Univesitas Chiang Mai dan Pengembangan Teknologi Penyortir Buah Mangga

Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, kerjasama yang dibangun Universitas di Chiang Mai dengan dunia usaha, dunia pendidikan dan para petani begitu menggiurkan karena menjanjikan berbagai hal. Yang pertama tentu saja sangat menjanjikan bagi para petani mangga dalam hal ini karena dengan mesin ini pendapatan akan meningkat tajam. Yang kedua dunia usaha juga mendapatkan nilai tambah secara ekonomi karena sebagai sponsor pembuatan mesin ini, maka dalam jangka panjang mereka pasti akan untung dari penjualan mesin kepada para petani atau exportir mangga di Thailand, dan bahkan di seluruh dunia.

Negara Thailand dan Universitas Chiang Mai juga punya “Credit Point” di sini karena Thailand sebagai negara sudah jelas melihat peluang ratusan tahun ke depan dari produk mesin ini.

Sekedar untuk diketahui, mesin ini tidak menyortir buah mangga dari sisi ukuran atau warna, tetapi dari sisi kondisi buah itu sendiri dari aspek lamanya buah yang bersangkutan akan bertahan pada saat di-transport-kan ke negara pembeli. Mesin ini bisa menentukan berapa lama buah mangga yang bersangkutan dapat bertahan, berapa kadar manisnya, apa warna dominannya, yang terkait dengan kandungan yang ada di dalamnya.

Presiden Joko Widodo sedang bermimpi untuk membangun maritim Indonesia yang jaya. Tetapi kita lupa, bahwa segala daya upaya yang selama 32 dibangun oleh Soeharto kita anggap tidak ada gunanya sama sekali. Kita lupa “isu”, “program” dan “pemberitaan” tentang pertanian dan para petani, pemerintah dan petani, dunia usaha dan petani. Kita selama era SBY berpikir lebih banyak tentang makro-ekonomi, nama baik di dunia internasional, sampai petani di desa-desa ngos-ngosan mempertahankan identitas dan statusnya sebagai petani. Petani Kopi juga mengalami masalah dalam mengembangkan usaha.

Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica sudah mengajukan proposal pendanaan kepada Dana Bergulir dari Kementerian Koperasi dan UKM, dari Pemerintah Provinsi Papua dan dari beberapa pemerintah Daerah Kabupaten. Semuanya tidak pernah ditanggapi. Semuanya dianggap tidak berarti apa-apa. Semua yang telah dilakukan oleh KSU Baliem Arabica dengan segala keterbatasan dan ketertinggalan selama ini dianggap tidak ada apa-apanya. Malahan perhatian lebih diberikan kepada isu-isu yang tidak penting bagi para petani dan masyarakat di pedesaan.

Dari pelajaran kecil ini, saya sebagai orang yang diutus oleh KSU Baliem Arabica untuk belajar dair pengalaman Thailand mau menantang Koperasi saya, Pemda saya, Presiden saya untuk berpikir dan bertindak serius menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi Asean Tahun 2015 ini. Kalau tidak, saya pastikan, Indonesia justru akan menjadi negara terbelakang di antara 10 negara Asia Tenggara.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment