Kematian Agabus Saroy harus diusut secara hukum

“Apalagi ruang tahanan yang menurut informasi hanya berukuran sekitar 1 kali 2 setengah meter dan tanpa ventilasi yang memadai bahkan terkesan pengap dan lembab serta ditempatkan dalam waktu yang cukup lama sekitar hampir empat bulan. Ini tentu bisa menyebabkan adanya kondisi stress pada almarhum dan atau tahanan lain yang jika diperlakukan seperti itu,” tutur Yan Christian Warinussy melalui rilis yang diterima Jubi, Minggu, (09/10/2016).

Jayapura, Jubi – Kematian Agabus Saroy, seorang tahanan di ruang tahanan isolasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Manokwari, pada Jumat, (07/10/2016) yang diduga akibat bunuh diri, hendaknya diusut secara hukum oleh pihak Kepolisian Resort (Polres) Manokwari, Papua Barat.

Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy menegaskan, menurut hukum tak wajar sehingga pihaknya mendesak kepada aparat polisi untuk segera mengusut kasus kematian tak wajar tersebut.

Menurut Warinussy, keberadaan almarhum di dalam ruang tahanan isolasi atau biasa disebut strap sel tentu menyebabkan akses keluar masuknya sangat-sangat dibatasi dan hanya petugas keamanan Lapas Manokwari saja yang bisa menemuinya di ruang tahanan isolasi tersebut.

“Apalagi ruang tahanan yang menurut informasi hanya berukuran sekitar 1 kali 2 setengah meter dan tanpa ventilasi yang memadai bahkan terkesan pengap dan lembab serta ditempatkan dalam waktu yang cukup lama sekitar hampir empat bulan. Ini tentu bisa menyebabkan adanya kondisi stress pada almarhum dan atau tahanan lain yang jika diperlakukan seperti itu,” tutur Yan Christian Warinussy melalui rilis yang diterima Jubi, Minggu, (09/10/2016).

Selain itu, ujar Yan, untuk menjawab bagaimana bisa dia melakukan tindakan bunuh diri pihak kepolisian setempat harus mengungkap seperti menggunakan bahan apa? kalau tali rafia, maka pertanyaannya, bagaimana bisa bahan tersebut masuk ke ruang tahanannya? Pasti ada pihak lain yang berkomunikasi dengan dia sebelum dia mati dengan cara tersebut.

“Kapolres Manokwari dan jajaran penyelidik dan penyidiknya harus segera memanggil dan memeriksa Kepala Lapas (Kalapas) Manokwari maupun Kepala Pengamanan Lapas (KPLP) beserta semua petugasnya, guna mengungkapkan bukti-bukti hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara materil dan formil,” tandasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Manokwari, AKP. Aries Diego Kakor mengatakan, korban ditemukan meninggal dalam ruang Isolasi Lapas setelah pihaknya menngamankan sekitar sebulan lalu saat kabur dari Lapas.

Untuk memastikan, menurutnya, dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penanganan terhadap jenazah, kesimpulan sementara diduga korban meninggal akibat bunuh diri.

“Untuk memastikannya, kami akan memeriksa sejumlah saksi yang terakhir melihat korban, baik pagi, siang dan malam. Kalau hasilnya lain, nanti kita umumkan karena yang bisa masuk ke ruangan ini hanya petugas lapas dan pengantar makanan,” kata Aries.

“Sementara kita temukan ciri-ciri dari tubuh korban kearah bunuh diri, namun untuk memastikan adalah dari dokter yang lakukan pemeriksaan. Jadi, jasadnya korban sudah divisum di RSUD Manokwari,” ungkapnya.

Dikatakan, Agabus Saroy merupakan pelaku pembunuhan terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kehutanan, Kabupaten Manokwari Tahun 2013, dan divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Manokwari dengan hukuman 13 tahun penjara. (*)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment