Kapolda Papua Sebut Aristoteles Masoka Ada di PNG, Keluarga Minta Klarifikasi

Yonas Masoka, ayah kandung Aristoteles Masoka, sopir pribadi ketua PDP, Theys Eluay yang dihilangkan secara paksa oleh negara Indonesia lewat Kopassus pada tahun 2001. (Arnold Belau - SP)
Yonas Masoka, ayah kandung Aristoteles Masoka, sopir pribadi ketua PDP, Theys Eluay yang dihilangkan secara paksa oleh negara Indonesia lewat Kopassus pada tahun 2001. (Arnold Belau – SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Kapolda Papua, Paulus Waterpauw diminta klarifikasi pernyataannya tentang sopir pribadi ketua Presidium Dewan Papua (PDP), Aristoteles Masoka yang hilang sejak 10 November 2001 saat Theys Hiyo Eluay dibunuh Kopassus di Jayapura, Papua yang menyebutkan Aristoteles ada di PNG.

Orang tua kandung Aristoteles Masoka, Yonas Masoka, mengajak untuk melihat statement tersebut bersama. Begitu panjang kasus hilangnya Aristoteles. Tiba-tiba muncul berita pada 27 Juni bahwa Aristoteles berada di PNG.

“Pernyataan ini bisa membenarkan kah tidak. Di dalam berita itu, Panglima bilang dia pernah bicara dengan Aristoteles. Kenapa informasi ini baru mucul tahun 2016 setelah 15 tahun Aristoteles hilang. Saya punya adik kandung ada di PNG. Pada tahun 2012 datang menjenguk kami karena istri saya meninggal. Lalu dia katakan, kakak saya turut berduka. Tetapi pada tanggal 27 Juni lalu ada muncul statement ini,” jelas Yonas, Kamis pekan kemarin di Abepura.

Ia mengatakan, pada tahun 2011 ia dituduh telah makamkan Aristoteles di Kampung Harapan. Dengan modus bahwa Aristoteles telah menikah dan istrinya sementara sedang ditahan di LP Abepura.

“Ini pernyataan luar biasa dari seorang Kapolda Papua. Pada tahun 2011 muncul di kampung Harapan dan tahun 2016 muncul di PNG. Biarkan publik menilai penyataan itu. Yang orang Papua tahu hari ini adalah Aristoteles sudah dihilangkan secara paksa sejak 10 November 2011,” tegasnya.

Lanjut Masoka, “Saya perlu sampaikan bahwa suhu yang sedang berkembang di Papua, MSG, PIF dan internasional membuat semua lini ini kepanasan. Maka, mari kita duduk dan bicara pelanggaran HAM di Papua ini. Hentikan impunitas di Tanah Papua. Saya menekankan ini,” ujarnya.

Yonas menegaskan, dirinya tidak meminta Kapolda Papua bertanggungjawab atas penghilangan paksa Aristoteles Masoka, namun ia meminta agar pernyataan itu diklarifikasi tentang keberadaan Aristoteles.

“Saya tidak minta Kapolda bertanggungjawab, tidak. Tapi saya minta Kapolda Papua harus klarifikasi pernyataannya tentang keberadaan Aristoteles. Apa itu bisa menjadi bukti atau tidak. Bagi orang Papua, 10 November itu bukan hari pahlawan. Tetapi 10 November itu hari pelanggaran HAM di Papua,” pungkas Masoka.

Matius Rumbrapuk dari ELSHAM Papua menambahkan, pihaknya mendukung apa pun yang diinginkan oleh pihak keluarga korban.

“Saya pikir kami ELSHAM Papua pada prinsipnya mendukung apa pun upaya yang dilakukan keluarga korban. ELSHAM sudah lama mendampingi dan saya kira kita tunggu saja tim dari MSG, PIF dan PBB. Agar mereka yang selesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua. Karena memang negara ini tunjukkan niat bahwa negara (Indonesia) tak mampu selesaikan berbagai pelanggaran HAM di Papua,” tutur Rumbrapuk.

Anum Siregar, direktris Aliansi Demokrasi Papua (ALDP) mengatakan, pernyataan tentang keberadaan Aristoteles Masoka yang dihilangkan secara paksa 15 tahun lalu ada di PNG tak seharusnya dikeluarkan oleh Kapolda Papua, karena itu bisa menimbulkan multitafsir di kalangan masyarakat.

“Seharusnya Kapolda Papua tidak boleh keluarkan statement seperti itu. Seharusnya polisi lakukan penyelidikan baru keluarkan statement. Itu namanya mendahului proses. Sebagai lembaga yang punya kewenangan, lakukan penyelidikan dulu. Jangan mendahului proses. Kecuali politisi. Karena politisi biasanya mendahului proses,” tegasnya.

Sementara itu, pada koran harian Bintang Papua, edisi 24 Juni 2016, Kapolda Papua, Paulus Waterpauw di Hotel Aston Jayapura mengatakan, Aristoteles Masoka, sopir pribadi Theys Hiyo Eluay berada di PNG. Dari hasil Panglima TNI bahwa sempat melakukan hubungan komunikasi dengan Aristoteles melalui selulernya.

“Panglima kala itu masih berpangkat Kolonel. Aristoteles mengatakan, ‘Bapak, saya di seberang’ dan ketika ditanya bapak Kapolri sejak diungkap, bahwa dia berada di PNG’ itu pengakuan Aristoteles saat itu, sehingga diperkirakan masih hidup,” ungkap Kapolda Papua.

Waterpauw juga mengatakan, pihaknya sedang melakukan komunikasi dengan tim untuk mencari tahu sebenarnya seperti apa. Maka bisa diselesaikan permasalahan yang terjadi selama ini.

Pewarta: Arnold Belau

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment