Papua Tanpa Freeport Lebih Adil dan Aman Sentosa: Orang Papua Tidak Butuh Kaya

Yang dibutuhkan orang Papua saat dulu, saat ini dan saat yang akan datang bukan kekayaan, bukan harta-benda, bukan kemakmuran, bukan kesejahteraan seperti yang dijanjikan dalam cita-cita kemerdekaan Indonesia dan dalam visi/misi Gubernur Papua Lukas Enembe.

Saya heran banyak pendapat dari Jakarta dan bahkan dari Timika, yang berasal dari orang-orang non-Papua seolah-olah beribah kepada orang Papua dan nasib Tanah Papua mengatakan bahwa Papua tanpa Freeport merupakan sebuah nasib sial, sebuah kecelakaan, sebuah kerugian dan tidak diterima oleh orang Papua.

Saya sebagai orang Papua mau katakan, bahwa orang Papua tidak butuh hidup sejahtera, tidak butuh kemakmuran, tidak butuh harta-benda. Kondisi real tanah Papua menunjukkan, sejak dulu sampai sekarang, bahkan sampai selama-lamanya, orang Papua butuh ketenagan hidup, kedamaian hidup dan hidup sederhana, bersahaja dan penuh sukacita.

Moffet-ESDM
Menteri ESDM Sudirman Said berharap Gerald J. Ford yang menggantikan James R. Moffett bisa membawa perubahan kepemimpinan di tubuh Freeport. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Demikian kata salah satu Kepala Suku di TImika, ibukotak kabupaten Mimika pada tanggal 24 Desember 2015, menanggapi berbagai gejolak yang mengemuka soal Freeport dan operasi tambangnya di Tanah Papua.

Seolah-olah tanah dan manusia Papua dilanda malapetaka karena mimpi buruk tanpa alasan gara-gara kehadiran Freeport di Tanah Papua. Itulah doa dan kesan umum yang dirasakan di Tanah Papua. Kesan dan kesimpulan ini bukan dari orang-orang non-Papua di Tanah Papua, tetapi dari OAP sendiri.

Oleh karena itu, entah mantan calon Bupati, entah Gubernur, Menteri, Anggota DPRD atua DPR RI yang mengatas-namakan Papua dan orang Papua berbicara di mana-mana dan mengkaitkan Freeport dengan kekayaan, harga-benda dan kesejahteraan ialah sebuah perspektif yang sangat keliru. Karena orang Papua selama ini melihat Freeport sama dengan monster yang mengerikan, yang dantag ke Tanah Papua tanpa diundang, dan yang kehadirannya mendatangkan malapetaka besar, nasib sial, intiimidasi, teror sampai kematian di pihak orang Papua dari waktu ke waktu, mulai sejak tahun 1967.

Kalau kita hitung apa yang dihasilkan Freeport dari sis uang dan apa yang diberikan kepada tanah Papua dan OAP, siaapun manusia di dunia harus secara jelas mengatakan bahwa kehadiran Freeport di TanaH Papua memang betul-betul malapetaka, sama seperti yang diceritakan orang Papua berdasarkan pengalaman hdup selama hampir setengah abad ini. Sudah satu keturunan secara utuh berlalu, dan penderitaan itu terus berlanjut.

Tuarek Natkime yang pertama-tama menandatangani Kontrak Karya tahun 1967 mengira bahwa kehadiran Freepot sama saja atau berbarengan dengan kedatangan orang kulit putih yang membawa Injil Keselamatan iuntuk masuk ke sorga. Tetapi sebelum ia meninggal dunia sempat memberontak melawan Freepor. Sembat ia menyumpahi Freeport sebagai biang-keladi malapetaka bagi orang Papua. Ia bahkan pernah menggugat Freeport secara Adat dan menyesali serta meminta maaf kepada anak-cucunya bahwa ia telah salah menandatangani kontrak dan menyetujui Freeport McMoran Coopper & Gold, Inc. beroperasi di Tanah Papua.

Bagi generasi pertama sejak penandatangnan itu, kami orang Papua masih terus semakin mencekam merasakan bahwa kehadiran Freeport ialah monster pembunuhh ornag Papua, hewan Papua, tumbuhan Papua, pembasmi gunung Papua, monster perusak alam Papua, dan monster polusi besar di Bumi Surgawai, yang disebut Edo Kondologit sebagai Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment