Menparekraf: FDS Perlu Dijadikan Agenda Nasional Pariwisata Indonesia

Sumber Berita: BintangPAPUA.com, Senin, 22 Jun 2015 15:44

Pembukaan Ditandai Pemukulan Tifa

SENTANI – Sebagaimana direncanakan sebelumnya, akhirnya Festival Danau Sentani (FDS) ke-VIII Tahun 2015 secara resmi dibuka Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Arief Yahya, Sabtu (20/6) sekitar pukul 11.30 WIT. Pembukaan ini, ditandai pemukulan Tifa, di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura tempat berlangsungnya FDS.

Menparekraf Arief Yahya saat memukul tifa didampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohanna Yembise, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., Asisten II Bidang Perekonomian Setda Provinsi Papua Drs. Elia I. Loupatty, M.M., Ketua Panitia FDS ke-VIII tahun 2015 Christ K. Tokoro dan salah satu tokoh adat, Ramses Ohee.
Menteri Arief Yahya mengatakan bahwa Papua mempunyai kekayaan budaya dan seni yang sungguh luar biasa. “Papua punya kekayaan budaya dan seni yang sungguh luar biasa, sangat membanggakan kita semua,” ucapnya saat menyampaikan sambutannya. Dikatakan, FDS ini memiliki arti penting dan strategis serta sangat besar manfaatnya dalam berbagai aspek, karena itu festival ini perlu dijadikan agenda nasional pariwisata Indonesia.

“Saya menyambut gembira pelaksanaan FDS ini dan juga diharapkan dari festival ini bukan hanya sebagai ajang kebudayaan saja, tapi juga bisa mensejahterakan rakyat yang ada disini,” katanya.

Karena itu, Menteri Arief mengatakan, kalau dari sisi kebudayaan yang ada disini nilai-nilainya sangat tinggi dan pemandangan alamnya juga bagus.

“Untuk itu, saya ingatkan bahwa budaya itu tidak hanya membahagiakan saja, tetapi juga dapat menghidupi atau mensejahterakan. Yang mana, sesuai dengan tema FDS kali ini adalah ‘Budayaku Sejahteraku’,” katanya.

Dijelaskan, untuk target pariwisata tahun 2019 diharapkan sebanyak 100 ribu wisman (wisatawan mancanegara) dan 1 juta wisnus (wisatawan nusantara).

“Dan, dari situ kita harapkan pendapatan disini akan menjadi Rp2 triliun dan saya mengharapkan dengan melakukan sosialisasi, baik melalui media massa maupun para blogger, sehingga masyarakat Indonesia dan internasional dapat tahu dan hadir ke sini,” harapnya.

“Karena budaya ini diharapkan dapat menumbuhkan pariwisata, demikian juga pariwisata kita bangun untuk menumbuhkan budaya. Jadi, harus seimbang antara nilai kebudayaan dengan nilai keekonomian. Kehadiran saya di sini yang paling penting adalah bersama-sama menyadarkan masyarakat untuk menyeimbangkan nilai kebudayaan dan nilai keekonomian,” tambahnya.

Sementara itu Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe, S.IP., M.H., dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Bidang Perekonomian Setda Provinsi Papua Drs. Elia I. Loupatty, M.M., mengatakan bahwa FDS adalah momen penting untuk menggali dan mengembangkan nilai-nilai luhur seni dan budaya yang dimiliki serta melestarikannya kepada setiap generasi yang akan datang.

“Selain itu juga dapat merekatkan rasa persatuan dan kesatuan suku-suku bangsa, etnik budaya Papua, mendorong semangat, kreatifitas, inovasi seni dan budaya, mendorong tumbuhnya kepercayaan dan jati diri masyarakat Kabupaten Jayapura untuk sejajar dengan masyarakat lainnya, sehingga Sentani dapat dijadikan sebagai kota tujuan atau destinasi pariwisata nasional maupun internasional,” tutunya.

“Oleh sebab itu, kami mohon kepada bapak Presiden melalui Menteri Pariwisata untuk dapat memperhatikan dengan seksama konsep dasar kami ini, terutama dalam pagelaran budaya, pameran, tur wisata yang dilengkapi dengan seniman budaya dan eksibisi yang sangat tepat sebagai upaya pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata yang bertumpu pada pola keselarasan dan keserasian,” pintanya.

Gubernur berharap kepada semua jajaran pemerintah, dunia usaha dan masyarakat Papua, khususnya di Kabupaaten Jayapura agar menyadari dengan baik tantangan maupun peluang yang akan dihadapi ke depan semakin kompleks dan sulit, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan pemikiran yang sungguh-sungguh cerdas serta kerja keras semua stakeholders.

“Supaya dengan penuh rasa tanggung jawab dapat memberikan kontribusi positif, sehingga dapat bermanfaat bagi pembangunan kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Jayapura dan Provinsi Papua bahkan Indonesia pada umumnya kedepan,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., mengatakan FDS merupakan komitmen masyarakat di daerah Kabupaten Jayapura ini untuk menempatkan budaya masa lampau dan masa kini agar tetap eksis dan dihargai. Juga sebagai jati diri dan pola hidup yang membawa keharmonian, kenyamanan dan kebersamaan.

“Pada FDS kali ini kami angkat penguatan masyarakat adat sebagai jati diri yang harus dipertahankan. Termasuk benda budaya hasil karya anak bangsa dalam peradaban yang sudah berlangsung sejak lama seperti ukiran atau lukisan diatas kulit kayu. Karena kebudayaan dan sumber daya alam itu akan menjadi kekuatan dalam upaya-upaya pemberdayaan atau penguatan yang kita lakukan saat ini kepada masyarakat adat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia FDS ke-VIII Tahun 2015 Christ K. Tokoro menjelaskan kegiatan tahunan itu sebenarnya telah diawali dengan sejumlah kegiatan pra festival pada 14-17 Juni 2015 diantaranya fun bike, lomba dayung tradisional dan pawai budaya.

“Dalam puncak pelaksanaan FDS, akan dilakukan peninjauan situs peninggalan sejarah perang dunia (PD) II di Kampung Puay dan perlombaan yang sangat unik yakni menyelam sambil merokok. Unik, karena kegiatan lomba ini baru diadakan dalam pelaksanaan FDS tahun ini dan dilakukan oleh para ibu-ibu,” katanya.

FDS ke-VIII yang mengusung tema Budayaku Sejahteraku atau My Culture My Prosperous ini juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohanna Yembise, Duta Besar Mongolia untuk Indonesia Shagdar Battsetseg dan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjend TNI Fransen G. Siahaan, Wakil Bupati Jayapura Roberth Djoenso, D. S.H., M.Si., dan Kapolres Jayapura AKBP Sondang R. D. Siagian.

FDS yang digagas pada pemerintahan Bupati Habel Melkias Suwae, S.Sos., itu akan berlangsung selama lima hari mulai dari 19-23 Juni 2015.

Menteri Arief Yahya Resmikan PLTS Kampung Abar
Di momen pembukaan FDS ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Arief Yahya juga meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Kampung Abar, Kabupaten Jayapura.

Menteri Arief Yahya mengatakan, peresmian pengoperasian PLTS ini menandai beroperasinya PLTS secara interkoneksi ke jaringan telepon seluler dan dapat dipantau secara online melalui perangkat lunak khusus bawaan dari meter.

“Saya harap program CSR dari perusahaan-perusahaan dapat membantu dan juga membangun atau mengembangkan solar sel bagi kampung-kampung lain yang ada di Kabupaten Jayapura,” harapnya.

Dalam peresmian tersebut, Menteri Arief Yahya menandatangani 1 prasasti untuk 1 unit PLTS Abar yang didampingi Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohanna Yembise dan Pangdam XVII Cenderawasih Mayjend TNI Fransen G. Siahaan serta Ondoafi Kampung Abar Naftali Felle.

Sementara itu, Direktur Confounder Enviromental Engineer PT. Anekatek Consultants, DR. Matt Basinger, Eng, Scd, mengatakan bahwa electric vine industries telah mengembangkan sebuah sistem arsitektur listrik unik di pedesaan yang dinamakan Solar Vine dengan ‘smart meter’ sebagai intinya.

“Dimana, pelanggan membeli listrik menggunakan sistem pra-bayar dengan ponsel (telepon seluler) mereka. Karena meteran terkoneksi dengan jaringan seluler, dan memantau secara online melalui perangkat lunak khusus bawaan dari meter,” jelasnya.

Lebih lanjut kata Matt, pendekatan dengan cara pra-bayar ini merupakan suatu proses penjualan listrik yang dikombinasikan dengan kemampuan monitoring jarak jauh untuk seluruh aset dan juga aktiivitas masyarakat secara berkelanjutan, melalui pencocokan antara siklus pembayaran dengan siklus pendapatan pengguna. “Electric vine industries sedang membangun proyek percontohan di Papua dan bermaksud untuk melakukan peningkatan untuk menyediakan listrik bagi lebih dari 100 ribu rumah selama lima (5) tahun ke depan,” ujarnya.

“Program ini menjadi penggerak untuk proses penjualan energi, serta membantu masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari penyewaan alat-alat tersebut. Ini adalah sistem modular pertama di Indonesia,” tukasnya. (mir/don/l03/par)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment