Pluralisme dalam Kacamata Masyarakat Adat: Tunggal Ika Bhineka

Pluralisme dalam Kacamata Masyarakat Adat: Tunggal Ika Bhineka

Bhineka Tunggal Ika sebagai slogan yang dipakai di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, kalau saya, mau jujur sebenarnya mengandung makna berbahaya bagi keberagaman. Bahayanya terletak kepada nafas, atau konsepsi berpikir dari slogan ini: “Bhineka Tunggal Ika”. Jadi, menurut slogan ini, berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam pandangan saya, seharusnya “Satu tetapi tetap berbeda-beda” akan lebih membantu saya sebagai anggota Masyarakat Adat Papua untuk menerimanya. Karena slogan NKRI ini menunjukkan kepada saya, sebagai bangsa Papua, ras Melanesia, bahwa pada ujung-ujungnya, saya sedang digiring, untuk menjadi satu, karena ada penekanan “tetap satu”, pada akhir dari “berbeda-beda tetapi…” itu.

Sedangkan bilamana saya katakan “Satu tetapi tetap berbeda-beda”, maka penekanan saya dalam alam berpikir atau konsep pemikiran, rasa dalam pemikiran saya ada pada “tetap berbeda-beda”, bukan terhadap “tetap satu”.

Dengan dua “rasa” dalam pemikiran, yang dalam istilah umum disebut konsepsi berpikir ini, saya berusaha memahami berbagai wacana yang berkembang di Indonesia, wacana yang berkembang di luar Indonesia, dan apa yang ada di dalam Masyarakat Adat, di mana dalam Masyarakat Adat perbedaan itu sangat dipelihara, dilestarikan dan diberi ruang untuk menjadi berbeda. Sedangkan dalam masyarakat modern, terutama di Indonesia, perbedaan-perbedaan itu pura-pura dianggap berbeda, tetapi sebenarnya diusahakan untuk menjadi satu, karena berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dalam wacana masyarakat modern, dan

Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi.[https://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme]

Ada toleransi, ada ko-eksistensi dan ada asimilasi. Bahaya bagi Masyarakat Adat dan bahaya yang dilihat dalam kaitannya dengan slogan “Bhineka Tunggal Ika” ialah asimilasi, yang secara umum dikenal sebagai hasil dari rekayasa sosial (social-engineering). Di Tanah Papua sudah lama terjadi “social-engineering”, baik terstruktur dan masif dilakukan oleh negara. Sejak terjadi aneksasi Tanah Papua oleh Indonesia, bahkan sebelum itu, telah terjadi pendropan pasukan, dan transmigran secara besar-besaran sebagai wujud “mobilisasi umum” yang diumumkan Soekarno di Alun-Alun Utara, Yogyakarta, tanggal 19 Desember 1961, yang kita kenal dengan nama Tiga Komando Rakyat (Trikora). Komando ketiga mengatakan “bersiaplah untuk mobilisasi umum”, dan persiapapun itu diwujuydkan tepat tanggal 1 Januari 1962.

Setelah itu dikuncurkan banyak sekali program perpindahan penduduk dari pulau Jawa dan Bali, ke pulau-pulau luar, terutama ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Tanah Papua. Akibatnya mayoritas penduduk yang ada di Tanah Papua hari ini adalah orang-orang ras Melayu, non-Papua. Slogan Bhineka Tunggal Ika terus dikumandangkan dalam berbagai upacara, dan terus diajarkan di sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah. Pada waktu yang sama, program “social engineering” jalan terus,

Hal ini tidak hanya terjadi di Tanah Papua, tetap[i di semua wilayah NKRI.

Akibat daripada itu, saat ini, bukan lagi orang-orang non-pribumi di pulau-pulau di Indonesia menerima kaum transmigran sebagai sesama bangsa, setanah-air, Indonesia. Mereka masih disebut pendatang di pulau-pulau di mana mereka dikirimkan. Memang para transmigran merasa mereka tidak dapat pulang ke Jawa – Bali lagi, tetapi di sisi lain para penduduk pribumi di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan New Guinea masih melihat mereka sebagai pendatang.

Lalu kita bertanya mengapa kok selama ini kelihatannya rukun-rukun saja?

Saya harus berterus-terang, bahwa kerukunan dan kebersamaan yang selama ini dikleim ada di Indonesia, saya sebut sebagai “seolah-olah diadakan” bukan kenyataannya ada. Kehadiran aparat pemerintah: sipil, militer dan kepolisian membuat, memoles, menampilkan seolah-olah kerukunan itu ada, seolah-olah toleransi itu ada. Akan tetapi, saya harus jujur, jauh di dalam lubuh hati para penduduk pribumi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan New Guinea, masih “menolak” kehadiran para penduduk dari Jawa – Bali. Sampai hari ini, mereka masih dijuluki “pendatang”.

Saya baru bicara sebatas pluralisme secara ras dan asal-usul, saya tidak mau menyentuh ke dalam pluralisme agama, karena saya takut disebut “menista agama”. Cukup ada para tokoh agama di Indonesia menyebut agama yang saya anut sebagai “kafir”, itu sudah cukup jelas buat saya. Saya tidak perlu mengata-ngatai, toh saya tidak diberi hak oleh Tuhan saya untuk membalas. Dia sudah katakan dengan jelas, bahwa Dia akan membalas pada “hari pembalasan”.

Toleransi beragama di Indonesia saat ini memang berat sebelah, di mana satu agama dibebaskan bermanufer mengata-ngatai agama lain semau dia, sedangkan agama lain dikekang sedemikian rupa sehingga tidak dapat berkata apa-apa.

***

Pluralisme dalam Masyarakat Adat ialah pluralisme yang membedakan, bukan pluralisme yang menyamakan seperti dianut dalam masyarakat modern yang ada di dunia barat ataupun timur hari ini. Pluralisme dalam masyarakat adat dapat kita lihat eksis di pulau Jawa. Misalnya orang Jogja akan merasa diri tunduk dan taat kepada Kerajaan Islam Mataram yang ada hari ini. Mereka akan lebih setia dan membela lebih mati-matian ke-istimewa-an DIY karena mereka punya raja Jawa. Orang Sunda juga memiliki identifikasi diri dengan ciri dan organisasi sosial mereka. Apalagi orang Papua, juga sama dengan itu. Ini pluralisme yang membedakan.

Pluralisme yang menyama-ratakan ialah pluralisme Bhineka Tunggal Ika, yang mencap semua yang berbeda itu harus diamakan: satu bahasa, satu bangsa, satu negara. Seharusnya satu negara, berbagai bangsa, berbagai bahasa. Akibatnya, banyak bahasa Papua sudah punah hari ini, dan dalam 100 tahun ke depan ras Melanesia akan lenyap dari Tanah Papua. Ini bukan ramalan dukun, tetapi sebuah prediksi rasional.

Pluralisme di Indonesia ialah pluralisme yang menekan perbedaan, mengeliminasi perbedaan, dan memaksakan kesamaan, karena “tetap satu” menjadi penekanannya. Konsep berpikir Masyarakat Pribumi sedunia ialah kita satu: sebagai umat manusia, sebagai penghuni planet Bumi, sebagai umat beragama, sebagai orang suku ini dan itu, tetapi tetap berbeda, berbeda atas dasar ras, suku, agama, asal-usul pulau, bahasa.

Bhineka Tunggal Ika atau Tunggal Ika Bhineka, pluralisme modern atau pluralisme masyarakat pribumi? Yang lebih lama di Bumi ini siapa: masyarakat modern atau masyarakat adat/ pribumi? Siapa yang tahu hidup di bumi ini lebih lama?

NKRI menganut pluralisme yang menuju penyatuan atau pluralisme yang mengakui, menghargai dan melindungi keberagaman?

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment