Honai Modern Tolikara

MajalahDani – http://www.majalahdani.com/fokus/honai-modern-tolikara/

Honai modern dibangun lebih variatif dengan tidak menghilangkan bentuk dasar dan fungsi Asli Bangunan Honai

Sudah lazim diketahui, Honai atau rumah adat tradisional masyarakat Pegunungan Tengah Papua terbuat dari kayu dan beratap jerami atau rumput ilalang. Atap bangunan ini memiliki bentuk kerucut hingga tanah. Bentuk unik ini menghadirkan pesona keindahan tersendiri di tengah alam Papua yang masih asli.

Namun pesona Honai ternyata tak sepesona jaminan kesehatan bagi masyarakat. Struktur bangunan Honai yang hanya memiliki satu pintu kecil dan tidak berjendela menyebabkan sirkulasi udara tidak teratur. Kondisi ini diperparah dengan asap api yang selalu mengepul di dalam Honai.

“Di dalam honai masyarakat tidur beralas rumput ilalang kering. Satu honai bisa muat 10-15 orang. Bayangkan, ada asap yang timbul dari perapian dan di ruangan tertutup. Makanya tak heran pen- yakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dekat sekali dengan masyarakat Pegunungan Papua” terang Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo, SE., M.Si saat meninjau pembangunan Honai modern dan pembangunan Kantor Pemerintahan Terpadu di Distrik Igari, belum lama ini.

Untuk mengatasi masalah tersebut, lanjut Bupati Usman, Pemerintah Kabupaten Tolikara tengah mengembangkan Honai modern yang lebih variatif dengan tidak menghilangkan bentuk dasar dan fungsi asli Honai. Bangunan Honai modern terbuat dari baja ringan dan beratap seng, serta lebih mengedepankan aspek keseha- tan dan kenyamanan.

“Ada ventilasi dan alasnya dari kayu. Ada jarak dari tanah. Di bagian dalam didesain ruang keluarga dan satu ruang tidur, tempat masak serta kamar mandi. Tentu sangat ideal bagi masyarakat Pegunungan Tengah Papua khususnya masyarakat Tolikara untuk bisa hidup sehat,” imbuhnya.

Pembangunan Honai modern mendapat respon positif dari masyarakat Tolikara. Tokoh masyarakat Tolikara, Kiwe Yikwa misalnya. Kiwe memuji terobosan Pemerintah Tolikara karena membangun Honai yang lebih kuat dan tidak mudah terbakar.

Menurutnya, saat terjadi konflik, Honai sering menjadi sasaran pembakaran warga. Untuk itu model bangungan Honai dengan bahan dasar baja ringan dan seng sangat tepat. Namun Kiwe juga mengusulkan agar Honai modern dibangun lebih besar agar tetap memepertahankan fungsi sosialnya, yakni tempat berkumpul seluruh keluarga besar.

“Kami senang dengan pembangunan rumah Honai modern ini. Namun kami meminta agar ukurannya lebih luas sehingga keluarga besar bisa tertampung,” pintanya.

Sementara itu, tokoh intelektual Tolikara Pdt. Yulianus Weya, S.Th, mengemukakan, perubahan budaya sangat penting terutama menyangkut sesuatu yang baik bagi masyarakat. Bangunan Honai yang kurang memberikan dampak yang baik bagi kese- hatan perlu diperhatikan oleh pemerintah dengan membangun rumah sehat.

Bahkan Hamba Tuhan lulusan STT Kadesi Bogor Jawa Barat ini pun mengambil contoh kehidupan di luar negeri atau di dunia Barat. Di sana, sesuatu yang telah lama dan dirasa tidak baik bagi kehidupan masyarakat, diganti dengan hal yang baru.

Terkait bangunan Honai modern yang dikembangkan pemerintah Tolikara saat ini, menurut Pdt. Yulianus bangunan tersebut sudah bagus. Namun pria asal Timori ini mengusulkan agar selain Honai modern, pemerintah juga perlu membangun rumah layak huni lainnya yang lebih modern dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Harus ada perubahan. Yang tidak baik harus ditinggalkan. Boleh saja pemerintah membangun Honai modern untuk mengatasi masalah penyakit ISPA dan sebagainya. Tetapi ada baiknya jika pemerintah juga membangun rumah modern model lain dan layak huni bagi masyarakat,” pinta Pdt. Yulianus.

Untuk diketahui, bangunan rumah tradisional masyarakat Pegunungan Tengah Papua terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai). Istilah honai berasal dari dua kata, yakni “Hun” yang berarti pria dewasa dan “Ai” yang berarti rumah. Ebeai,” yang terdiri dari dua kata, yakni “Ebe” atau tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan “Ai” yang berarti rumah. Sedangkan, Wamai berasal dari kata “Wam” berarti babi dan “Ai” berarti rumah.

Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan aktivitas kelu- arga lainnya. Di bagian tengah Honai terdapat tungku yang berfungsi sebagai penerangan dan penghangat tubuh.

Selain sebagai tempat tinggal, Honai juga memiliki gungsi lain diantaranya sebagai tempat penyimpanan alat-alat perang dan berburu, tempat mengembleng anak lelaki agar bisa menjadi orang yang kuat berguna bagi suku, tempat menyusun strategi perang jika ada perang, dan tempat menyimpan alat-alat atau simbol suku.

Filoso bangunan Honai yang berbentuk melingkar atau bulat memiliki makna tersendiri seperti menjaga kesatuan dan persatuan suku, serta simbol kebersamaan dan simbol dari keperibadian dan harga diri suku.

Kantor Pemerintah Berbentuk Honai

Kantor Pemerintahan Berbentuk Honai
Selain membangun rumah warga dengan model Honai modern, Pemerintah Kabupaten Tolikara juga mambangun kantor pemerintahan dengan memperhatikan aspek kearifan lokal. Saat ini, beberapa gedung perkantoran telah di bangun di Kawasan Pemerintahan TerpaduTolikara dengan model bangungan seperti Honai.

Menurut Bupati Usman, pembangunan Kawasan Pemerintahan Terpadu ini bertujuan meningkatkan efektivitas layanan bagi masyarakat. Upaya tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting diantaranya, kondisi kantor bupati lama dan beberapa kantor instansi lain yang berada di atas tanah Gurikme terus mengalami kerusakan.

Berbagai langkah mulia dilakukan Pemkab Tolikara demi mewujudkan up- aya tersebut diantaranya, melakukan pertemuan dengan masyarakat Igari dari Suku Weya Yikwa dan suku Yikwa Wanimbo untuk membicarakan pembebasan lahan seluas 700 hektar lebih.

“Kegiatan pemerintahan dan perekono- mian akan dibangun di situ. Dalam hal ini kami apresiasi kepada pemerintah Pusat yang sudah memberikan perhatian serius dan masterplannya sedang disiapkan, den- gan perencanaan secara komprehensif telah kami buat,” ungkapnya.

Rencana bijak Pemkab Tolikara membangun Kawasan Pusat Pemerintahan Terpadu dengan konsep kearifan lokal mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Dukungan tersebut diantaranya datang dari dua Menteri Kabinet Kerja yang berkunjung ke Tolikara tahun lalu, yakni Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokarasi (PAN-RB) Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi, ME dan Menteri Sosial Republik Indonesia, Khfifah Indar Parawangsa.

Menurut Khofifah misalnya, sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan Kawasan Pemerintahan Terpadu di Kabupaten Tolikara pemerintah pusat telah menyiapkan dana sekitar 1,6 triliun. Ia pun berharap agar dengan adanya ka- wasan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tolikara sekaligus memajukan pembangunan di daerah Pegunungan Tengah Papua.

Pasalnya, Kabupaten Tolikara yang berada dekat dengan Wamena Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya akan menjadi penghubung bagi kabupaten lain seperti Kabupaten Lani Jaya, Puncak Jaya dan Mamberamo Raya.

“Kawasan terpadu ini jadi sentra pengembangan wilayah se-Pegunungan Tengah Papua sehingga akan memberi- kan angin segar bagi masyarakat Tolikara,” imbuhnya.

[MD-Derwes Y.]

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment