Inilah penyebab kepunahan kasuari

Kasuari Papua yang diselundupkan ke Pangkal Pinang tapi digagalkan BKSDA Jatim di Bandara Juanda, 17 November 2017 - Jubi/Timo Marten
Kasuari Papua yang diselundupkan ke Pangkal Pinang tapi digagalkan BKSDA Jatim di Bandara Juanda, 17 November 2017 – Jubi/Timo Marten

Jayapura, Jubi – Persebaran satwa endemik Tanah Papua seperti kasuari terancam punah, baik karena perambahan hutan, maupun perdagangan ilegal dan perburuan liar.

Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Nambluong, Mathius Sawa, ketika ditemui Jubi di Namblong, Sabtu, 4 Agustus 2018, mengatakan dulu burung-burung itu mudah didapat. Mereka bahkan sering bertengger di dekat perkampungan masyarakat, pohon-pohondekat rumah, dan kali.

“Sekarang kita tidak dengar suaranya. Tidak lihat lagi,” kata Sawa.

DAS Nambluong, yang membawahi Distrik Nimboran, Namblong, dan Nimbokrang memiliki beberapa spesies kasuari. Kini di Kampung Ekowisata Rhepang Muaif terdapat empat spesies kasuari.

Meski belum diketahui jumlah kasuari, hutan lindung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang kini menjadi habitat empat spesies tersebut bersama cenderawasih dan burung-burung lainnya.

Pemerhati lingkungan di Kabupaten Jayapura, Marshall Suebu, minta agar semua pihak melindungi dan menjaga satwa yang tersebar di Tanah Papua.

Menurut dia kasuari merupakan satwa liar di Papua yang harus dilindungi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam.

“Jangan ada lagi satwa yang jadi korban,” katanya kepada Jubi di Sentani, Jumat, 17 Agustus 2018.

Femke den Haas dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) — sebuah organisasi nonprofit yang konsen pada perlindungan satwa di Indonesia, yang berdiri tahun 2008 — mengatakan perdagangan satwa di Papua sangat marak. Ada oknum, ada juga masyarakat. Satwa di Papua itu unik, indah sehingga banyak yang memperdagangkannya.

“Itu jelas salah dan harus dijaga,” kata Femke.

Jika tidak menjaga dan memperlakukannya dengan bijaksana, maka satwa-satwa Papua tersebut akan cepat punah.

Maka dari itu, JAAN berupaya untuk menyetop perdagangan satwa liar di Indonesia, termasuk Papua. Misalnya dengan lobi terus-menerus untuk menggugah kesadaran warga, pendidikan masyarakat, dan mengembalikan satwa yang dicuri ke alamnya.

Jumat, 17 Agustus 2018, BKSDA Jawa Timur bersama JAAN mengembalikan delapan ekor kasuari kepada BKSDA Papua.

Kasuari tersebut akan diselundupkan ke Pangkal Pinang, Kepulauan Riau, tetapi digagalkan BKSDA Jatim tanggal 17  November 2017 di Bandara Juanda, Sidoarjo. Setibanya di Sentani, Jayapura, delapan kasuari itu dilepas di Rhepang Muaif.

“Kami akan senang melihat mereka di Nimbokrang,” kata Femke lagi.

Menurut dia, JAAN akan terus memantau perkembangan burung-burung tersebut, baik melalui GPS maupun dengan mengontrol langsung di tempat-tempat satwa endemik Papua ini, terutama di Nimbokrang.

Kasuari dan cenderawasih merupakan ikon satwa endemik Papua. Kasuari, kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Papua, Timbul Batubara, merupakan satwa paling tangguh di Papua, bahkan untuk pulau Papua.

“Satwa yang dilindungi ini demikian sexy, berharga di mata nasional kenapa di sini kita tidak menghargai, tidak menyayanginya?” ujar Barubara. (*)

Add Comment