PT Freeport Antara “Rebutan Saham, Ghost Town dan Tailing“ di Tanah Papua

Jayapura, Jubi– Agus Sumule Dekan Fakultas Pertanian Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Provinsi Papua Barat, menilai jika PT Freeport ditutup, Kabupaten Mimika akan mengalami dampak yang cukup besar, sebab, hampir 100 persen pendapatan asli daerah (PAD) diperoleh dari Freeport.

Begitu pula kalau, Freeport ditutup, maka akan ada dampak lingkungan yang begitu besar dirasakan masyarakat pemilik hak ulayat wilayah setempat. “Kita sudah sampai pada titik dimana kita tidak mungkin kembali karena Freeport sudah beroperasi hampir 50 tahun. Ketika Freeport berhenti, dampak lingkungan yang ditimbulkan tidak akan berhenti sampai di situ,” kata Sumule kepada Antara di Manokwari. Kata dia pernah ada laporan dibuat oleh Walhi (Wanaha Lingkungan Hidup), salah satunya tentang aliran batuan asam yang PH-nya antara nol, satu dan sebagainya.

“Tidak ada kehidupan di sana dan itu terjadi sampai saat ini,” kata dia lagi. Dia mengatakan, dampak lingkungan itu belum muncul saat ini, karena Freeport mencampurnya dengan batuan gamping dan kapur, sehingga saat cairan itu turun cenderung netral, bahkan basah. Fakta hari ini dua gunung di Cartensz sudah berlubang diketinggian ribuan meter tak jauh dari salju abadi. Erstberg (1967-1987) dan Grasberg (1988-2041), tetapi tarik menarik antara kontrak karya dan rebutan saham terus terjadi di Jakarta.

Gunung berlubang raksasa sedangkan dataran rendah bumi Mimika terus menerus menerima limbahan buangan tambang bernama tailing. Akankah ghost town dan tailing menjadi kenangan abadi ketika Freeport angkat kaki 2041 dari Tanah Papua? Sulit menjawab tetapi ketika rebutan saham terjadi. Tentu saja semua pihak melupakan bahwa ada sampah dan ghost town yang terjadi pasca penambangan. Ertsberg telah berubah menjadi danau bernama Danau Wilson.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment