Pantaskah Budaya Manusia yang Satu Menjadi Obyek Wisata Orang Lain ??

Pertanyaan susulannya ialah “Pada titik mana budaya seseorang menjadi obyek, dan pada titik mana budaya itu menjadi sebuah pelecehan?”

Menurut Pemangku Adat dan Alam Papua kepada Redaksi PAPUA.ws, bahwa

Masyarakat Adat memiliki jatidiri dan hargadiri, yang pernah ada sejak dulu kala, berlama jauh lebih daripada kehadiran modernisasi sebagai peradaban tamu dalam kehidupan manusia. Masyarakat Adat dengan nilai-nilai adatnya bertahan sampai hari ini. Pertanyaan sekarang apakah keberadaan itu untuk dijadikan bahan tontonan, ataukah untuk dihargai dan dipertahankan untuk kemudian dijadikan sebagai modal dalam pengembangan diri ke depan sebagai umat manusia?

Apakah membawa orang asing masuk hanya dalam rangka menonton pertunjukan ritual dan upacara-upacara adat merupakan sebuah kebanggaan? Bukankah ini sebuah tindakan mempermalukan diri sendiri di hadapan sesama manusia?

Manusia dengan peradaban tamu bernama “modernisasi” sekarang ini memandang Masyarakat Adat sebagai ketinggalan zaman, kolot, kampungan, memalukan, dan karena itu harus dirubah. Tetapi di saat yang sama, ritual, pakaian, pesta dan budaya dari Masyarakat Adat itu dijadikan sebagai “obyek untuk ditonton”.

Masih menurut sang Pemangku Adat

Ramai sekali di Tanah ini. Mana ada acara Festival Budaya di Jawa? Mana ada Festival Budaya di Sulawesi? Yang ada Festival Budaya di orang-orang Melanesia saja: NTT, NTB, dan Tanah Papua? Ini ada apa? Ini maksudnya menghina atau meninggikan? Mana orang yang punya budaya Melanesia ini ada di mana? Kenapa menganggap pelecehan ini sebagai pujaan dan disyukuri? Kenapa ukuran uang menjadi utama daripada harga diri?

Trend “Wisata Budaya” dan “Festival Budaya” perlu dicermati oleh kita sekalian, dan kita harus bertanya secara kritis “Apa motifnya dan untungnya bagi si pelancong dan apa faedahnya bagi para pementas?” Untung rugi tentu saja harus dihitung bukan dari segi “uang” saja, bukan “PAD” saja, tetapi dari sisi Budaya Manusia secara utuh, apa dampak sosial, budaya, ekonomi dan politik terhadap kegiatan-kegiatan festival budaya yang marak digalakkan di seluruh Tanah Papua.

Orang Papua yang menyebut dirinya “Dewan Adat”, “Lembaga Adat”, “Majelis” yang mewakili Adat, dan Dewan yang mewakili rakyat yang dijadikan obyek wisata, seharusnya menghargai dirinya sendiri, menjadikan budayanya bukan sebagai bahan tontonan tetapi sebagai bahan kajian bagi para generasi mudah sehingga kita dapat memetik nilai-nilai, norma dan pelajaran dari kehidupan Masyarakat Adat yang akan bermanfaat bagi pembangunan di era modern, dalam proyek modernisasi saat ini.

Masyarakat Adat seharusnya dijadikan sebagai “gudang ilmu”, bukan ilmu pengetahuan tetapi “ilmu kehidupan”, yaitu ilmu tentang nilai kehidupan, wawasan kehidupan, yang selalu dikemas dalam bahasa “berkelanjutan” oleh masyarakat modern. Masyarakat Adat tidak pantas dijadikan sebagai tontonan para pejabat pemerintah, para wisatawan asing, para pengunjung umum, karena pementasan budaya sebagai obyek wisata menjadikan budaya itu sebagai bahan yang tidak para fungsi dan perangnya.

Contoh saja baru bulan Juli berlangsung Festival Budaya Sentani. Isinya apa? Stand Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Sosial, Dinas Kebersihan, dan dinas-dinas semua masuk ke festival ini, lalu Budaya Sentani ada di mana? Saat ini, bulan ini Festival Lembah Baliem sedang berlangsung, memamerkan perang suku di Lembah Baliem. Apa tujuan pameran budaya ini? Siapa yang menganggap festival ini sebagai sebuah hiburan? Apakah perang suku itu hiburan? Apakah filsafat, nilai-nilai dasar dari peperangan yang bertujuan untuk perdamaian diajarkan? Apa kesan yang diperoleh oleh manusia yang hadir terhadap manusia Wamena setelah mereka menyaksikan perang suku ini? Apakah mereka menganggap perang suku salah dan harus ditinggalkan? Apakah mereka menganggap perang suku sebagai bukti zaman batu yang harus ditinggalkan? Apakah koteka sebagai bukti kemiskinan dan kemelaratan?

Dengan semua uraian ini kita sampai kepada jawaban atas judul tulisan ini, “pantaskah?” Dari sisi moral kemanusiaan, sebenarnya menjadikan budaya satu orang sebagai obyek orang lain tidak bermoral. Dari situ saja sudah jelas. Apalagi menjadikannya sebagai obyek untuk mendatangkan keuntungan ekonomi, menimbulkan tafsiran dan pengartian yang melenceng dari makna sebenarnya. Itu bukan saja tidak bermoral, tetapi jelas-jelas menghina diri sendiri, yang secara hukum alam sebenarnya tidak ada makhluk manusia yang akan rela menerimanya begitu saja.

 

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment