Memikirkan Sekolah Alam Papua

Penulis Suara Papua – Juni 14, 2016, Oleh: I Ngurah Suryawan di SuaraPapua.com

Kasih sayang yang hampir-hampir tidak disebut sebagai dasar pendidikan pada semua taraf tidak dipahami sebagai daya positif, daya yang memanusiakan, daya yang memerdekakan. (Silvia Tiwon, Sekolah Memecah Bisu, 2014)

David Womsimor, paitua pendidik yang berdedikasi membangun “Sekolah Papua” di Sorong, Papua Barat mengungkapkan bahwa bangunan sekolah sekarang dengan gedung-gedungnya yang megah mengurung siswa. Siswa tidak bebas untuk belajar mengenal alamnya yang luas dengan berbagai macam jenisnya. Para siswa di Papua seolah-olah terbatas untuk mengenal alamnya dan lebih banyak terkungkung di dalam kelas.

Paitua David Womsiwor yang mengalami pendidikan masa Belanda mengungkapkan bahwa kitong (kita) sebagai orang Papua harus tahu kitong pu (kita punya) alam, ikannya dimana, lautnya bagaimana, hutannya bagaimana dan yang lainnya (dalam Papuan Voices 2014). Oleh sebab itulah, alam dan pendidikan menjadi satu kesatuan dalam totalitas kebudayaan. Alam memberikan pelajaran dan inspirasi dalam usaha komunitas untuk mengkonstruksi (membentuk) kebudayaan.

Alam adalah ruang sekaligus energy bagi anak-anak untuk menumbuhkan imajinasi, dan dengan demikian juga berarti melatih nalar berpikirnya. Anak-anak Papua terlatih untuk menjadikan alam sebagai bagian kehidupan mereka. Pranata adat-adat di Papua melalui pendidikan adat mereka menggunakan alam untuk mendidik generasi penerus mereka. Konstruksi kebudayaan mereka juga adalah hasil relasi manusia dengan alamnya. Oleh karena itulah peranan alam menjadi sangatlah penting untuk membentuk karakter orang Papua. Namun sayangnya dalam model pendidikan Indonesia, imajinasi tentang alam itu berubah menjadi bangunan gedung dan orientasi pendidikan yang sentralistik ke Pulau Jawa.

Introduksi dari zendeling yang meletakkan pondasi pendidikan di Tanah Papua menjadi penting untuk diajukan sebagai perbandingan dengan politik pendidikan yang ditanamkan oleh pemerintah Indonesia. Dalam konteks pendidikan di Tanah Papua, dengan bukti buku pelajaran membaca yang dirancang oleh misionaris, terlihat jelas usaha kreatif untuk menempatkan konteks lokal dalam rancangan pembelajaran membaca di sekolah dasar. Misalkan saja dengan penggunaan alat peraga berupa gambar besar yang mendeskripsikan “Rumah yang di kampung kena api. Ada orang berteriak dan lari. Ada babi yang lari. Ada pula orang yang lari mencari air dan membawa air dan memadamkan api itu sampai api mati” (I.S Kijne, 1951: 5).

Pendidikan Alam dan Kasih Sayang

Pada masing-masing suku di Tanah Papua terkandung filosofi sekaligus pengetahuan lokal yang memberikan pedoman bagi warganya untuk menjalani kehidupan. Dengan memegang teguh filosofi hidup itulah tercipta relasi-relasi antara manusia dengan lingkungannya, sesamanya dan juga dengan Tuhan mereka. Seperti misalnya filosofi dari orang Mee yakni dou (melihat), gai (berpikir), ekowai (bertindak), dan ewanai (berjaga- jaga). Berdasarkan filosofi itu, orang-orang Mee menjalani kehidupan berkomunitas dan mencipta kebudayaan. Melalui filosofi ini jugalah masyarakat dapat mempertahankan dirinya sebagai manusia bermartabat dan berakhlak mulia. Filosofi ini menjadi dasar pendidikan anak- anak di kalangan masyarakat Mee. Orang tua mengajarkan seorang anak laki- laki berburu (woda pei), beternak (muniyaa agiyo munii), bercocok tanam (bugi tai), membuat pagar (eda wagii), dst. Seorang ibu mengajarkan anak perempuannya bercocok tanam (bugi tai), menangkap ikai dengan jaring (ebaikaa ikane kei), memasak (noyaa agiyo you), dan pendidikan lainnya. Semua itu dilandasi dengan filosofi orang Mee tersebut. Orang tua mengajarkan pada anak- anaknya dimana orang Mee harusnya melihat, kemudian berpikir terlebih dahulu barulah bertindak. Setelah bertindak itulah orang Mee akan menunggu atau berjaga- jaga hal apa yang akan terjadi. Filosofi tersebut diajarkan kepada anaknya pada setiap kali pemberian tanggung jawab kepada generasi selanjutnya (Agus Tatoto, komunikasi pribadi 6 April 2016).

Contoh di atas menunjukkan bahwa filosofi kehidupan sekaligus pendidikan bagi suku-suku di Papua sangat memegang peranan penting dalam pembentukan manusia Papua itu sendiri. Berkaitan dengan relasinya dengan alam, manusia Papua sangat berhutang pada kemurahan alam Papua dalam membentuk karakter mereka. Heterogenitas bentang alam di Tanah Papua dengan berbagai karakteristiknya membentuk manusia Papua yang terekspresikan dalam kesenian, kebudayaan, maupun benda-benda hasil budaya.

Alam dan lingkungan sekitarnya secara lebih luas mendidik orang-orang Papua untuk “menyanyangi” diri sendiri dan orang lain. Alam memberikan kehidupan bagi orang Papua, dan di alam pulalah yang menjadi sumber inspirasi orang-orang Papua untuk menghasilkan totalitas kebudayaannya. Alam menghasilkan tari-tarian dan beratus-ratus lagu-lagu daerah yang luar biasa indah dan inspiratifnya. Praktik mencintai alam seyogianya menjadi dasar kebijakan pendidikan di Tanah Papua. Pengetahuan adat dan budaya lahir, tumbuh, berkembang, dan terwariskan salah satunya bersumber dari inspirasi manusia Papua dengan alamnya. Kasih sayang terhadap alam dalam pendidikan

Kasih sayang dalam pendekatan Freire (2005) menjadi kunci pendidikan dialogis yang memerdekakan. Tapi justru istilah kasih sayang yang hilang dari alam pikiran kebijakan pendidikan, sehingga kita perlu bertanya apakah dunia modern sudah terlalu “maju” untuk mengakui pentingnya unsur ini dalam kehidupan, dalam pembentukan dan pemeliharaan relasi social. Kasih sayang ini sering dipahami dengan terlalu sempit: di dalam ruang lingkup keluarga terdekat atau cenderung dileburkan dengan kata “cinta” dalam pengertian romantis. Kasih sayang yang hampir-hampir tidak disebut sebagai dasar pendidikan pada semua taraf tidak dipahami sebagai daya positif, daya yang memanusiakan, daya yang memerdekakan.

Oleh sebab itulah menjadi penting untuk menginisiasi sekolah yang tidak terlebih dahulu menyapa tembok, tetapi dekat dengan lingkungan sekitarnya seperti sawah, pohon, langit, air, dan senyum.Kemerdekaan dan keterbukaan semestinya diwujudkan di sekolah-sekolah dengan diwujudkan melalui bangunan-bangunan sederhana yang terbuka di tengah-tengah sawah dan lalu-lalangnya kehidupan. Dari sinilah kita bisa belajar bahwa pendidikan anak menjadi salah satu simpul dalam jaringan kehidupan komunitas: simpul yang teramat penting karena menjadi tempat belajar bagi anak-anak, bagi orangtua mereka, bagi orang-orang dewasa yang menjadi fasilitator dan menyelenggarakan administrasi, dan juga bagi orang seperti pengamat pendidikan untuk mendapatkan inspirasi pengetahuan.

Dunia pendidikan di negeri ini justru sebaliknya mendekati persoalan pendidikan dengan cara-cara formal yaitu masih terpatok pada pemberian akses pada pendidikan.Kata “memberi akses” tampak sebagai ide dan cita-cita yang sangat baik, tetapi sebenarnya tidak menjawab permasalahan dasar pendidikan dalam budaya bisu yang sudah berkepanjangan.Terlalu sering “akses” dimaknai sebagai pembangunan gedung-gedung sekolah sebagai indicator yang dapat dihitung dan dilihat distribusinya secara nasional. Bahwa gedung sekolah membawa ideology pendidikannya sendiri belum dihiraukan, apalagi bertanya apakah konsep pendidikan yang dibawa oleh gedung (tertutup tembok) itu menjawab permasalahan kehidupan setempat.Tentu saja para peserta didik ini perlu dilindungi dari panas dan hujan, tetapi gedung yang tertutup rapat terhadap lingkungan nyatanya sendiri menunjukkan bahwa “akses” saja tidak cukup. (Tiwon, 2014: xx-xxi).

Penulis adalah staf Pendidik/Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari Papua Barat.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment