Mama-Mama Papua terpaksa berjualan pinang di pembatas jalan

Sentan, Jubi – Tidak ada tempat dan meja untuk berjualan, sejumlah Mama-Mama Papua nekat berjualan pinang di atas pembatas jalan dengan got di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.

Mama Werina Kogoya asal Kabupaten Jayawijaya, salah seorang yang berjualan pinang mengaku terpaksa berjualan di sana demi menyekolahkan anaknya. Meskipun ia sering ditegur pihak keamanan bandara.

“Saya sudah berjualan lama di sini, namun sekarang kami dimarahi, katanya tidak boleh berjualan di bandara, tapi kita mau jualan di mana?” kata Werina kepada Jubi yang menemuinya sedang berjualan, Kamis (3/11/2016).

Werina mengatakan, mulai berjualan di sana pukul 06:00 WP hingga siang pukul 12:00 atau 13:00 WP.

“Sehari pendapatan saya paling tinggi Rp150 ribu dan paling rendah Rp70 ribu,” ujarnya.

Meski tidak begitu besar, ia mengaku mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan juga untuk membiayai anaknya yang sedang kuliah di Pulau Jawa.

“Saya berharap anak saya bisa bersekolah dengan baik dari hasil jualan pinang ini,” kata Werina.

Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Yobena Wakerkwa asal Kabupaten Lanny Jaya. Perempuan ini mengaku sudah berjualan di Banara Sentani selama tiga tahun.

“Saya dengan teman-teman dulu berjualan di dalam banara, kemudian dimarahi, disuruh berjualan di luar, kami dikasih tempat di pinggir samping Kantor Karantina, tapi sampai sekarang belum juga dibuatkan tempat untuk kami, akhirnya kami berjualan di sini seperti sekarang,” ujarnya.

Yobena mengaku berjualan hanya untuk membantu anaknya dan adiknya yang sedang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani, Jayapura.

“Kami tidak bisa pindah berjualan yang lain, nanti teman-teman yang punya tempat atau usaha marah kepada kami, walaupun pendapatan sedikit kami tetap berjualan pinang,” katanya.(*)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment