Kalau Ahok Dinyatakan Bersalah, Berarti Benar, Ini Penyaliban Yesus Era Pascamodern

Kalau Ahok dinyatakan Bersalah, berarti Benar, maka jelas ini penyaliban Yesus Era Pascamodern merupakan pernyataan yang tidak terlalu salah kalau umat non-Muslim mengucapkannya.

Pusat pngajaran agama Kristen ialah “keselamatan” yang dibawa oleh Yesus Kristus ke dunia. Dan proses penyelamatan umat manusia itu terjadi lewat sebuah peristiwa yang kita kenal dengan nama “penyaliban”.

Setiap saat, setiap khotbah, peristiwa penyaliban dan proses penyaliban hampir tidak pernah alpa dari ulasan di mimbar-mimbar agama Kristen di mana-mana. Apalagi menjelang Paskah, ada fragmen dan drama penyaliban di-dramakan untuk mengenang peristiwa ini.

Dalam proses penyaliban itu, ada beberapa pihak yang dapat kita bandingkan dulu dan sekarang ini di Jakarta, kalau kita mau samakan penyaliban Yesus dan penyaliban Ahok sebagai sejarah yang berulang-kembali. Dikatanan secara umum di mana-mana “History repeats itself”.

Yang pertama ialah istilah “penistaan agama”. Kedua ialah realitas mayoritas vs minoritas. Ketiga soal desakan dan paksaan kaum mayoritas. Keempat, sikap pemerintah terhadap proses pengadilan dan penghakiman.

Yesus disalibkan dengan alasan Yesus mengaku diri sebagai Raja Dunia, padahal Raja Dunia masih ditunggu oleh orang Yahudi waktu itu, dan bahkan sampai hari ini agama Yahudi masih menunggu Raja mereka datang untuk memulihkan tahta Daud. Pokok aduan ini menjadi dasar dari semua tuduhan yang lain yang ditujukan kepadanya.

Hal kedua ialah mayoritas yang menuntut Yesus/ Ahok disalibkan dan minoritas yang menunggu nasib apa yang akan menimpa kepada Yesus/ Ahok. Bahkan demonstrasi besar-besaran dilakukan di halaman pengadilan, dan mendesak pemerintah segera menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus. Ahok dinyatakan bersalah, maka juga merupakan ‘hukuman mati’ bagi karir politiknya sebagai seorang pejabat negara di negara bernama Indonesia. Kecuali Ahok pindah Warga Negara, tetpai selama Ahok ada di Indoneia, maka Ahok dapat dikatakan “mati” disalibkan.

Hal ketiga, desakan dan paksaan begitu luarbiasa sehingga pejabat pemerintah dan hakim tidak punya pilihan lain daripada menyerahkan Yesus untuk disalibkan. MUI, FPI, Muhamadyah dan tokoh Indonesia lainnya secara terbuka mendukung penyaliban Ahok. Hanya sebagian kecil orang Indonesia berpikir untuk membela Ahok, tetapi itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan seruan untuk menyalibkan Ahok.

Hari ini 15 November 2016 diberitakan dua hari lagi status Ahok akan dikeluarkan oleh Kepolisian RI. Sekarang kita tunggu, apakah kepolisian romawi yang kewalahan dan menyerah kepada desakan mayoritas, ataukah justru Polri sama saja dengan kepolisian Romawi waktu itu, walaupun mencuci tangan dan menyatakan Yesus tidak bersalah, tetapi tetap menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Bagi orang Kristen di manapun kita berada, kita harus belajar kembali apa yang dikatakan Yesus, bahwa “mengikut Yesus ialah memikul salib-Nya”. Semua penderitaan yang telah dialaminya sudah banyak dialami oleh orang Kristen di mana-mana, di seluruh dunia, di sepanjang sejarah manusia. Kini sejarah mengulangi dirinya sendiri, di negara bernama Indonesia.

Gereja-gereja di Indonesia berada di pihak lemah, minoritas, tak berdaya, sama dengan yang dialami Yesus. Apalagi Ahok, ditambah dengan kata-kata beliau yang selama ini diucapkannya begitu tidak Kristiani, kembali membuahkan hasil. Kita berdoa, kiranya Tuhan Yesus turun tangan dalam hal ini, memberikan jalan keluar terbaik bagi umat-Nya di muka Bumi, terutama di Jakarta dan di Tanah Papua, karena dampak dari insiden ini sangat terasa di kedua wilayah.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment