Isu Ham dan Isu Kemerdekaan: Perbedaannya di Mana?

Tulisan ini disampaikan dalam rangka memberikan pencerahan kepada masyarakat di manapun Anda berada, bukan dalam rangka mendukung atau menolak antara HAM dan kemerdekaan, tetapi dalam rangka meluruskan paradigma berpikir kita tentang keutuhan manusia sebagai umat ciptaan Tuhan, sebagai makhluk berakal budhi, yaitu sebagai makhluk bermoral. Dalam mukadimah UUD 1945 telah dinyatakan dengan jelas, dan selalu dibacakan dalam upacara bendera di seluruh Indonesia, atau bahkan di mana-mana ada upacara bendera dilakukan oleh warga negara Indoensia. Mukadimah itu malahan sudah ada di luar kepala, bukan lagi dihafal, tetapi lebih dari itu, dengan mudahnya keluar dari bibir kita, oleh anak taman kanak-kanak sekalipun, yaitu bahwa, “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan!”

Ini bunyi teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, Papua Websites sebagai penyambung lidah alam dan adat Papua menyampaikan kritik tertulis lewat media ini kepada Tantowi Yahya, Anggota DPR RI Fraksi Golkar, yang selama ini tampil sangat intelek, tetapi paradigma berpikir tentang HAM dan kemerdekaan tidak sama dengan suara adat dan alam Papua. Kita maklumi, sepnitar apapun kita, kita toh tetap manusia.

Manusia terbatas secara fisik, dibatasi oleh ruang dan waktu. Ditambah lagi, manusia terbatas oleh apa yang ada di dalam pemikirannya, apa yang dilakukannya atau dialaminya, apa yang didengar dan dilihatnya. Manusia juga dibatasi oleh hubungan sosial, budaya, politik dan ekonominya. Keterbatasan-keterbatasan ini sangat manusiawi dan kita harus menerimanya secara manusiawi pula.

Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, berarti bahwa kemerdekaan merupakan bagian tak terlepaskan dari HAM. Dan oleh karena itu, apa arti judul berita “Isu HAM di Papua Dianggap Lebih Seksi Daripada Kemerdekaan” sebagaimana kita kutip baru lalu?” Pertama kami tertarik mengutip dan mempublikasikannya di blog ini, tetapi kemudian kami tersentak menyelami maksud judul ini, bahwa sebenarnya judul ini tidak tepat dalam konteks mendidik paradigma berpikir kita tentang manusia, kemanusiaan, hak asasi manusia dan kemerdekaan dalam rati luas.

Memang secara sempit, ada perbedaan antara kemerdekaan politik dan hak asasi manusia, tetapi kalau kita memisahkan keduanya, maka sebenarnya kita secara tidak sengaja menolak bunyi mukadimah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya sama saja. Tidak ada perbedaan secara substansi. Yang membedakan ialah siapa yang membedakannya dan untuk kepentingan apa “ham” dan “mekerdekaan” dibuat menjadi berbeda. Dengan perbedaan ini, Tantowi Yahya melihat HAM tidak ada kaitannya dengan kemerdekaan. Menyuarakan pelanggaran HAM di Papua dan menyuarakan kemerdekaan Papua dilihatnya berbeda. Ini pandangan yang membahayakan NKRI.

Ditindaklanjuti dengan paradigma berpikir kita ini, maka sebenar-benarnya, yang melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia di Tanah Papua ialah mereka yang mendorong kemerdekaan orang Papua di luar NKRI dimaksud. Jadi, perlu kita bertanya lagi, apakah para pelanggar HAM ini melakukannya dalam membela dan mempertahankan NKRI ataukah justru sengaja mau menghancurkan NKRI?

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment