Pemerintah Harus Bangun Rumah yang Kuat & Murah Bagi Rakyat Papua

JAYAPURA – BintangPapua.com – Staf Khusus Presiden Jokowi, Lenis Kogoya, mengatakan, di Provinsi Papua dan Papua Barat harus ada rumah percontohan yang murah, tetapi kuat bertahan lama dalam puluhan tahun.

Untuk itu, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan kementrian Pekerjaan Umum yang akan merealisasikan 700 rumah di masing-masing kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat (dan akan ada penambahan di Tahun 2017).

Sebab itu, dirinya mengajak Pemprov Papua dan Papua Barat untuk serius dalam membangun rumah layak huni bagi warga di Tanah Papua, khususnya di wilayah pedalaman Papua dan juga rumah bagi para PNS di kedua provinsi ini.

Atas hal itu, Pemerintah China pernah mengundang Presiden Jokowi melalui dirinya selaku Staf Khusus Presiden. Dengan undangan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Kementrian PU, Kementrian Perindustrian dan Perdagangan untuk melakukan pertemuan di China, yang berbarengan dengan itu juga dilakukan kesepakatan bersama antara pengusaha China dan pengusaha asal Papua perihal kerjasama dibidang konstruksi.

Hasil pertemuan dengan Pemerintah China itu, dilaporkan kepada Presiden Jokowi melalui dirinya, yang salah satu hasil pertemuan itu adalah pembangunan rumah. Akhirnya dirinya mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar dalam pembangunan rumah itu juga direalisasikan rumah percontohan bagi rakyat di Tanah Papua, yang sesuai dengan adat istiadat dan budaya Papua.

Contohnya budaya di Pegunungan adalah hidup berkelompok, sehingga selain membangun rumah yang dalam satu areal, juga harus dilengkapi dengan rumah ibadah, fasilitas air bersih, penerangan listrik, balai kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas koperasi, dan jalur jalan kampung yang menghubungkan jalan raya utama, juga ada rumah adat, dan pos keamanan untuk memberikan rasa aman bagi warga. Disamping itu juga dibangun fasilitas perbankan untuk membudayakan rakyat Papua gemar menabung, karena selama ini kebiasaan masyarakat bahwa begitu mendapatkan uang langsung dihabiskan karena tidak ada bank untuk menyimpan uangnya.

Dari usul tersebut, telah disepakati bahwa Kementrian PU tugasnya membangun rumah warga, Kementrian Pendidikan membangun sarana dan prasana pendidikan, Kementrian Kesehatan membangun fasilitas kesehatan, dan Kementrian Perindagkop membangun fasilitas pelatihan dan kesejahteraan beserta bantuan pendukungnya.

Untuk program perumahan rakyat dan usaha pemberdayaan masyarakat, dirinya memfasilitasi agar Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat juga memprogramkan hal yang sama dengan bekerjasama dengan investor dari China yang menawarkan pembangunan rumah yang murah harganya, rumah yang kuat, karena tahan gempa, dan anti kebakaran karena terbuat dari baja ringan.

Rumah percontohan tersebut, nampaknya disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya dan Pemerintah Puncak Jaya, yang mana telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan investor dari China yakni PT. Bao LIan Industri Konstruksi Indonesia yang menggandeng pengusaha asli Papua yaitu PT. Papua Konchy Ekspres. Sedangkan untuk Papua Barat, Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrauw telah menyanggupi untuk bekerjasama membangun rumah percontohan itu.

Disini Pemerintah Lanny Jaya telah menyanggupi untuk PT. Bao LIan Industri Konstruksi Indonesia bersama Papua yaitu PT. Papua Konchy Ekspres untuk membangun 700 unit rumah, sementara Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya juga sudah menyetujui untuk membangun 600 unit rumah. Juga ada tambahan pembangunan rumah dari Pemerintah Pusat.

“Istilahnya transmigrasi lokal pada kawasan itu saja, yang menempati rumah percontohan itu. Mengenai tipe rumahnya itu tergantung pembicaraan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kewajiban saya hanya fasilitas saja,” ungkapnya kepada wartawan di Hotel Horizon Jayapura, Jumat, (1/7).

Menurutnya, untuk membangun Papua yang maju, mandiri dan sejahtera sudah saatnya bekerjasama dengan investor dari luar, hal ini supaya program Presiden Jokowi berupa Nawacita yang sejalan dengan program pemerintah daerah segera terwujud dalam mengangkat derajat kesejahteraan rakyat Papua yang semakin lebih baik lagi.

Khusus untuk program mengajarkan masyarakat menabung dan mampu berwiraswasta, maka melalui bank ini, akan diluncurkan program bank berupa kartu ATM Halo Papua, yang pada kartu Halo Papua ini masyarakat bisa berakses untuk mendapatkan dana bantuan sosial dari Kementrian Sosial yang setiap Kepala Keluarga (KK) mendapatkan bantuan dana Rp 3 juta, bantuan beras yang per keluarga 5 Kg, dan dana pembiayaan ekonomi bagi kelompok usaha, yang mana sudah bekerjasama dengan BNI.

“Ini diarahkan untuk kesejahteraan rakyat di Papua, yang di dahului dengan membangun rumah warga dan rumah adat terlebih dahulu. Rumah yang berkonstruksi baja ringan sudah di bangun di Kelurahan Angkasa, dan itu sangat bagus,” ujarnya.

Untuk pembangunan rumah tersebut, atau pembangunan infrastruktur jalan itu tergantung dari permintaan pemerintah daerah bagi investor untuk dibangun di wilayah mana. Misalnya jika keinginan pemerintah daerah menginginkan rumah dengan tipe sekian di bangun pada wilayah itu, maka dengan sendirinya investor akan mengikutinya, namun itu juga tidak terlepas dari kemampuan pemerintah daerah dalam penganggaran setiap tahun berjalan. Yang dalam pembangunan rumahnya mekanisme anggarannya tergantung kesempatan antara pemerintah daerah setempat dan investor.

“Apakah mau dengan sistem kredit juga boleh, itu tergantung kemampuan pemerintah daerah, asalkan disini rumah warga cepat dibangun dan dinikmati oleh warga. Program Presiden untuk membangun rumah percontohan itu sudah ada,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dirinya percaya bahwa jika pembangunan rumah percontohan ini di Kabupaten Lanny Jaya dan Kabupaten Puncak Jaya berjalan dengan baik sesuai dengan harapan, dipastikan daerah lain akan mengikutinya.

Hanya saja, jika dalam perkembangannya pemerintah daerah keterbatasan anggaran untuk bekerjasam dengan investor, maka disini tinggal bagaimana komunikasi pemerintah dengan pemerintah pusat agar pemerintah pusat membantu dalam pembangunan rumah percontohan ini bagi rakyat di Papua.

“Selama ini kita bicara dana Otsus banyak, dana trilyunan turun ke Papua, tapi untuk kenyataannya belum dinikmati oleh warga dengan baik, maka saatnya diawali dengan membangun rumah percontohan ini. Biaya kemahalan di Pegunungan Tengah itu tinggi, tetapi jika rumah percontohan ini masuk, maka biaya kemahalan itu dapat ditekan karena biaya rumahnya tidak mahal dan pengerjaannya pun cepat, contohnya Tipe 36 butuh waktu 2 minggu sudah selesai dikerjakan,” tandasnya.

Direktur Utama PT. Bao LIan Industri Konstruksi Indonesia, Yao Jiabao, melalui General Manegernya, Chen Weixing, menandaskan, tipe rumah yang dibangun adalah tipe 36, tipe 45, tipe 60 dan tipe 70. Namun mengenai tipe rumah itu tergantung dari permintaan pemerintah daerah setempat. Dan lama pengerjaannya paling cepat dua sampai tiga minggu.

“Rumah yang Kami bangun ini sangat efisiensi dan ramah lingkungan, juga rumah itu anti kebakaran, tahan gempa, dan tidak bocor jika terkena hujan. Karena pengerjaannya cepat, maka dalam tiga tahun saja bisa Kami bangun 10 ribu unit rumah, karena teknologi yang kami gunakan itu dari Jerman. Apalagi Kami bersedia untuk membangun listrik tenaga air,” terangnya.

Dijelaskannya, kedatangan pihaknya itu selain membangun rumah yang bagus bagi warga Papua, tetapi juga untuk mengajarkan ilmu untuk membuka lapangan teknologi baru yang dalam hal ini ahli teknologinya.

Direktur Utama PT. Papua Konchy Ekspres, James Viktor Woisiri, ST, menyampaikan, sejak 18 November 2015, inventor dari China datang menemui dirinya. Mereka ingin berinvestasi tentang rumah baja ringan yang tahan api dan tahan gempa 8 skala licher, yang pembangunan rumahnya membutuhkan waktu 14 hari, yang harga rumahnya paling tinggi di Jayapura Rp 150 juta-Rp 180 juta/unit rumah. harga rumah tersebut sudah termasuk dalam tanah, kemarik ukuran 60 Cm X 60 Cm, air bersih, dan listrik. Sedangkan umur bangunannya 50 tahun.

Pada tahun 2015, PT. Lianda Sindo Developert Development dengan Indonesia Chinese Economi Corporation Cambel membawa investor dari China untuk Join kerjasama dengan pengusaha dari Papua, yang kebetulan dirinya dipercayakan untuk menanganinya. Dan terhitung hingga Kamis, 30 Juni 2016, sudah ada lima perusahaan dari China yang sudah teken kontrak dengan dirinya, salah satu diantaranya PT. Bao LIan Industri Konstruksi Indonesia.

Ditandaskannya, pengusaha Papua bisa saja menjadi developer dan bisa juga menjadi kontruktor. Artinya bahwa dari sisi harga rumah per unit masih lebih murah dari harga rumah yang ditawarkan oleh developer yang ada sekarang ini, sebagai contoh saja rumah yang dibangun di Skyline itu per unitnya hampir mencapi Rp 440 juta untuk tipe 36.

Dengan harga rumah yang besar seperti (harga rumah Rp 440 juta) itu tentunya sampai kapan pun orang Papua tidak akan hidup makmur dengan menikmati rumah yang bagus tetapi murah. Nah hadirnya rumah baja ringan ini sebagai salah satu solusi bagi pemerintah daerah dalam menyediakan rumah yang bagus, kuat dan sehat bagi rakyat Papua.

Gubernur Lukas Enembe menyampaikan bahwa ‘Papua Mandiri dan Sejahtera’ dan gubernur menyebutkan ‘peradaban baru’, lalu kapan peradaban baru itu dialami oleh rakyat Papua. Karena sejak jaman Belanda hingga sekarang ini, bangunan rumah hanya seperti sekarang ini saja.

“Saya 16 tahun mengajar sebagai dosen teknik sipil dan berkecimpung dalam dunia konstruksi, cuma baru ketemu rumah seperti ini yang dibangun 14 hari, dan rumahnya tahan gempa dan anti api. Kami rencanakan masukan 50 sampai 100 perusahaan dari China, sehingga banyak pilihan untuk membangun rumah warga sesuai dengan konstruksi daerah masing-masing di Papua ini,” tukasnya.

Dalam mengerjakan rumah dan mendatangkan investor dari China, dirinya tidak berjalan sendiri namun selalu bersama Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya. Dengan demikian diharapkan para bupati di Tanah Papua untuk bersama-sama membangun Papua, jangan lagi ada sikap bahwa ini milik ku dan itu milik mu. Sikap seperti itu harus dirubah demi kemajuan kesejahteraan rakyat Papua, karena Papua kita semua punya.

Untuk itu, dirinya menawarkan rumah yang murah dan kuat serta tahan lama. Sehingga kalau ada rumah yang murah, kenapa harus cari yang mahal, dan kalau ada rumah yang kuat, kenapa harus cari rumah yang kontruksinya jelek/tidak kuat. Dengan demikian, diharapkan para bupati di Tanah Papua mendukung program rumah murah dan kuat yang sudah dirintis bersama dengan Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya dan investor dari China tersebut. “Untuk konstruksi, kita akui China, sebab tembok China dari dulu hingga sekarang masih kuat,” pungkasnya.(Nls/don)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment