Bupati Mathius: Masyarakat adat harus bangkit dan sejahtera

Bupati Jayapura ketika disambut masyarakat adat suku Demutru di Kampung Sarmaikarang- Jubi/Engel Wally
Bupati Jayapura ketika disambut masyarakat adat suku Demutru di Kampung Sarmaikarang- Jubi/Engel Wally

Sentani, Jubi – Bupati Jayapura Mathius Awoitauw tiga tahun kebangkitan masyarakat adat di daerah ini harus berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Masyarakat adat tidak hanya bangkit saja, tetapi harus sejahtera. Oleh sebab itu, pada tahun ketiga ini kita fokus kepada kesejahteraan masyarakat melalui potensi-potensi lokal yang tersedia melalui sumber daya alam yang ada,” katanya di Kampung Sarmaikrang, Distrik Nimboran, Selasa ( 11/10/2016).

Ia mengatakan pengelolaan sumber daya alam di kampung-kampung dikelola masyarakat secara mandiri. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adat.

“Kita ada investor yang meliri sumber daya alam di kampung, maka pemerintah kampung adat bersama dengan masyarakat yang akan mengatur dan mengelolanya dengan baik. Tidak hanya ketika ada investor yang masuk ke kampung, tetapi semua sumber potensi yang dapat dikelola untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat harus dikelola dengan baik. Jangan tunggu uang baru dikelola,” katanya.

Bupati juga mengutip kata-kata penginjil di tanah Papua Pdt. I.S. Kijne, “bangsa ini tidak akan bisa dibangun oleh bangsa lain tetapi bangsa ini sendiri yang akan membangun dirinya sendiri.”

Hal ini dimaksudkan agar semua masyarakat di kampung adat tidak tinggal diam saja tanpa berusaha untuk menyejaterakan dirinya sendiri.

“Di atas batu peradaban I.S. Kijne berpesan bahwa tidak ada orang lain yang akan datang membangun masyarakat di sini. Hanya masyarakat di sini sendiri yang dapat melakukan hal itu demi kesejahteraan dan peningkatan ekonomi yang lebih baik,” ujarnya.

Secara terpisah, Teo Yepese salah satu seniman Kabupaten Jayapura mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah tentang pengakuan dan kebangkitan masyarakat adat adalah satu bukti yang telah dibuat untuk masa depan.

“Ibarat sebuah cerita yang kita dengar hari ini, apabila cerita tersebut tidak ditulis oleh penulisnya maka cerita tersebut sampai saat ini tidak akan dibaca bahkan diceritakan. Demikian dengan kampung adat dan masyarakatnya, kalau tidak dilakukan saat ini maka sudah pasti generasi yang akan datang tidak pernah tau tentang adat itu sendiri. Kita juga berharap agar dari apa yang dilakukan ini dapat berdampak positif bagi pengembangan sektor ekonomi masyarakat, karena berbicara soal adat sama dengan berbicara soal hidup,” katanya. (*)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment