Terkait ULMWP, Polisi Periksa Bonny Mulait Dan Engel Sorabut

Bonny Mulait bersama Engel Sorabut ketika diwawancarai wartawan di Honai adat-Jubi/Islami
Bonny Mulait bersama Engel Sorabut ketika diwawancarai wartawan di Honai adat-Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Sudah tiga orang yang diperiksa Polres Jayawijaya terkait peresmian Kantor United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) pada 15 Februari 2016 di Wamena. Saat yang bersamaan juga dilakukan peresmian Kantor Dewan Adat wilayah Balim Lapago. Ketiga orang yang diperiksa sebagai saksi ialah Bonny Mulait selaku Ketua Panitia Peresmian Kantor Dewan Adat Wilayah Lapago, Engel Sorabut dan Pieter Wanimbo.

Jika Pieter Wanimbo dipanggil pihak polres Jayawijaya untuk pemeriksaan pada Sabtu (20/2/2016), khusus Boni Mulait dan Engel Sorabut pemeriksaan dilakukan, Rabu (24/2/2016) di Polres Jayawijaya.

Bonny Mulait selaku ketua panitia peresmian honai dewan adat wilayah Balim Lapago kepada wartawan di honai dewan adat, Rabu (24/2/2016) menjelaskan, panggilan pertama dilakukan pada akhir pekan lalu, karena belum berkoordinasi dengan tim kuasa hukum, sehingga dirinya bersama Engel Sorabut membuat surat untuk penundaan pemeriksaan.

“Sehingga hari ini saya dan Pak Engel Sorabut baru menghadap dan kita diperiksa sebagai saksi. Dalam pemeriksaan, ada beberapa pertanyaan yang disampaikan ke saya ada 23 pertanyaan terkait dengan ULMWP,” kata Boni Mulait.

Dia menjelaskan, polisi menanyakan seputaran kegiatan peresmian kantor ULMWP baik itu mengenai pembuatan kantor dewan adat sendiri dan juga kantor ULMWP.
“Saya jelaskan pembangunan kantor dewan adat itu dilaksanakan secara swadaya masyarakat dari tiga dewan adat daerah yaitu Yali, Hubula dan Lani. Sehingga dalam lima enam bulan 14 hari telah dirampungkan dan disepakati bahwa peresmian akan kita laksanakan pada 15 Februari 2016,” katanya.

Dia mengakui kalau, polisi juga menanyakan tentang surat undangan yang dikeluarkan dari ketua panitia adalah pembangunan kantor dewan adat itu sendiri, tentang susunan acara peresmian kantor.

“Saya jawab susunan pertama doa, pembacaan pertanggungjawaban ketua panitia, ketiga pemasangan papan nama kantor dewan adat dan kantor ULMWP, di mana secara langsung diresmikan oleh Edison Waromi saya jawab demikian,” ucap Bonny Mulait.

Ada pula pertanyaan tentang undangan yang hadir siapa-siapa saja. “Lalu saya bilang yang hadir adalah ketua-ketua dewan adat dan sub suku yang hadir di tempat kegiatan. Intinya ada 23 pertanyaan dan kami semuanya menjawab, pemeriksaan dimulai dari jam 11.55 siang sampai jam tiga sore di ruangan Reskirm Polres Jayawijaya dan pemeriksaan tidak ada paksaan,” katanya.

Hal senada dikatakan Engel Sorabut, pertanyaan yang dilontarkan kepadanya seperti hadir dalam kegiatan itu karena apa, peran sebagai apa, diundang dalam kapasitas sebagai apa, kemudian tahu bahwa selain kantor dewan adat kantor apa lagi.

Ada pula pertanyaan yang ditujukan ULMWP itu apa, kemudian yang hadir siapa-siapa. “Saya sampaikan bahwa yang hadir itu masyarakat, pengurus dewan adat kemudian selain dari Lapago yang dari luar siapa kemudian saya sebutkan Pak Markus Haluk dan Edison Waromi,” katanya.

Lalu acaranya bagaimana pun menjadi pertanyaan pihak kepolisian, juga soal pengurus ULMWP di Wamena siapa-siapa saja. Bahkan, pertanyaan kunci polisi kenapa ada ULMWP di Melanesian Spearhead Group (MSG).

“Saya jelaskan bahwa ULMWP ada di MSG itu bahwa Indonesia juga sama-sama diterima sebagai anggota di MSG. Ada sejumlah pertanyaan saya jawab semua yang saya tidak tahu saya jawab tidak tahu,” tegas Engel Sorabut.

Sementara itu Anum Siregar yang mendampingi keduanya dalam pemeriksaan menjelaskan, dalam kasus dan pemeriksaan ini semua saksi akan di damping sekitar 15 pengacara, dimana untuk dua saksi pertama yang diperiksa didampingi empat pengacara.

“Kita ini dari koalisi LSM, ada ALDP, LBH dan lainya. Kita akan memperbaiki terus tim, tetapi ini emergency tetapi bapak-bapak ini dipanggil setelah surat panggilan kedua, panggilan pertama sudah komunikasi ke kami terus karena mereka minta kami damping jadi mereka memberi surat ke polres tetapi harus didampingi pengacara,” kata Anum.

“Pengacara yang damping sata ini empat orang Welis Doga dari Wamena, Suhut Maduryanto, SH dari LBH, Yulius Lalaar, SH dari LBH dan saya sendiri. Kita akan lihat perkembangan apakah ketiga orang ini akan diperiksa lagi kita belum tahu,” tambah Anum. (Islami)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment