Satu dari enam bahasa daerah di Kota Jayapura terancam punah

Satu dari enam bahasa daerah di Kota Jayapura terancam punah
Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan daerah Dr. James Modouw saat membuka kegiatan di Aula Balai Bahasa Papua dan Papua Barat baru-baru ini – Jubi/Roy Ratumakin.
Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan daerah Dr. James Modouw saat membuka kegiatan di Aula Balai Bahasa Papua dan Papua Barat baru-baru ini – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, JubiDari enam bahasa daerah yang dipakai  di Kota Jayapura, satu di antaranya terancam punah karena penuturnya tinggal beberapa orang saja.

Demikian dikatakan Koordinator Pemetaan Bahasa Balai Bahasa Papua dan Papua Barat Yohanis Sanjoko kepada Jubi di ruang kerjanya, Rabu (3/5/2017).

Sanjoko mengatakan, satu bahasa daerah yang terancam punah adalah bahasa Kayu Pulo. Sedangkan yang berada di zona aman adalah bahasa Tobati, Nafri, Skouw, Nyau, dan Elseng.

“Dalam menakar apakah sebuah bahasa daerah dikatakan kuat atau punah ada beberapa hal yang menjadi bahan untuk dilakukan evaluasi, di antaranya faktor transmisi, jumlah penurut, proporsi penurut, peralihan, respon bahasa, ketersediaan bahan ajar, sikap pemerintah, sikap pemilik bahasa, jumlah, dan kualitas dokumen,”

katanya.

Sanjoko menambahkan dari beberapa hal tersebut untuk di Indonesia ada enam aspek atau golongan untuk mengetahui sejauh mana penyebaran bahasa daerah tersebut di suatu wilayah atau kampung.

“Kebanyakan di Papua, satu kampung dengan kampung lain memiliki bahasa yang berbeda-beda atau memiliki dialek yang berbeda, untuk menakar hal tersebut, diklasifikasikan sesuai dengan kategori, yaitu kategori aman, kemudahan, mantap, dan stabil, selain itu terancam punah, kritis, dan punah,” ujarnya.

Untuk bahasa Kayo Pulo masuk dalam kategori terancam punah karena penuturnya hanya tinggal beberapa orang saja.

Pengkaji Bahasa, Balai Bahasa Papua dan Papua Barat Ely Maramuri menghimbau kepada para orang tua agar mempunyai peran lebih penting untuk menanamkan bahasa daerah kepada anak-anaknya. (*)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment