Begini Caranya Menyelamatkan Cagar Alam Cyclops di Papua

Begini Caranya Menyelamatkan Cagar Alam Cyclops di Papua

Bentangan CA Cyclops di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura yang tergerus pembukaan lahan dan infrastruktur untuk pemukiman. (Greenpeace/Ardiles Rante)Kota Jayapura – Wilayah Cagar Alam (CA) Cyclops membentang di dua wilayah administrasi pemerintahan, yaitu Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura sebagai ibu kota Provinsi Papua. Tim USAID-LESTARI melakukan pemetaan tempat penting, pengelolaan sumber daya alam CA Cyclops karena sudah ditetapkan sebagai kawasan berfungsi lindung, namun merupakan lahan yang mempunyai kepemilikan yang diatur secara adat.

Sejak lama banyak suku asli sebagai pemilik hak ulayat berdiam di sekitar CA Cyclops. Keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan CA Cyclops menjadi sangat penting. Wilayah Pegunungan Cyclops dihuni lima komunitas adat, yaitu: Tepera, Ormu, Moy, Sentani dan Humbolt (Pt. PPMA, 2000). Kelima komunitas itu merupakan pemilik hak ulayat yang secara turun temurun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, termasuk dalam memperoleh mata pencaharian.

Namun dengan meningkatnya aktivitas pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tak terencana, seperti perambahan hutan, penebangan pohon, penggalian bahan galian batuan, dan perburuan satwa. Selain itu, juga terjadi perlandangan berpindah, pembukaan lahan serta infrastruktur untuk pemukiman, perkantoran dan jalan. Hal itu meningkatkan ancaman terhadap keberadaan kawasan cagar alam, sumber mata pencaharian dan hilangnya Cylocps sebagai identitas kelima masyarakat adat.

Memperhatikan hal itu, tim USAID- LESTARI telah melakukan kegiatan pemetaan tempat penting, pengelolaan sumber daya alam dan survey sosial budaya di tiga kampung dalam DAS (Dewan Adat Suku) Imbi Numbay, yaitu Kampung Adat Necheibe, Ormuwari dan Yongsu Desoyo.

“Kegiatan ini rencananya akan dilakukan secara bertahap di 16 kampung di wilayah kabupaten Jayapura yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Cylops,” kata salah satu anggota tim USAID-LESTARI, Maria Sherlly melalui relasnya kepada KABARPAPUA.CO, Kamis, 22 September 2016.

Kegiatan di tiga kampung, kata Maria, berlangsung selama kurang lebih 12 hari, dimulai dari 18-29 Agustus 2016 lalu. Kegiatan ini juga didukungan oleh BBKSDA Papua, Dinas Kehutanan, Bappeda Jayapura dan BPMK Kabupaten Jayapura.

Saat ini tim USAID-LESTARI sedang melakukan penyusunan laporan dan selanjutnya hasil laporan berupa informasi aturan tradisional oleh masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam, pola pemanfatan lahan dalam pengelolaan sumber daya alam serta karakteristik sosial budaya dari masing-masing kampung.

Hasil yang didapatkan nantinya dapat memberikan informasi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan di daerah penyangga oleh masyarakat adat yang akan didampingi oleh tim USAID- LESTARI. “Strategi pengelolaan akan diarahkan sesuai kebutuhan masyarakat dan aturan yang berlaku sehingga dapat tercapai model kampung dalam menjaga keberlangsungan keberadaan CA Cyclops,” ujarnya.

Penting diketahui, penetapan CA Cyclops sebagai cagar alam berdasar pada SK Menteri Pertanian No. 56/Kpts/Um/I/1978 dengan luas 22.500 ha, kemudian ditegaskan kembali secara berturut-turut melalui PP No.28 Tahun 1985 dan SK Menteri kehutanan No. 365/Kpts-II/87. Tahun 2012 melalui SK Menteri Kehutanan No. SK.782/Menhut-II/2012 luas CA Cyclops berubah menjadi 31.479,84 ha. ***(Ramah)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment