Ini “Clash of Civilisation” yang Tercipta di Ruang Kosong yang Ditinggalkan Negara-bangsa

Menanggapi dinamika sosial-politik yang berkembang di Indonesia, terutama sekali atas realitas pencalonan diri Basuki T. Purnama (Ahok) sebagai Gubernur Incumbent untuk menjadi gubernur kembali dan pernyataanya terhadap ayat Al–Qur;an yang menjadi kontroversi menjelang Pilkada sebentar lagi.

Saya sudah baca sebuah postingan facebook.com, yang sudah diupload di blog kisah.us berjudul “Bosku Cina, Agamanya Bukan Islam, tetapi Dia Tetap Bosku“. Ini balasan atau komentar dan elaborasi lain dari postingan dimaksud.

Terutama dan pertama, kita harus jadi manusia, berpikir dan bertindak sebagai manusia, yang lahir, hidup dan mati.Saat kita berdiri sebagai manusia, maka kita akan melihat sesama sebagai manusia, sama-sama dilahirkan, sama-sama hidup dan mengadu nasib di planet Bumi ini selama kita masih bernafas dan hidup, dan sama-sama akhirnya akan meninggal dunia dan dikuburkan, tak perduli kita beragama atau tidak, berpolitik atau tidak, bos atau anak-buah, lelaki-perempuan, tua-muda, pejabat atau rakyat biasa.

Setelah kita sadar dan menerima realitas bahwa kita hanyalah manusia, maka kedua kita harus tahu diri, sisi identitas biologis dan asal-usul kita, suku dan adat kita yang tidak sama. Orang tua di Papua biasa katakan begini, “Orang ini tahu adat atau tidak?” Mereka tidak bilang “orang ini punya agama atau tidak atau bermoral atau tidak?” Apa artinya tahu adat? Arti yang sesungguhnya ialah tahu diri dari sisi asal-usulnya secara geografis dan secara biologis. Bukan supaya kita bersikap dan bertindak seperti Hitler yang membela satu ras dan membasmikan ras lain, tetapi sebaliknya supaya kita menerima realitas bahwa kita semua, dari berbagai latar-belakang geografis dan suku-bangsa, kita berbeda-beda, bukan atas pilihan kita, bukan karena buatan kita, tetapi secara kodrati kita memang berbeda. Dengan kesadaran ini kita menerima apa yang berbeda itu sebagai berbeda, sebagai realitas kodrati.

Ketiga, baru kita mengenal lalu menerima sesama dengan embel-embel identitas agama, pandangan politik, dan sebagainya. Kalau urutannya kita balik, maka pasti ada “clash”, yang sudah disebut ilmuwan sebagai “clash of civilisation”..Saya sebut ini “clash” non-manusia-wi, clash yang un-necessary karena dari sisi peradaban manusia sudah tidak pas. Salah satu pendekatan mnghindari dan mengatasi slash seperti ini ialah pendekatan nasionalisme negara-bangsa yang dilakukan Megawati Sukarnoputri.

Cuma sayangnya, magnet nasionalisme “negara-bangsa” Indonesia belum terasa dampaknya di tengah penduduk Indonesia. Negara dan nasionalisme negara-bangsa harus hadir dan menjadi icon identitas masyarakat penduduknya. Kalau negara absen, ya manusia pasti mencari identitasnya di luar negara-bangsa. Dan kalau tidak ada, dia bisa menciptakan identitasnya sendiri lalu membelanya mati-matian sampai titik darah penghabisan.

Add Comment