Kunikan Suku Elseng di Papua, dari Soal Adat Hingga Kepercayaan

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Suku Elseng di Kampung Bengwin, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Papua masih memegang teguh adat istiadat dari leluhur mereka, salah satunya kaum perempuan dari suku itu tak diperbolehkan tampil menjadi pemimpin.

“Tradisi kami unik, ada perlakuan khusus dengan kaum perempuan, antara lain tak dapat berkeliaran dan tampil di depan umum untuk memimpin. Sebab ini dianggap menurunkan derajat kaum laki-laki,” kata Kepala Suku Besar Elseng, Hengki Yanggau di Kantor Perhimpunan Advokasi dan Kebijakan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua di Padangbulan, Kota Jayapura, belum lama ini.

Menurut Hengki, keunikan lain dari Suku Elsen yakni tak mempercayai Yesus sebagai putra tunggal Allah, tapi hanya mempercayai Allah sebagai Tuhan dan keluhur mereka. “Bagi kami Yesus sudah lahir dan ada yang kami tahu bahwa dunia yang berkuasa adalah Allah sendiri,” kata Hengki.

Hengki juga mengatakan, dalam cerita adat Suku Elseng bahwa Yesus belum lahir dan benar-benar ada. “Kami hanya menyebut Allah, kami berbicara dengan Allah bukan dengan Yesus,” ujar Hengki.

Hengki juga mengaku tidak mengetahui tentang gereja, firman Tuhan dan Alkitab. “Kami hanya tahu silsila adat, keturunan yang terdapat pada lima Suku Elseng dan dunia hanya berkuasa Allah sendiri,” katanya.

Namun Hengki mengaku pihaknya tetap memiliki gereja yang diberi nama Gereja Dunia Damai. “Yang melayani adalah tokoh adat sendiri bukan pendeta dan majelis. Kami tak boleh diintervensi siapapun, karena kami punya keyakinan sendiri,” ungkapnya.

Namun Hengki mengaku pihaknya tetap memiliki gereja yang diberi nama Gereja Dunia Damai. “Yang melayani adalah tokoh adat sendiri bukan pendeta dan majelis. Kami tak boleh diintervensi siapapun, karena kami punya keyakinan sendiri,” ungkapnya.

Menurut Hengki, keberadaan Suku Elseng cukup sulit dijangkau, pada umumnya  bermukim di Waisamba, Aimbe, Skori, Bengwin, Kampung tua Semse Penemum, Kosu Sawa dan Skamto di Arso serta sekitarnya. “Letaknya berbatasan dengan Kaureh, Senggi, Arso dan Suku Awi di Abe Gunung,” katanya.

Jumlah Suku Elseng ini diperkirakan 100 jiwa, selain itu dalam Suku Elseng terdapat lima suku lain yang hidup berdampingan, seperti Suku Semsei, Suku Poso, Suku Penemum, Suku Koya dan Suku Yemel. “Suku Elseng mempunyai mitos yang kuat, dan percaya bahwa mereka menjadi agen pendamai untuk Papua dan Indonesia pada umumnya,” jelas Hengki.

Direktur PAK-HAM Papua, Mathius Murib mengaku, keberadaan Suku Elseng terjepit dengan perubahan dan pengaruh baru dengan masuknya investor yang akan merubah hutan mereka menjadi lahan sawit.

“Mereka mengingat dan menyadari bahwa tanah, hutan dan kayu rotan, mereka sudah dikuasai oleh suku lain dan terancam menjadi hilang. Dalam perubahan dimaksud, Suku Elseng merasa tak diperlakukan secara wajar dan tak adil,” ungkap Mathius.

Menurut Mathius, ancaman terhadap eksisten nilai budaya Suku Elseng antara lain, hilangnya bahasa daerah, etika pergaulan kaum lelaki dan perempuan dan etika tidur anak usia muda dan lain-lainnya.

Mathius juga mengatakan, masyarakat Suku Elseng berharap kepada pemerintah Kabupaten Jayapura dapat melakukan pemetaan batas tanah dan hak ulayat Suku Elseng.

“Juga ada penguatan kapasitas kearifan lokal Suku Elseng, percepatan pembangunan mental oleh agama dan pembangunan fisik, antara lain jalan, jembatan, gedung pelayanan umum, pendidikan, kesehatan, air bersih dan listrik, Penanaman pohon kembali dan lindungi hutan sebagai kawasan hutan lindung sebagai paru-paru dunia,” jelas Mathius. ***(Fitus Arung)

Add Comment