Aktivis: Rakyat Papua Merasa Senasib dengan Ahok

Rakyat Papua dan Ahok sama-sama korban diskriminasi rasial.

Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ketika menerima siswa-siswi asal Papua yang bersekolah di Sekolah Anak Indonesia (SAI). SAI adalah sekolah berasrama untuk anak dari daerah tertinggal dari tingkat dasar sampai menengah atas. SAI menempati area kurang lebih 1 hektar di kawasan Sentul, Bogor. (Foto: SAI)
Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ketika menerima siswa-siswi asal Papua yang bersekolah di Sekolah Anak Indonesia (SAI). SAI adalah sekolah berasrama untuk anak dari daerah tertinggal dari tingkat dasar sampai menengah atas. SAI menempati area kurang lebih 1 hektar di kawasan Sentul, Bogor. (Foto: SAI)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rakyat Papua prihatin dan merasa senasib dengan Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Walaupun tidak ada hubungan langsung, rakyat Papua dan Basuki yang akrab disapa dengan Ahok, sama-sama korban diskriminasi rasial di Indonesia.

Hal ini dikatakan oleh beberapa aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua, menanggapi beredarnya gambar dan meme di media sosial yang menggambarkan solidaritas rakyat Papua kepada Ahok, pasca ditetapkannya statusnya sebagai tersangka. Walaupun gambar dan meme itu masih diragukan kebenarannya, menurut mereka, simpati dan perasaan senasib dari rakyat Papua merupakan kenyataan.

Anggota Tim Terpadu Penyelesaian Pelanggaran HAM di Papua, Matius Murib (Foto: Eben E. Siadari)

“Ahok adalah representasi kaum minoritas di Indonesia termasuk di Tanah Papua. Rakyat Papua merasa sepenanggungan atau senasib dengan kelompok minoritas di Indonesia selama ini, selalu dikorbankan hak-hak dasar mereka sebagai warga negara,” kata Matius Murib, pengacara dan pembela HAM di Papua kepada satuharapan.com

Oleh karena itu, kata anggota Tim Terpadu Penyelesaian Pelanggaran HAM di Papua yang dibentuk oleh Kemenkopolhukam,  wajar kalau orang Papua memberi dukungan moral kepada nasib Ahok saat ini.

Suara lebih keras disampaikan oleh Elias Ramos, aktivis HAM independen yang selalu kritis terhadap Jakarta dan mendorong diberikannya hak menentukan nasib sendiri kepada rakyat Papua.

“Kalaupun tak ada hubungan langsung antara rakyat Papua dan Pilkada DKI Jakarta tetapi rakyat Papua turut prihatin, karena Ahok dan rakyat Papua bersama-sama korban diskriminasi rasial,” kata Elias kepada satuharapan.com.

“Ormas-ormas agama garis keras menolak dan membenci Ahok karena dia Kristen dan beretnis Tionghoa, sedangkan orang Papua ditangkap, ditahan, dipenjarakan dan ditembak karena stigma politik seperti separatis,  stigma sosial seperti orang Papua hitam kera, manusia setengah bintang, bodoh, manusia yang tidak bermartabat. Jadi orang Papua dan Ahok sama-sama korban diskriminasi rasial. Di sinilah titik temu antara Ahok dan Papua,” kata Elias.

Aktivis HAM Independen dari Papua, Elias Ramos (Foto: Eben E. Siadari)

Elias menilai, sebelum dan sesudah pelantikan Ahok, ormas garis keras sudah melakukan demonstrasi menolak Ahok, dengan alasan DKI Jakarta yang mayoritas penduduk beragama Islam tak layak dipimpin oleh seorang kafir.

“Status Ahok jadi tersangka yang dipaksakan itu hanyalah puncak dari diskriminasi rasial,” kata dia.

Sebagai rakyat Papua, Elias mengharap Presiden Joko Widodo melindungi  kelompok minoritas (etnis Tionghoa, umat Ahmadiyah, umat Kristen, orang Papua dan korban 65 dan korban kekerasan negara lainnya) dan menghentikan aksi-aksi rasial.

Ia juga menyerukan penghentian penyidikan terhadap Ahok dan membebaskan tahanan politik Papua dan Maluku yang sedang mendekam di penjara Indonesia.

Hal berbeda disampaikan oleh Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Menurut dia, meme maupun gambar tentang dukungan rakyat Papua kepada Ahok hanya rekayasa dan buatan orang.

“Tidak ada hubungan dengan Ahok, tidak ada demo dukungan terhadap Ahok di Papua. Ketika orang Papua disiksa, dianiaya, dibunuh apakah kaum minoritas negeri ini bersuara atau tidak? Tidak usah dibesar-besarkan,” kata dia.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment