Dinas Kehutanan Papua kembali sita puluhan kayu ilegal

Ilustrasi kayu ilegal di halaman kantor dinas kehutanan papua - Jubi/Alex
Ilustrasi kayu ilegal di halaman kantor dinas kehutanan papua – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Dinas Kehutanan Provinsi Papua kembali berhasil menangkap sebuah mobil pick up yang kedapatan mengangkut puluhan kayu hasil penebangan liar dari kawasan cagar alam Cyclop Kota Jayapura.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Yan Pugu mengatakan pihaknya menahan sopir beserta barang bukti berupa kayu balok sebanyak 25 batang, karena yang bersangkutan tidak bisa menunjukan bukti surat angkutan yang sah.

“Untuk sementara kayu balok berbagai ukuran kami tahan di kantor dinas kehutanan untuk selanjutnya di proses sesuai undang-undang yang berlaku,” kata Pugu kepada wartawan, di Jayapura, Selasa (17/7/2018).

Menurut ia, penangkapan kayu ilegal ini berdasarkan informasi dari masyarakat yang mengatakan, di kawasan cagar alam cyclop yang berada di belakang Kampung Buton, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura sering ada aktivitas penebangan pohon.

Dari informasi tersebut, lanjutnya, pihaknya langsung membentuk tim khusus guna melakukan pengecekan ke tempat penebangan.

“Kami sudah beberapa kali pergi ke tempat penebangan, tetapi tidak menemukan pemiliknya. Namun setelah kami mendapat informasi hari ini kayunya mau diangkut, kita langsung turun kelapangan melakukan penangkapan,” ujarnya.

Agar tidak terulang kembali, pihaknya akan secara intens melakukan pengawasan di kawasan hutan Cyclop. Mengingat cagar alam ini berkontribusi sangat besar bagi masyarakat di Kabupaten maupun Kota Jayapura. “Intinya masyarakat harus menjaga pegunungan Cyclop guna mengatasi krisis air,” katanya.

Pugo menambahkan, ke depan Dinas Kehutanan bersama Balai Besar KSDA, SPORS, Satpol PP, LSM dan masayarakat mitra Polhut akan melakukan operasi rutin gabungan di Kabupaten dan Kota Jayapura. Dengan harapan tidak ada lagi penebangan liar di Papua.

Kepala Bidang Pembinaan Usaha Kehutanan Papua, Ade Ridwan mengatakan kajian mengenai perambahan hutan sedang berjalan, namun karena jumlahnya sangat banyak sehingga masih dalam proses pengungkapan, setelah ini baru bisa diketahui berapa besar kerugian negara.

“Terjadinya perambahan hutan juga ada keterlibatan masyarakat, hal ini dikarenakan desakan ekonomi yang mengharuskan mereka melakukan ini,” kata Ade. (*)

Add Comment