Sistem Ekonomi Kerakyatan, Sistem Ekonomi Kapitalis dan Masyarakat Adat

Pertanyaan selalu diajukan “Apakah Masyarakat Adat mendukung/ menolak kapitalis/ sosialis?”. Saya, Jhon Yonathan Kwano waktu berada di pulau Jawa empat tahun terakhir ini bergerak sebagai entrepreneur pemula, yang banyak orang tidak mau percaya, tetapi saya memaksa diri untuk meyakinkan mereka, akhirnya pernah bertanya apakah saya sebagai seorang dari kampung, mewakili masyarakat adat saya, memihak kepada sistem ekonomi kapitalis atau sistem demokrasi ekonomi?

Saya renungkan pertanyaan ini selama hampir dua tahun, karena saya tidak berani menanyakan ini kepada rekan dan kenalan saya di pulau Jawa. Saya baca banyak buku dan artikel di Internet. Satu hal yang saya temukan ialah keduanya tampil seolah-olah antara malaikat dan iblis, antara tikus dan kucing, antara anjing dan kucing, yang satu tidak dapat bersama-sama dengan yang lainnya.

Saya lebih banyak baca buku-buku beraliran sosialisme, dan dari sekian banyak bacaan itu lalu saya tanyakan kembali, “Masyarakat Adat mendukung kapitalisme ataukah sosialisme?

Saya hadir dalam sebuah kegiatan bernama “Darkness Retreat” di Chiang Mai, Thailand, dalam rangka mendapatkan sertifikat untuk mengajar Basics dari Tao Healing System, yang diajarkan Grandmaster Mantak Chia. Dalam retreat seminggu dalam kegelapan penuh siang dan malam itu saya mendapatkan jawaban. Si pemberi jawaban katakan, “Jhon!” Lalu saya jawab, “Ya, siap!” dan dia katakan,

“Sosialisme dan Kapitalisme datang dari satu kampung, satu suku, satu bahasa, satu ibu, satu ayah. Kenapa kau katakan mereka bermusuhan? Mereka tidak bermusuhan! Mereka hanya bermain di pentas kehidupan manusia dalam rangka mewujudkan cita-cita mereka, untuk menghancurkan Masyarakat Adat dan alam semesta. Tujuan akhir mereka sama, dan satu, yaitu melihat dunia ini menjadi modern, dipenuhi kehidupan yang penuh dengan racun dan polusi, seperti yang ada sekarang. Jadi di mana permusuhan mereka?”

Dengan pertanyaan itu saya terbangun. Saya renungkan. Di saat Darkroom Retreat itu tidak ada lagi perbedaan antara siang dan malam, antara gelap dan terang, antara fisik dan non-fisik, semua dualisme menyatu, merujuk kepada esensi kehidupan. Saya putuskan tidak ikut dalam retreat minggu kedua karena dana saya terbatas. Tetapi menurut cerita, memasuki minggu kedua sampai keempat, para peserta sudah mampu berjalan dalam kegelapan total, mereka dapat membedakan siapa yang datang, siapa yang pergi, siapa sedang marah atau sedih, dengan mata tertutup rapat, dengan ruangan gelap-gulita 24 jam sehari semalam selama sebulan lamanya.

Dari renungan ini saya dapat simpulkan, bahwa sebenarnya sistem ekonomi kerakyatan dan sistem ekonomi neoliberal sama saja, tujuan akhirnya sama, dan dampaknya sama bagi masyarakat adat dan alam semesta, yaitu penghancuran dan penghabisan/ pembasmian alam semesta yang alamiah, dan manusia yang alamiah (masyarakat adat). Entah memilih jalan demokrasi ekonomi atau jalan neolib, keduanya pasti menggusur masyrakat adat dari tanah adatnya, pasti alam dirusak, pasti banyak gunung menjadi lembah, pasti dunia ini penuh dengan polusi dan racun seperti yang kita alami saat ini hasil kerja kapitalisme. Kalau seandainya sosialisme yang menang-pun, hasil akhirnya tetap sama saja, dampak terhadap Masyarakat Adat dan alam semesta juga sama saja. Karena itu, saya Jhon Yonathan Kwano, tidak memilih kedua-duanya. Saya memilih Ekonomi Kerakyatan ala Papua, yang diusung KSU Baliem Arabica, yaitu Ekonomi Kesukuan,

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment