Memilih Freeport Tetap di Tanah Papua sama saja dengan Memilih Neraka

Freeport
PPI Jepang rekomendasikan Pemerintah kuasai minimal 51 persen saham Preeport – reuters.com

Kita Suci semua agama menggambarkan negarak sebagai tempat yang kita perjuangkan untuk dihindari. Kita menjadi pemeluk agama, kita jalani semua ajaran agama, kita berbuat baik, kita jaga moral dengan baik, beribadah, bersedekah, dan melakukan semua yang manusiawi dan bermoral karena kita mau masuk ke “surga”, yaitu tempat di mana tidak ada air mata, tidak ada lapar dan haus, tidak ada miskin dan kaya, tidak ada siang dan malam, selamanya bahagia.

Dibandingkan dengan negara, kita sebagai umat beragama setiap hari besar, bahkan setiap detik diperingatkan oleh ajaran-ajaran moral dan agama betapa ngerinya neraka bagi manusia.

TIdak pernah kami denganr di dunia ini, ada manusia waras yang pernah memilih neraka.

Memang ada orang berbuat dosa, melakukan tindak pidana korupsi, berselingkuh,, mencuri, menipu, dan sebagainya, tetapi kalau ditanya apakah semua ini dilakukan oleh karena mereka bercita-cita hidup di neraka, maka pasit saja semua akan menolak cita-cita atau harapan itu. Dan kalau ada, maka orang yang bercita-cita ke neraka itu akan dianggap sebagai kerasukan setan atau orang gila.

Dalam pengarahan tutup tahun di Jayapura, ibukota Provinsi Papua, seorang Kepala Suku dari Suku Amungme mengatakan,

“Pemerinah Indonesia dan orang politik dari Inodnesia mereka bilang Freeport harus ada di Tanah Papua karena Freeport yang bikin kaya dan pembangunan di Papua. Tetapi saya mau bilang, kalau dorang suruh orang Papua pilih Freeport tetap tinggal, itu sama dengan suruh kami pilih ke neraka, dan bilang neraka lebih baik daripada surga, oleh karena itu orang Papua mau neraka. Ini orang gila ka atau orang waras ka?”

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment