Petani Kopi Papua Berbasis Masyarakat Adat Papua

Koperasi Serba Usaha (KSU) Baliem Arabica berinvestasi ke Masyarakat Adat Papua, karena Koperasi mengandalkan masyarakat adat sebagai mitra bisnis. Pendekatan investasi yang dilakukan oleh KSU Baliem Arabica tidak sama dengan pendekatan yang dilakukan pada umumnya. Secara konvensional begitu sebuah perusahaan masuk, Masyarakat Adat dijadikan sebagai pihak penonton, sehingga mereka dilobi untuk menyerahkan tanah, tidak mengganggu perusahaan, diberikan kompensasi, serta disuruh menandatangani Surat Pelepasan Tanah Adat dan setelah itu aparat keamanan TNI dan Polri dikerahkan untuk menjaga agar Masyarakat Adat tidak melanggar perjanjian yang dibuat dan tidak mengganggu operasi perusahaan.

Ketua KSU Baliem Arabica, Ev. Selion Karoba, S.Th. menyatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Temu Investor di Tanah Papua yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Papua di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Dilaporkan kepada jaringan Jurnal Bisnis Papua bahwa pendekatan investasi yang dilakukan oleh para perusahaan besar-besar di Tanah Papua maupun di seluruh dunia selama ini sangat merugikan Masyarakat Adat, karena selama ini Masyarakat Adat dilihat sebagai “penghambat” atau “masalah” dalam kegiatan-kegiatan pembangunan. Padahal Masyarakat Adat adalah manusia, mereka berbicara dari perspektif mereka sebagai penghuni Bumi dan Tanah yang hendak dikelola oleh perushaan.

Pendekatan KSU Baliem Arabica ialah menempatkan Masyarakat Adat sebagai mitra, menjadikan mereka sebagai pilar utama dalam menjalankan bisnis Kopi di Tanah Papua. KSU Baliem Arabica didirikan beranggotakan setarus persen Masyarakat Adat. Struktur organisasi Koperasi juga mengadopsi tatanan kepemimpinan dan struktur sosial yang ada di dalam Masyarakat Adat. Koperasi tidak merombak bangunan sosial yang ada, tetapi memperkuat dan menggunakan bangunan sosial itu untuk kepentingan pengembangan kopi di Tanah Papua.

Setelah pendiriannya, maka KSU Baliem Arabica menyelenggarakan rapat-rapat setiap hari, karena itu budaya masyarakat setempat, mereka bertemu setiap saat kapan saja mereka bertemu, mereka melakukan rapat-rapat, dengan isu-isu setiap hari. Hasil dari rapat-rapat harian itu kemudian disimpulkan dalam rapat-rapat khusus, dengan memanggil Badan Pengurus dan Pemerintah setempat. Semua rapat-rapat ini kemudian disimpulkan dalam Rapat Umum Anggota Tahunan, yang diselenggarakan sekali dalam setahun.

Ketua Koperasi dalam konteks struktur Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua tidak dilihat sebagai Ketua, tetapi “Ayah” atau “Penanggungjawab” dari Kopi. Dalam bahasa Lani disebut “Kopi Ogoba”, artinya “Ayah dari Kopi”. Dengan panggilan ini, maka konsep pemikiran tentang Kopi dan Koperasi sama sekali berubah, terkontekstualisasi ke dalam budaya Papua. Maka Koperasi tidak dilihat sebagai organisasi yang datang untuk mencari uang di tengah-tengah Masyarakat Adat, tetapi Koperasi menghadirkan “Kopi Ogoba” yang akan mengurus dan mengelola kepentingan-kepentingan Kopi. Yang dikelola ialah Kopi, dan Kopi itu dimiliki oleh para petani.

Konsep pemikiran “Kopi Ogoba” masuk ke dalam makna dan konsepsi “Nagawan” dalam Masyarakat Adat Papua di Pegunungan Tengah. Nagawan menjadi demikian tidak karena dipilih, dan juga dapat tergusur posisinya dengan mudah, seketika bilamana perannya sudah tidak berfungsi lagi. Misalnya Kopi Ogoba tidak bicara tentang Kopi lagi, tidak mengurus Kopi lagi, maka Kopi itu sendiri akan mencari tuannya, akan mencari pelindungnya, dan akan mengangkat Kopi Ogoba-nya sendiri, tidak perlu kita pusing dan putar otak untuk mengutak-atik penepatan yang dilakukan secara alamiah oleh Kopi itu sendiri, karena di sini kita berbicara tentang “Kopi Ogoba”, bukan “Petani Kopi Inogoba” (ayah dari para petani Kopi). Dalam konteks Masyarakat Adat Lani dan Mee secara khusus, Kopi Ogoba mengandung arti dalam dan arti yang banyak.

Orang yang tidak memahami struktur sosial bisnis Kopi Papua yang sudah mengakar ke dalam struktur sosial budaya masyarakat petani Kopi di Tanah Papua akan mengambil langkah keliru kalau beranggapan bahwa pengaturan organisasi dan bisnis Kopi Papua diselenggarakan dengan cara-cara dari luar, pasang-copot, angkat-hentikan, suap-pakai, kong-kaling-kong proyek pemerintah atas nama Koperasi dan sebagainya. Kopi Ogoba bertanggung-jawab bukan kepada Petani Kopi saja, tetapi kepada Kopi itu sendiri, dan Kopi ialah sebuah tumbuhan, dan tumbuhan itu dia punya kerabat, saudara, dan semua akan terpengaruh oleh tindakan dan perilaku sang Kopi Ogoba. Kopi Ogoba bertanggungjawab secara moral, dan secara sosial-budaya, bukan hanya secara administrasi bisnis.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment