Hutan sagu yang sedang terancam: Sebuah potret konversi hutan dan lahan di Sentani

Oleh : John Mampioper, Jubi

 

SAGU (Metroxylon sagu Rottb) di Indonesia tumbuh dalam bentuk hamparan hutan yang kurang terpelihara sebagaimana mestinya. Sagu dapat tumbuh di daerah rawa atau tanah marginal yang tanaman penghasil karbohidrat lainnya sukar untuk tumbuh wajar. Tumbuhan sagu tersebar di kawasan timur Indonesia terutama Maluku, Papua Barat, dan Papua.

 

Seiring terjadinya perubahan sosial di masyarakat, peran sagu sebagai pangan pokok mulai tergeser. Ada anggapan bahwa sebagai pangan pokok, sagu berada pada posisi lebih rendah dibanding beras atau bahan pangan lain terutama terigu. Tumbuhan sagu juga berproduksi secara berkelanjutan selama puluhan tahun sepanjang areal kawasan hutan sagu dibiarkan berkembang secara alami.

 

Pada umumnya sagu tumbuh pada kondisi ekologis, (i) rawa pantai <em>(brackish water)</em> yang bercampur dengan nipah dan tumbuhan payau lainnya; (ii) rawa air tanah, baik secara murni maupun bercampur dengan tumbuhan rawa dengan penggenangan tetap maupun sementara; (iii) pesisir berpasir yang dipengaruhi oleh keadaan pasang surut; dan (iv) lahan yang tidak tergenang, tetapi mempunyai kandungan air yang tinggi. Secara ekologis tanaman sagu dapat tumbuh, berkembang, dan berproduksi pada lahan marginal dimana tanaman lain sulit tumbuh.

 

Di Papua, sagu memiliki peranan sosial, ekonomi, dan ekologis yang cukup penting bagi suku-suku yang bergantung pada hutan sagu. Secara kultural masyarakat lokal mengkonsumsi tanaman sagu sebagai makanan pokok <em>(staple food)</em> secara turun-temurun. Patinya digunakan untuk bahan makanan pokok yang dikenal dengan papeda atau <em>fie</em> dalam bahasa Sentani.

 

Dengan melihat keanekaragaman manfaat dan multifungsinya tumbuhan sagu serta peranannya secara ekonomi, sosial budaya, dan ekologis bagi kehidupan manusia, maka sudah saatnya kita berusaha untuk mempertahankan dan mengembangkan kawasan hutan sagu yang tersebar di daerah Sentani, Kabupten Jayapura.

Upaya ini dilakukan karena luas areal sagu dari tahun ke tahun semakin berkurang akibat beralihnya fungsi lahan sagu yang dikonversi untuk areal pemukiman, kawasan pembangunan, dan usaha pertanian lainnya.

 

Arah kebijakan pembangunan pemerintah daerah yang mengganti fungsi lahan sagu untuk areal pertanian dan pemukiman penduduk, serta aktivitas lainnya, juga memberikan kontribusi bagi berkurangnya luasan hutan sagu yang tumbuh dan berkembang secara alami.

 

Lahan sagu yang sudah dikonversi sulit diperbaiki atau dikembalikan lagi seperti semula karena sudah terjadi perubahan ekosistem lingkungan hidupnya. Proses konversi atau perubahan pemanfaatan lahan timbul sebagai akibat perubahan perimbangan dalam jumlah penduduk dengan luas lahan yang tersedia.

 

Jumlah penduduk dari waktu ke waktu terus meningkat, sementara luas lahan yang tersedia tidak bertambah, sehingga terjadi pergeseran spasial pemanfaatan lahan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan cukup bervariasi, misalnya konsumsi terhadap lahan merupakan manifestasi dari kekuatan demografi dan ekonomi. Selain pemanfaatannya yang tidak maksimal, terdapat sejumlah faktor lain juga memberikan pengaruhnya, yaitu perubahan penduduk, fungsi ekonomi yang dominan, ukuran wilayah, rata-rata nilai lahan, jumlah dan kepadatan penduduk, wilayah geografis, dan kemampuan lahan.

 

Konversi hutan sagu menjadi kawasan perumahan di Sentani sudah dimulai cukup lama. Sebenarnya secara hukum Pemerintah Kabupaten Jayapura sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu. Sayangnya, peraturan ini seperti mati suri.

 

Alih fungsi hutan sagu pun terus terjadi. Baik untuk infrastruktur, pertanian tanaman pangan, dan investasi berbasis lahan lainnya.

 

Di sisi lain kepentingan anggota masyarakat adat yang beraneka ragam, membuat pengawasannya sulit dan sering terjadi penjualan areal-areal sagu oleh perorangan kepada pihak lain. Hal ini memberi peluang untuk konversi lahan sagu terus dilakukan pada tahun mendatang, dan konsekuensi terbesar yang akan dihadapi adalah hilangnya ekosistem hutan sagu yang memiliki prospek untuk dikelola secara komersial, berkelanjutan, dan berbasis ekologis.

 

Konversi lahan sagu ini berdampak pada berkurangnya luasan hutan sagu, yang secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Sentani, yang menggantungkan hidupnya pada hutan sagu, dimana sagu sebagai makanan pokok, tepung sagu dapat digunakan sebagai bahan dasar kue, daun, dan kulit kayu dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi rumah dan dapat dijual.

 

Selain memberikan kontribusi secara ekonomi terhadap masyarakat sekitar, tumbuhan sagu berfungsi untuk konservasi air karena akarnya memiliki fungsi hidrologis untuk mengatur penataan sumber air di dalam ekosistem hutan sagu.

 

Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka hutan sagu akan habis.

 

Melestarikan hutan sagu berarti menjaga ketahanan pangan. Jika sagu tidak ada lagi di Papua, maka kebutuhan akan sagu harus mengimpor dari daerah lain atau dari negara tetangga, Papua Nugini.

 

Membuat makanan pokok seperti papeda pun akan menjadi sangat mahal jika bahan bakunya impor. Sebaiknya pemerintah setempat secepatnya melestarikan hutan sagu, yang berarti melestarikan makanan asli daerah, yaitu papeda.

 

Untuk mencegah hal ini perlu membangkitkan kembali nilai-nilai budaya lokal setempat yang berkaitan dengan pelestarian hutan sagu, penanaman kembali pohon sagu, dan penegakan hukum dalam pelanggaran pengelolaan hutan. (*)

 

Penulis adalah pegawai di Dinas Kehutanan Provinsi Papua

 

Sumber: <a href=”http://tabloidjubi.com/artikel-20537-hutan-sagu-yang-sedang-terancam%C2%A0sebuah-potret-konversi-hutan-dan-lahan-di-sentani.html” target=”_blank” rel=”noopener”>TabloidJubi</a>

Add Comment