KOMPEKSTRAM: Stop Datangkan Orang Miskin Dari Jawa di Maybrat

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Mario Yumte, koordinator advokasi Koalisi Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar kabupaten Maybrat (KOMPEKSTRAM) dengan tegas menyatakan menolak rencana pemerintah kabupaten Maybrat mendatangkan tenaga kerja dari luar papua, terutama orang-orang miskin dari pulau Jawa dan pulau lain di luar Papua.

“Pemerintah stop. Sudah cukup ambil tanah untuk jadikan lahan sawah dan telah rampas tanah untuk babat hutan kami jadikan perkebunan kelapa sawit. Jangan datangkan lagi orang-oarang miskin dari Jawa,” tegas Yumte kepada suarapapua.com di Jayapura, Kamis (25/8/2016).

Yumte menjeklaskan, orang-orang miskin dari Jawa didatangkan melalui program transmigrasi. Orang-orang miskin itu didatangkan untuk kerja di kebun kelapa Sawit. Dan untuk mendatangkan orang-orang ini sudah disepakati oleh Kepalah Distrik Mare Raya dan Mare Barat di kabupaten Maybrat.

“Kami menolak rencana itu. Karena untuk kami masyrakat pribumi tidak berdampak apa-apa. Entah kelapa sawit, sawah maupun orang-orang miskin ini. Kami tidak akan mendapat apa-apa dari mereka. Kami tidak mau terima mereka di tanah kami,”tegasnya.

Menurut Yumte, Kelapa sawit maupun transmigrasi yang datang dari luar Papua datang untuk tebang hutan dan kuasai hutan masyarakat di Maybrat. Perkebunan kelapa sawit sama sekali tidak memebrikan untung dan manfaat bagi masyarakat.

“Maka kami dengan tegas menolak transmingrasi yang direncanakan oleh pusat dan penebangan lahan untuk membangun lahan kelapa sawit di kabupaten Maybrat itu jadi kami mau sampaikan kepada dua oknum kepalah distrik Mare Raya dan Mare Barat stop untuk menerima kedatangan tersebut,” kata Mario.

Kata Mario, program tersebut dapat menghancurkan hidup masyarakat pribumi dari berbagai aspek Ekonomi, Polotik, sosial, dan Budaya. Kehadiran trabsmingran juga dapat menciptakan suasana hidup menentang dan masyarakat setempat akan termarginalkan. Padahal mereka yang mempunyai tanah yang diwarisi oleh nenek moyangnya.

“ Program ini ujung-ujungnya akan bikin masyarakat pribumi terpinggirkan. Jadi pemerintah Kabupaten Maybrat dalam hal ini Kepala Distrik Mare Raya dan Mare Barat yang menyepakati transmingrasi dan pembangunan lahan kelapa sawit, itu perlu tau bahwa pemekaran dua Distrik tersebut bukan untuk menciptakan Koflik dan memberi peluang kepada orang lain, melainkan orang asli pribumi sendiri,” Tegasnya

Sementara itu Beni C Bame,mengatakan, beberapa waktu belakangan kepala Distrik Mare Raya, Nafel Nauw menyampaikan untuk dirinya berkerja sama pemerintah Kabupaten Maybrat akan mendatangkan 5 Ribu KK untuk Distrik Mare raya dan Mare Barat.

“Itu kami yang tergabung dalam (KOMPEKSTRAM) menolak dengan tegas kedatang itu. Kami pemuda, mahasiswa dan pelajar asal Maybrat di seluru Indonesia menolak. J0angan kepalah negara bilang lain pemerintah daerah main lain ini dengan tegas kami sampaikan,” katanya.

Selain itu. Naftalis Kinho,anggota (KOMPEKSTRAM) mendesak kepalah dinas Transmingrasi kabupaten Maybrat agar tidak membuat program-progrma yang tidak memeihak pada rakyat.
“Lebih baik stop bunuh kami orang pribumi dengan program-program yang tidak membuat kesejahteraan rakyat menjadi lebih baik,” tegasnya.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Arnold Belau

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment