Kepulauan Pasifik pakai teknik tradisional tangani perubahan iklim

Oleh Emily Earnshaw, TabloidJubi

Salah satu kegiatan organisasi lingkungan hidup The Pacific Climate Warrior . - PINA/ 350 Pacific
Salah satu kegiatan organisasi lingkungan hidup The Pacific Climate Warrior . – PINA/ 350 Pacific

Masyarakat Kepulauan Pasifik menggabungkan pengetahuan leluhur mereka dengan teknologi modern, dalam sebuah upaya inovatif untuk melawan perubahan iklim.

Menurut mereka, pengetahuan dari nenek moyang mereka itu penting dalam memecahkan masalah paling penting dan mendesak di seluruh dunia: bagaimana melindungi diri mereka dari ancaman perubahan iklim yang akan terjadi, dan yang sudah mulai dirasakan.

Kepulauan Pasifik sangat rentan terhadap perubahan iklim. Negara kepulauan seperti Kiribati dan Tuvalu hanya memiliki ketinggian rata-rata 2 meter di atas permukaan laut, yang berarti naiknya permukaan laut mengancam keberadaan mereka. Warga kedua pulau itu sekarang sedang menghadapi kenyataan menyakitkan, bahwa mereka mungkin harus meninggalkan tanah air mereka yang perlahan-lahan ditelan oleh laut.

Namun, para penduduk Kepulauan Pasifik menolak untuk diam dan menjadi korban tanpa perlawanan. Sebagaimana tertulis dalam slogan organisasi lingkungan hidup The Pacific Climate Warrior: “We are not drowning, we are fighting”.

Kapal-kapal ‘hijau’ yang berkelanjutan

Sejumlah perusahaan inovatif bidang lingkungan hidup telah bermunculan di sepanjang wilayah Kepulauan Pasifik, mereka memadukan pengetahuan tradisional dengan teknologi ’hijau’ modern, untuk menciptakan solusi berkelanjutan atas perubahan iklim.

Arsitek asal Samoa, Carinnya Feaunati, percaya bahwa hubungan erat dan unik yang dimiliki masyarakat tradisional sejak dahulu kala dengan lingkungan setempat mereka ini berarti mereka, bisa jadi, adalah sumber informasi utama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kita dapat mengatasi perubahan iklim. Informasi seperti ini mungkin akan terbukti sangat berharga bagi penelitian lingkungan secara global; jika saja seluruh dunia mau mendengarkan mereka.

Sebagai masyarakat Oseanik, orang-orang Kepulauan Pasifik menempuh perjalanan jauh melintasi laut dengan kapal-kapal yang terbuat dari bahan-bahan alami, selama ratusan tahun lamanya. Kini, mereka berharap dapat menggunakan keahlian mereka, untuk menunjukkan bahwa perjalanan laut bukan berarti harus menggunakan bahan bakar fosil yang berbahaya.

Melalui peleburan antara teknologi modern dengan teknik pembuatan perahu tradisional, sekelompok orang Fiji berhasil membuat kapal laut tanpa bahan bakar fosil, kapal ini bergantung pada energi dari matahari dan angin. Kapal ini disebut ‘Uto ni Yalo’, yang diterjemahkan sebagai ‘Spirit of the Sea’.

Dwain Qalovaki, sekretaris dari proyek Uto ni Yalo, mengatakan bahwa tujuan dari proyek yang sedang berlangsung ini, adalah untuk mendorong proliferasi transportasi laut yang berkelanjutan. Dia berharap bahwa pada akhirnya, proyek-proyek seperti yang sedang mereka lakukan akan ‘menggantikan kapal modern yang bergantung pada bahan bakar fosil’. Qalovaki telah mengelilingi dunia menggunakan kapal itu, mendorong investor untuk mengadopsikan teknologi ini dalam portofolio transportasi laut mereka.

Melindungi budaya

Rencana mereka saat ini lebih fokus pada lingkungan lokal, Qalovaki dan timnya berlayar di sekitar Pasifik Selatan untuk mempromosikan perjalanan dengan konsep berkelanjutan secara lingkungan hidup, serta memulai program pembersihan laut berbasis komunitas.

Namun, tindakan-tindakan yang bersifat pencegahan seperti ini tidak cukup, untuk menyelesaikan masalah yang sudah mulai terjadi dan dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat Pasifik. Dalam beberapa dekade terakhir kita melihat peningkatan drastis dalam jumlah siklon dan tsunami yang melanda pulau-pulau itu.

Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 8,1 menyebabkan tsunami menyerang pantai-pantai Samoa, Samoa Amerika, dan Tonga. Samoa, terutama, mengalami dampak paling buruk, hingga 150 orang meninggal dunia. Baru-baru ini pada tahun 2016, salah satu siklon paling buruk yang pernah direkam melanda Kepulauan Pasifik, menghancurkan lebih dari 90% bangunan di Vanuatu.

Feaunati mengatakan bahwa hal ini sangat mencemaskan karena begitu banyak aspek budaya di Kepulauan Pasifik terkait dengan lautan. Lingkungan yang berubah dengan cepat tidak hanya menimbulkan ancaman karena relokasi paksa, tetapi juga mengancam gaya hidup dan budaya komunitas.

Masyarakat tidak lagi hidup harmonis dengan lingkungan, alih-alih, mereka takut akan lingkungan. Feaunati mengatakan bahwa orang Samoa ‘hidup dalam kecemasan’ karena ‘mereka merasa seperti telah kehilangan koneksi mereka dengan lautan’.

Sebagai tanggapan, penduduk Kepulauan Pasifik bersatu untuk menciptakan ide-ide baru, yang akan membantu melindungi budaya mereka terhadap bencana lingkungan, yang semakin sering terjadi. Dengan berbagi praktik bertani tradisional, mereka berharap dapat membantu dan memperkuat satu sama lain, ketika dihadapkan dengan lingkungan yang tidak dapat diprediksi dan bergejolak.

Pengetahuan dan kearifan tradisional

Isso Nimhei, seorang petani dari Pulau Futuna, mulai mengajar sekelompok pekerja pertanian di pulau-pulau tetangga cara tradisional, untuk mengawetkan pisang. Teknik pengawetan ini dimaksudkan untuk membantu saat-saat keterbatasan pasokan makanan, setelah terjadinya bencana alam.

Demikian pula, warga asli Samoa, Joseph Afa telah mengajarkan ‘teknik Laufasa’ kepada orang-orang yang tinggal di Vanuatu. Teknik budi dayanya itu memungkinkan satu tunas pisang, bisa menumbuhkan hingga lima belas tunas tanaman baru.

Kedua teknik ini menunjukkan bagaimana penduduk Kepulauan Pasifik berbagi pengetahuan, yang telah diakumulasikan selama ratusan tahun, diwariskan turun temurun dari leluhur mereka. Ancaman perubahan iklim yang mereka hadapi bersama-sama telah membuka dialog penting, menyatukan komunitas pan-Pasifik di bawah tujuan yang sama.

Bersama, pulau-pulau ini memiliki suara global yang lebih keras daripada yang dimiliki masing-masing pulau. Untuk alasan ini, anggota dari lima belas negara yang berbeda di Kepulauan Pasifik telah bergabung bersama untuk membentuk ‘Pacific Warriors’. Berharap bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat internasional, perusahaan akar rumput yang dipimpin orang muda itu, mengorganisir berbagai kampanye untuk menentang penggunaan bahan bakar fosil.

Pada 8 September 2018, mereka memulai kampanyenya yang paling ambisius hingga hari ini: ‘Rise for Pacific Pawa’ dengan 18 acara di 14 negara yang berbeda, organisasi ini berencana untuk menekan pemerintah-pemerintah lokal, agar menandatangani berkomitmen untuk menggunakan 100 persen energi terbarukan pada 2020.

Solusi yang pasti dan terbukti

Tujuan ini dapat dicapai – Pemerintah Samoa telah menunjukkan dedikasi besar untuk mencapai masa depan yang lebih hijau, dan pulau-pulau lain pun mengikuti dengan antusias.

Dengan negara-negara seperti Paraguay dan Islandia menggunakan 100 persen energi berkelanjutan, pesannya jelas, solusi ini bisa terjadi. Dengan berjanji untuk bergabung dengan kedua negara, masyarakat Kepulauan Pasifik berharap bisa membangun momentum global untuk beralih ke sumber energi terbarukan. Mereka percaya bahwa ‘jika masyarakat Pasifik di semua tingkatan dapat memimpin transisi, menuju masa depan yang bebas bahan bakar fosil, maka dunia akan mengikuti’.

Komunitas Kepulauan Pasifik sudah terbukti sebagai perintis yang proaktif, dalam merancang masa depan yang berkelanjutan; tetapi keberhasilan mereka juga tergantung pada reaksi masyarakat internasional.

Bagi mereka, perubahan iklim bukanlah mitos atau prospek yang masih jauh, namun kenyataan menakutkan yang sedang terjadi. Feaunati menekankan bahwa masyarakat internasional perlu mendengarkan solusi-solusi terbukti, yang disajikan oleh suara-suara pribumi, sebelum terlambat. (PINA)

Emily Earnshaw adalah penulis freelance dengan fokus pada isu-isu lingkungan dan hak asasi manusia.

Add Comment