Situs Sahabat Alam Papua Telah Diluncurkan per 13 September 2016

Situs Sahabat Alam Papua Telah Diluncurkan per 13 September 2016
Melanesia, Polinesia, Mikronesia
Melanesia, Polinesia, Mikronesia

Yayasan Sahabat Alam Papua, disingkat SAPA atau Salam Papua hadir di tengah-tengah Masyarakat Adat Papua dengan tujuan utama “mengidentifikasi, melindungi dan mempromosikan hukum alam, yang merupakan urat nadi dari hukum adat”.

Menurut perintiis dan pendiri Salam Papua (SAPA), Jhon Yonathan Kwano bersama Ketua SAPA Joseph Baweng, bahwa SAPA hadir dalam rangka “membahasakan fenomena alam” kepada manusia, dalam bahasa manusia sehngga manusia dapat memahami dan menanggapi pesan-pesan yang disampaikan lewat bahasa yang manusia.

Menurut Kwano,

Ada tiga hal pokok di sini, pertama alam itu sesuatu yang organik, dia hidup dan dia berinteraksi dengan sesama makhluk lewat bahasanya. Kedua, bahasa alam itu terwujud dalam hukum-hukumnya. Jadi dengan mengerti hukum-hukum alam, maka kita dapat memahami bahasa alam. Bahasa Alam tidak dapat diterjemahkan, dia universal, semua orang pasti bisa mengerti apa yang dikatakannya.

Yang kedua, diantara semua kelompok manusia yang ada sepanjang sejarah manusia, kelompok manusia yang paling mahir dalam berkomunikasi dalam bahasa alam ialah Masyarakat Adat. Oleh karena itu, kita juga mendalami hukum-hukum adat, karena hukum-hukum adat pada hakikatnya merupakan pemahaman manusia terhadap hukum alam, dalam rangka interaksi dengan alam sekitar di mana masyarakat berada.

Ketiga, bahwa manusia dan alam bukanlah dua, tetapi sebuah kesatuan. Kita sudah salah besar kalau memisahkan manusia. Karena dampaknya sangat besar. Alam sekitar kita anggap sebagai obyek yang dapat dikelola semau manusia. Kita sebut alam dengan istilah “sumber daya alam”. Ini kesalahan fatal manusia sepanjang sejarahnya.

Selanjutnya dikatakan Joseph Baweng bahwa kesalahan-kesalahan fatal ini harus diperbaiki, dan yang harus memperbaikinya bukan orang-orang modern, karena mereka sudah salah jalan, dan kita semua sudah salah terjerumus ke dalam alam pikiran mereka.

Ketua SAPA, Baweng mengatakan,

SAPA bukan LSM atau ORNOP yang biasa. Pertama karena ini LSM didirikan oleh Masyarakat Pecinta Alam, yang tahu bahasa alam, yang memahami hukum alam. Jadi, kita tidak bicara tenatng hukum positiv. Kita jauhkan itu. Kita bicara tentang hukum alam, yang selalu berhubungan dengan hukum adat. Itu dudlu.

Oleh karena itu pekerjaan SAPA bukan mondar-mandir  cari dokumen dan mencari kesalahan manusia, pemerintah dan mengkritik keras-keras atas kebijakan pembangunan di Tanah Papua. Itu cara kerja LSM non-Papua. LSM Papua seharusnya berpikir secara Melanesia, secara Masyarakat Adat, mencirikan filsafat lokal, sikap lokal, suasana lokal, menghadapi fenomean modernisasi.

SAPA akan bergandeng-tangan secara erat, mulai dari awal sampai akhir, dengan pemerintah daerah di Provinsi sampai ke Kampung. Kami hadir untuk memfasilitas komuniikasi multi-arah, antara manusia dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan yang ada di Tanah Papua.

Hasil dari interaksi itu kami harapkan menghasilkan aturan-aturan pemerintah yang bersahabat dengan kepentingan makhluk manusia, makhluk roh, benda alam, flora, dan fauna di atas dan did alam Tanah Papua.

Dengan ini diharapkan agar Salam Papua (SAPA) membawa angin segar kepada segala makhluk di Tanah Papua, bahwa hak mereka, kemauan mereka, suara mereka kini mendapatkan saluran untuk disampaikan kepada manusia, khususnya kepada Orang Asli Papua dan kepada pemerintah daerah di Tanah Papua.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment