Orang Papua Kok Diam Aja, Padahal Masalah Freeport Udah Ramai di Jakarta

Judul tulisan ini merupakan pernyataan yang sudah beberapa kali saya Jhon Yonathan Kwano dengar pada saat bercakap dengan teman-teman yang non-Papua atau Amberi.

Saat ini sebenarnya sudah banyak orang bertanya-tanya, bahkan ada yang heran, “Kenapa orang Papua diam aja?” Masalah yang dibahas ramai, sampai melibatkan Ketua DPR RI Setya Novanto dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, bahkan Menteri ESDM Sudirman Said, menyangkut pertambangan yang ada di Tanah leluhur orang Papua, kok tidak ada komentar?

Saya biasanya jawab langsung tanpa pikir-pikir panjang,

“Yang orang Papua mau itu sudah jelas, Freepot keluar dari Tanah Papua”. Lalu sering serta-merta saya ditanyakan, “La, lalu bagaimana?” Saya juga jawab dengan cepat, “Lalu ya begitu, biarkan orang Papua hidup sebagaimana manusia harus hidup, tanpa takut, tanpa diintimidasi dan diteror, tanpa diusir dari tanah leluhur, tanpa dicemari tanah air, sungai tempat minum dan mandi, dan tanpa mencemari kehidupan sosial-budaya. Kehadiran Freeport di atas tanah Papua membawa lebih banyak dan lebih parah, dan lebih berjangka panjang masalah dan malapetaka daripada berkah dan kemakmuran dan kekayaan”

Saya biasanya lanjutkan

Orang Papua tidak perduli mau jadi kaya atau miskin. Itu bukan ukuran hidup orang Papua. Yang orang Papua mau ialah hidup aman.

Orang Papua tidak perduli kayaraka dan makmur atau miskin dan melarat. Yang penting gunungnya jangan dijadikan lembah. Yang penting sungai-sungainya yang dulu bisa kita mandi dan mencari udang, ikan bebas itu sekarang sudah beracun dan kita malah dilarang melintas. Yang penting lahan kebun kita jangan ditutup gara-gara Freeport sudah dapat izin tambah. Yang penting bukan kekayaan, tetapi kehidupan sebagai manusia di tanah leluhur. Itu yang terpenting dan terutama. Mau jadi kaya atau miskin itu bukan wacana orang Papua. Itu wacana orang Amberi yang melontarkan kata-kata untuk kepentingan mereka sendiri. Contohlah lihat saja Setya Novanto dan Presiden Direktor Freepport.

Mendengar penjelasan seperti ini, saya perhatikan reaksi entah lisan, entah lewat bahasa tubuh. Kebanyakan mereka setuju, tetapi tidak sepenuhnya menerima. Kebanyakan bertanya kembali dalam hati, “Masa orang Papua tidak mau jadi kaya?”

Yang dibutuhkan manusia secara berurutan, apakah kemakmuran mendahului hidup sebagai manusia? Manusia harus hidup. Dan hidup harus aman dan tenang sebagaimana manusia harus hidup. Itu baru berpikir tentang mau jadi kaya atau miskin. Lah, orang Papua ini belum berpikir tentang kaya-miskin, sudah terlanjur terancam hidupnya, sudah terlanjur tanahnya digusur, sudah terlanjur dimutasi paksa, sudah terlanjur sungai-sungainya menjadi racun, sudah terlanjur gunung-gunungnya kini menjadi lembah. Nah dalam kondisi begini kita mau bicara kaya-miskin ataukah hidup-mati?

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment