Save Our Soul, tema peringatan hari HAM sedunia di Papua

Peneas Lokbere (kiri) bersama Direktur AlDP, Anum Siregar dalam suatu kesempatan – Jubi/Abeth You
Peneas Lokbere (kiri) bersama Direktur AlDP, Anum Siregar dalam suatu kesempatan – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Tanggal 10 Desember 2016 yang merupakan hari HAM sedunia menjadi momen bersama untuk menyuarakan hak-hak rakyat Papua dan menuntut penegakan keadilan dan kebenaran dengan mengangkat tema Save Our Soul (Selamatkan Jiwa Kita).

Ketua Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) Papua, Peneas Lokbere mengatakan, pihaknya akan menggelar peringatan hari HAM tersebut dengan dua acara dalam dua hari di dua tempat yang berbeda

“Yang pertama tanggal 8 Desember kami lakukan panggung budaya dan kampanye HAM di Museum Uncen Abepura dan tanggal 10 desember aksi damai ke DPR Papua,” jelas Peneas Lokbere kepada Jubi di Jayapura, Selasa, (6/12/2016).

Menurut dia, kegiatan ini dikerjakan oleh lembaga-lembaga NGO, gereja, OKP dan organisasi pergerakan mahasiswa dan pemuda sebagai ajang kampanye, mempromosikan dan memberikan pengetahuan mengenai HAM bagi masyarakat umum.

“Juga sebagai momen evaluasi masyarakat sipil terhadap kewajiban dan tanggungjawab pemerintah yang gagal terhadap rakyat Papua dalam penghormatan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM di Papua,” ungkap Lokbere.

Dikatakan, rangkaian kegiatan itu juga merupakan momen advokasi bersama masyarakat sipil dan momen refleksi, konsolidasi dan apresiasi masyarakat sipil.

“Jadi, hasil yang kami harapkan adalah adanya perhatian dari Negara dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Papua,” katanya.

Ia juga berharap ada kesadaran massif dan dukungan solidaritas dari masyarakat sipil di Papua, Indonesia dan Internasional tentang masalah pelanggaran HAM. Berikut dukungan kemanusiaan terhadap penentuan nasib sendiri terhadap perjuangan rakyat bangsa Papua ini.

Terpisah, berkaitan dengan peringatan hari HAM sedunia, Forum Independen Mahasiswa (FIM) Papua mengakui, perilaku politik Indonesia tidak mau mengakui kesalahannya tetapi selalu dan setiap saat mencari kesalahan orang lain, mengkambing hitamkan pihak lain sebagai pemicu dan penopang perjuangan, pembebasan Papua Barat.

“Potensi perampasan sumber daya alam , penguasaan tanah, kekerasan dan pelanggaran Ham, marginalisasi dan lain-lain semakin terbuka. Perlu melakukan konsolidasi bersama untuk berkampanye memperjuangkan keselamatan manusia Papua dari kepunahan dan hak-haknya,” ujar aktivis FIM, Melianus Duwitau. (*)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment