Telaga Berbentuk Hati di Papua Pikat Banyak Pengunjung

BeritaSatu.com, Minggu, 12 April 2015

Siang begitu terik, matahari tepat di atas kepala. Saat itu pukul 13.15 WIT, namun terdengar suara jepretan kamera di mana-mana. Ada sekitar 30 orang yang hadir siang itu di Telaga Cinta. Nama ini diberikan karena bentuk telaga menyerupai hati.

Walau matahari saat itu menyengat, kesempatan mengabadikan gambar tak dilewatkan.

Telaga Cinta ini kini menjadi salah satu lokasi kunjungan wisata masyarakat Jayapura, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

Menurut artinya, danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi dan olahraga.

Keberadaan Telaga Hati sendiri menjadi bahan pembicaraan para fotografer untuk mengabadikan danau unik ini.

Nama asli telaga ini “Infote”, yang mulai dilirik para wisatawan sekitar akhir tahun 2014. Lokasinya berada di antara Kampung Abar dan Putali, yang masuk dalam wilayah Dewan Adat Sentani (DAS), dengan status administrasi pemerintahan dibawah kendali Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Lokasi wisata ini terletak di daerah Sentani Tengah, Kabupaten Jayapura, yang berbatasan langsung dengan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom. Danau ini awalnya ditemukan penduduk lokal, dan mulai dikenal dari mulut ke mulut hingga menyebar ke seantero Jayapura dan Papua.

Danau ini berada di atas perbukitan, yang dikelilingi oleh hamparan rumput hijau yang sangat subur. Ada banyak jalan untuk mencapai lokasi Telaga Cinta, jika melalui Kabupaten Keerom dapat melalui dari Arso IV, dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, dengan jarak tempuh sekitar satu jam.

Sedangkan jika dari di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, dapat melalui Kampung Yoka, dengan pemandangan Danau Sentani dari bagian timur.

Sebagian besar masyarakat Kabupaten Keerom mengenalnya dengan sebutan Telaga Love, sedangkan bagi masyarakat Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura lebih mengenalnya dengan sebutan Danau Love.

Mati Penasaran

Warga Jayapura, bernama Lia Wanwa (23) mengaku, baru kali ini ia datang ke Telaga Cinta. Ia mengetahuinya dari media sosial dan kawan-kawannya. “Kami mati penasaran, apa benar menyerupai hati?” ujarnya, yang saat itu datang ditemani kawannya Engel Afar (21), Sabtu (10/4).

Untuk menghilangkan penasaran, kata Lia, ia dan teman-temannya datang ke Telaga Cinta. “Ternyata setelah ke sini, sungguh benar telaga ini seperti hati, hingga membuat kami terkagum-kagum dan jatuh cinta. Kami tak kecewa, sungguh ini pemandangan yang luar biasa ciptaan Tuhan,”ujarnya.

Sementara Engel Afar mengatakan, telaga di Indonesia banyak, tapi yang menyerupai hati hanya disini. “Mungkin di Indonesia hanya di sini yang ada telaga berbentuk hati,” ujar perempuan yang mengaku akan meng-upload foto-fotonya ke media sosial miliknya.

Lain halnya dengan pasangan suami istri, Harsem dan Eka, yang sebelum menikah dua minggu lalu melakukan sesi pemotretan untuk pernikahannya. “Kami senang bisa lakukan pemotretan di Telaga Cinta ini,” ujar Harsem, yang mengetahui Telaga Cinta ini melalui foto-foto yang dikirim teman-temannya.

Di tempat terpisah, mantan Kepala Kampung Rudi Sokoy (48), mengaku nama telaga ini adalah Infote, yang berasal dari bahasa Sentani. Menurutnya, telaga ini mulai dikenal akhir tahun 2014, karena dipublikasikan lewat Facebook anak-anak asli daaerah ini. “Dari situ mulailah dikenal, lalu banyak yang datang,” ujar Rudi, yang menjadi kepala kampung dari 2008 – Maret 2014.

Diceritakannya, awalnya nama Telaga Hati atau Cinta dikemukakan oleh pekerja proyek jalan yang tinggal di rumahnya. “Seorang pekerja melewati telaga itu dan sering memperhatikan telaga tersebut. Hingga suatu saat, pekerja itu mengemukakan bahwa telaga itu berbentuk seperti hati. Kasih nama saja telaga hati,” ujarnya.

Ia pun menyetujui nama itu dan masyarakat setuju menyebutnya Telaga Hati, ketimbang Telaga Infote. Telaga ini ramai dikunjungi pada hari libur, terutama Sabtu dan Minggu.

Disinggung tentang perhatian pemerintah, Rudi mengatakan, “Saya kira harus ada perhatian, khususnya Dinas Parawisata Kabupaten Jayapura,” ujarnya. Sebab bila ada campur tangan pemerintah setempat, yang dapat mengelola lokasi dengan baik, maka akan jadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Suara Pembaruan

Robert Isidorus/FAB

Suara Pembaruan

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment