Pemkab Jayapura Berharap Potensi Alam Besar di Sentani Dikelola Swasta

Selasa 21 Jun 2016, 04:31 WIB, Elza Astari Retaduari – detikNews

Jayapura – Kabupaten Jayapura, Papua, memiliki kekayaan alam yang besar dan sangat berpotensi menjadi destinasi wisata populer. Pemkab Jayapura pun berharap ada pihak swasta yang mau membantu mengelolanya agar bisa menjadi kawasan wisata terpadu.

Salah satu kekayaan alam yang cukup terkenal di Kabupaten Jayapura adalah Danau Sentani. Di sekitar danau tersebut juga banyak terdapat kekayaan alam lain, baik yang sudah dikenal, maupun yang belum terekspos ke publik.

Pegunungan Cyclops/Elza Astari/detikcom

Sebut saja Danau Cinta atau Love Lake, bukit Mc Arthur, lalu jajaran pegunungan Cyclop yang masuk sebagai cagar budaya. Belum lagi sejumlah pantai yang berada di kaki pegunungan Cyclop seperti Pantai Harlem, pantai di daerah Doromena dan lainnya. Tentu saja keindahannya sangat memukau.

Belum lagi banyaknya perbukitan di Jayapura yang memiliki keindahan alam luar biasa. Bahkan saat ini ada sebuah komunitas olahraga paralayang yang sedang memetakan spot-spot perbukitan di Jayapura yang bisa dijadikan lokasi wisata untuk olahraga dirgantara itu.

Olahraga paralayang yang mulai eksis di perbukitan Sentani/Elza Astari/detikcom

Itu baru pada sisi alam. Sebab unsur sosial budaya warga setempat juga punya nilai jual pariwisata yang tinggi. Baik dari adat, unsur kehidupan, dan produk ekonomi kreatif warga Papua yang selalu menarik minat wisatawan. Salah satunya adalah lukisan dengan media kuli kayu asal Desa Asei, Sentani.

Setidaknya ada 24 kampung terapung di Danau Sentani dengan beragam budaya dari tiap-tiap warga adat mereka. Kampung-kampung tersebut berpotensi menjadi desa wisata, termasuk desa-desa lainnya di Kabupaten Jayapura.

“Alam dan budaya menjadi modal kami, wisatawan bisa lihat pantai terus keliling danau, lalu ke pesisir laut dan juga ke gunung,” ujar Bupati Jayapura Mathius Awaoitauw di Kawasan wisata Khalkhote, Sentani Timur, Senin (20/6/2016).

Sebenarnya pemerintah sudah berusaha mempromosikan dan memfasilitasi penduduk lokal dengan Festival Danau Sentani (FDS) yang sudah berjalan sembilan kali. FDS 2016 saat ini tengah berlangsung hingga 23 Juni mendatang.

Meski FDS sudah masuk agenda nasional Kementerian Pariwisata melalui program Pesona Indonesia, penyelenggaranya masih terkesan lokal. Usaha-usaha terus dilakukan namun belum optimal.

Danau Sentani dilihat dari sebuah bukit/Elza Astari/detikcom

“Promosi sudah kita lakukan dan teman-teman dari Kementerian Pariwisata juga sudah bantu promosi. Tapi ini (FDS) hanya sarana promosi saja untuk perkenalkan kearifan lokal dan hasil produksi kreativitas masyarakat. Agar bisa beri pemasukan bagi warga langsung,” tuturnya.

“Kita berharap event-event seperti ini dikelola swasta, kalau pemerintah seperti panitia halal bi halal saja. Kalau swasta yang kelola mereka manage untuk bisnis. Kita berharap lebih cepat lebih bagus. Kalau ada yang mau kelola silakan,” ucap Mathius.

Harapan tersebut juga bukan hanya untuk FDS semata, tapi juga pengelolaan terhadap kawasan di Jayapura. Khususnya di daerah Sentani. Mathius yakin potensi alam dan budaya di Jayapura mampu menjadikan Sentani sebagai destinasi wisata di Indonesia Timur.

“Kami berharap kalau ada yang mau bantu kelola, bagaimana konsep dan manajemennya. Karena ini sangat menjanjikan, dan tidak terlalu sulit. Kawasan wisata menyatu. Ada danau, ke laut, cyclop, gugusan gunung. Dekat dengan bandara internasional,” kata Mathius.

Selama ini menurutnya sudah ada sejumlah pihak swasta yang mau mencoba masuk. Namun terkendala karena masalah lahan. Untuk itu, tahun ini Pemda Jayapura sudah mulai melakukan pembebasan agar lebih mempermudah proses manajemen kawasan wisata terpadu.

“Kita bebaskan lahan, supaya di sini bisa dikelola dan ditata dengan profesional oleh swasta. Selama ini banyak swasta mau masuk, tapi selama ini kita sewa terus lahannya. Kita tahun ini festival habis biaya Rp 3 M, tapi itu pasti balik. Tahun lalu keuntungan sampai Rp 12 M,” terang dia.

Terlepas dari itu, pengelolaan secara profesional juga diharapkan dapat membawa kemajuan bagi warga setempat. Pasalnya selama ini tidak banyak hiburan di Jayapura. Tak heran jika ada acara-acara besar seperti FDS, warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan.

“Kita di sini sangat langka sarana hiburan. Ini juga jadi satu sarana hiburan masyarakat. Tapi intinya agar masyarakat dapat meneerima pemasukan dari produk-produknya. Juga trasnportasi dari kapal, banyak nanti yang akan naik keliling Sentani,” jelas Mathius.

“Maka kami berharap bapak gubernur, menteri terkait, DPRD provinsi, majelis rakyat Papua mau melihat ini. Kita harap pengelolaan jadi gerakan bersama. Karena kita punya kawasan terlindungi dari upaya pembangunan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Mathius meminta agar pemerintah pusat juga mau membantu Sentani agar menjadi kawasan wisata nasional. Sama halnya dengan Danau Toba yang ada di Sumatera.

“Kami harap Danau Sentani juga bisa mendapat perhatian serius setelah Danau Toba yang lima kementerian bekerja dengan serius di situ dan alokasi dana Rp 21 T,” sebut Mathius.

Danau Sentani yang tak kalah indah dari Danau Toba/Elza Astari/detikcom

Wagub Papua Klemen Tinal yang datang pada pembukaan FDS ke IX menyatakan apresiasi Pemprov. Menurutnya, FDS punya potensi yang sangat besar untuk menarik wisatawan dan mengangkat kejayaan Papua.

“Kami menilai FDS trennya perlahan tapi pasti selalu naik. Kami yakin FDS akan tetap eksis dan memberi pengaruh dari dunia pariwisata untuk kita semua di Papua. FDS strategis dan penting karena Kota dan kabupaten Jayapura ini wajahnya Provinsi Papua. Begitu kayanya Papua,” ujar Klemen di lokasi yang sama.

Sejumlah pihak swasta sebenarnya sudah menjadi sponsor FDS, salah satunya adalah PT Freeport Indonesia. Meski beroperasi di Kabupaten Mimika, sejak awal Freeport mendukung terselenggaranya FDS. Bahkan pada FDS kali ini, Freeport mengajak perwakilan Suku Kamoro untuk memeriahkan festival.

Suku Kamoro merupakan salah satu suku yang ada di bagian Papua sebelah selatan, tepatnya di Mimika. Kamoro juga merupakan salah satu suku binaan Freeport selama ini. Suku yang tinggal di dekat tambang Freeport memiliki kelebihan di bidang seni. Tepatnya pada tarian dan ukirannya yang tak kalah dengan suku Asmat.

Saat ditanya apakah Freeport tertarik untuk mengelola FDS atau kawasan wisata terpadu di Sentani, Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia Riza Pratama belum bisa berkomentar banyak. Namun menurutnya, untuk saat ini Freeport masih memilih untuk menjadi salah satu sponsor pada penyelenggaraan FDS. Memberi dukungan sebagai kontribusi bagi warga Papua.

“Kami siap dukung Pemkab Jayapura, tapi kami kan perusahan tambang dan tidak bergerak di bidang itu (pariwisata). Tapi kegiatan seperti ini mendorong keterikatan kami dengan masyarakat Papua terutama di warga-warga dekat tambang karena kita sudah beroperasi hampir 50 tahun,” kata Riza yang hadir di FDS.

Freeport memang memiliki concern yang cukup tinggi pada bidang sosial budaya warga Papua. Berbagai kegiatan telah dilakukan bagi suku-suku yang ada di sekitar tambang mereka. Termasuk untuk beberapa kegiatan di luar Mimika.

“Kami membawa teman-teman dari Kamoro, semoga dapat memberi warna bagi keberagaman di Papua. Semoga ke depan kami tetap bisa beroperasi di Papua sehingga kami tetap bisa berkontribusi bagi masyarakat Papua,” ungkapnya.

Harapan ternyata juga dirasakan oleh warga Jayapura. Seperti Parli, seorang pendatang yang telah belasan tahun hidup di Papua. Berbagai sumber hiburan dianggapnya dapat menjadi faktor penting bagi warga setempat, khususnya penduduk asli.

“Orang sini memang kurang hiburan, makanya kalau ada acara kayak gini (FDS) ramai. Bagus kalau ada dibuat tempat-tempat wisata dan hiburan. Penduduk juga bisa jual-jual noken, anyaman,” ujar Parli mengakhiri.
(elz/bag)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment