semuanya menggunakan jenis noken khusus ini dan dipandang memiliki nilai lebih tinggi dan khusus dalam berbagai kegiatan transaksi pesta perkawinan, upacara kematian kerabat dan pesta khusus lainnya.

Jenis-jenis noken dan fungsinya

Sebelum menyebut jenis dan fungsi noken dalam tradisi kehidupan orang Lembah Baliem Wamena perlu dijelaskan lebih dulu disini bahwa antara noken sebagai alat pengangkut kebutuhan hidup khususnya makanan seperti ubi, daun petatas (ekawuka) makanan ternak. Noken berbahan halus dan lembut dari kulit pohon khusus ini dibuatnya khusus bagi mengantongi bayi yang baru lahir. Karena itu bahannya lembut dan halus tapi jenis untuk kantong bayi sama dan persis satu bahan dan pembuatannya juga sama. Demikian serat noken Yokal juga sama tapi beda anyaman pembuatannya lebih rapat dan tertutup karena fungsinya untuk menutupi aurat wanita bagian bawah).

Penamaan Noken diambil dari Bahasa Belanda seperti dijelaskan diatas tadi. Disini penulis tak begitu anggap penting bahas istilah noken dan bukan tujuan khusus pemaparan disini. Penulis hanya ingin memberikan catatan dari banyak pandangan tentang Noken sebagai warisan dunia dari perspektif budaya kami Suku Dani Lembah Baliem yang penulis bagian integral dari kebudayaan ini ingin menjelaskan sebatas yang penulis ketahui, hayati, lihat dan mengerti apa itu noken dan nilai dibalik noken bagi kami Suku Dani Lembah Baliem lebih khusus dan Lapago secara keseluruhan yang sejatinya menghayati nilai noken sama. Perbedaan hanya sebutan nama sesuai logat bahasa tapi fungsi noken dan nilai penghayatannya sama.

Noken seperti dijelaskan diatas diambil dari bahasa non Papua. Noken dalam bahasa Baliem Tengah Suku Dani dalam lingkup budaya Lapago dinamai ‘SU”. SU banyak jenis dan fungsi sesuai kebutuhan dalam kehidupan orang Papua. Bagi kami orang Lembah Agung Baliem Wamena SU dilihat dari fungsi bergambar jenis dan fungsi sesuai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari orang Baliem.

Belum selesai…

Dalam pengertian fungsi dan kegunaan dalam tulisan yang telah dijelaskan singkat diatas tak ditemukan sedikitpun noken sebagai sarana memilih Kepala suku apalagi sarana sistem memilih pemimpin. Kecuali itu peminjaman istilah sistem noken semata-mata meminjam nama noken sebagai istilah baru untuk tujuan lain dan baru.

Source: Facebook

Add Comment