Paus Fransiskus Kecam Teologi Sukses

Penulis: Eben E. Siadari 07:32 WIB | Jumat, 20 Mei 2016

Paus Fransiskus
Paus Fransiskus melambaikan tangan saat tiba di Lapangan St Peter di Vatikan pada hari Rabu, 18 Mei 2016 (Foto: Alessandra Tarantino, AP)

VATIKAN CITY, SATUHARAPAN.COM – Dalam sebuah misa pagi di sebuah kapel di tempat dia bermukim di Vatikan, Paus Fransiskus melontarkan kecaman terhadap pengusaha yang tidak menyediakan perawatan kesehatan terhadap karyawan dan menggambarkannya sebagai lintah penghisap darah.

Ia juga mengecam “teologi kemakmuran” atau lazim juga disebut teologi sukses yang saat ini populer. Ia mengingatkan bahayanya kekayaan.

Mengacu pada bisnis yang mempekerjakan karyawan kontrak paruh waktu sehingga mereka tidak perlu mendapat manfaat kesehatan dan pensiun, Fransiskus pada hari Kamis (19/5) mengatakan itu tak ubahnya dengan mengisap darah dari pembuluh darah pekerja mereka, meninggalkan mereka hanya “makan angin.”

“Mereka yang melakukan itu adalah benar-benar lintah, dan mereka hidup dengan menumpahkan darah orang-orang yang mereka perbudak sebagai karyawan,” kata Paus, sebagaimana diberitakan oleh desertnews.com.

Pengurangan karyawan selama bulan-bulan musim panas untuk menghindari memberikan manfaat kesehatan, adalah fenomena khas di Italia. Namun, Paus mengatakan ini merupakan jenis penganiayaan dan perbudakan pekerja yang terjadi di seluruh dunia.

“Kami berpikir selama ini bahwa budak tidak ada lagi – ternyata masih ada,” kata Paus.

“Benar, orang tidak pergi dan mendapatkan mereka dari Afrika untuk menjual mereka ke AS lagi, tidak ada. Tapi mereka ada di kota-kota kita. Dan ada yang memperdagangkannya, mereka yang menggunakan pekerja tanpa keadilan.”

Kecaman Paus Fransiskus juga ditujukan kepada perdagangan pekerja seks, kepada perusahaan yang tidak memberikan cuti kepada karyawan serta mengecam orang-orang yang mencari keuntungan dengan harga apapun.

“(Mereka) hidup dari darah orang-orang. Dan ini adalah dosa berat. Ini adalah dosa berat. Dan ini menuntut banyak penebusan dosa, banyak restitusi, agar dapat ditebus dari dosa ini,” kata Paus.

Fransiskus juga memfokuskan perhatian pada “teologi kemakmuran,” yang, seperti dijelaskan oleh Paus, menganggap bahwa “Allah menunjukkan bahwa Anda diberkati dengan memberikan Anda kekayaan besar.”

Teologi Kemakmuran atau Teologi Sukses sangat populer di AS, di mana para pengkhotbah umumnya melancarkan teologinya di televisi kabel, dan itu kini telah pula menjadi fenomena umum di Amerika Latin, tempat asal dari Paus berkewarganegaraan Argentina ini. Teologi Sukses juga kini populer di Afrika dan Asia.

Masalahnya, kata Fransiskus, “Anda tidak dapat melayani Tuhan dan kekayaan sekaligus” karena cinta uang menjadi “rantai” yang membuat tidak mungkin untuk mengikuti Yesus.

Fransiskus mendasarkannya pada ayat bacaan hari itu, sebuah bagian yang berapi-api dari Surat Yakobus tentang hukuman terhadap orang kaya yang akan menderita karena telah mengeksploitasi orang miskin.

Arti luas homili Paus ini diringkas dengan gambar sederhana: “Segelas air dalam nama Kristus lebih penting daripada akumulasi semua kekayaan melalui eksploitasi terhadap rakyat.”

Komentar Paus ini melanjutkan tema kepausannya, di mana ia telah mencoba untuk menciptakan sebuah “gereja yang miskin” yang menolak penyembahan berhala uang.

Fransiskus tidak hanya mengkritik sistem keuangan global di masa lalu, tapi berbicara soal keserakahan dan akumulasi kekuasaan oleh pemimpin Katolik sendiri.

Editor : Eben E. Siadari

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment