Kartu Tanda Penduduk Indonesia Papua Tidak Berlaku di Pulau Jawa

Berita tanggal 28 Oktober 2015 di Cenderawasih Pos menyinggung pemberlakuan khusus terhadap pendatang masuk dari luar Tanah Leluhur. Dalam artikel Cepos disebutkan pemberlakukan KTP di Bali, di mana penduduk Asli Bali dan penduduk pendatang diberlakukan tidak sama. Membaca judul berita ini, saya terpicu untuk menceritakan pengalaman nasib buruk KTP Indonesia saya di pulau Jawa.

Dalam Cepos 28 Oktober, halaman 14 tertulis “MRP Diminta Bikin Perdasus Awasi Warga Pendatang: Hana Hiyoyabi: Pemprov Bali saja Tidak BIsa Keluarkan KTP Sembarangan kepada Warga Pendatang” menyatakan perlu ada pengendalian manusia yang masuk ke Tanah Papua.

Saya sudah tiga tahun bermukim di Pulau Jawa, tepatnya Jogyakarta, dan selama tiga tahun itu tidak pernah terdaftar sebagai penghuni Kota Jogja. Saya hanya melapor ke RT sebagai tamu, dan setiap minggu saya lapor diri, selama 3 tahun.

Di Jogja saya sudah pindah tempat dua kali. Dan dalam dua kali pindah itu persyaratan untuk mengurus berbagai kebutuhan misalnya SITU, SIUP dan menjalankan usaha PAPUAmart.com sebagai Toko Online saja selalu dimintakan “Harus ada KTP Jogja”. Dan Anda tahu syarat mendapatkan KTP Jogja? Jawabanya “Saya harus orang Jogja”, kalau tidak kawin sama orang Jogja, kalau tidak punya hubungan dengan aparat keamanan entah polisi atau tentara yang tinggal di Jogja.

Karena saya tidak punya hubungan ini, selain hubungan bisnis untuk menjalankan Toko Online PAPUAmart.com, maka selama tiga tahun itu saya tidak pernah punya KTP, tidak pernah punya SITU dan SIUP. Saya hanya menggunakan SK Kementerian Koperasi dan UMKM yang dikeluarkan untuk KSU Baliem Arabica sebagai dasar hukum, dan tinggal di Jogjakarta menemani anak-anak dari adik saya yang kuliah.

Sudah beberapa kali saya ke kantor lurah. Saya lakukan ini di Jakarta Selatan, di Malang dan di Jogjakarta. Jawaban yang paling tegas dan jelas saya dapat dari Jakarta Selatan. Pak Lurah (saya tidak mau sebut lurah mana) menyatakan secara langsung: “Pak, kami tidak tega membiarkan Bapak datang merampas hak usaha kami orang Jawa. Banyak tetangga Bapak tidak terima Anda berbisnis di sini. Kami merasa rezeki kami dirampas oleh Bapak.” Saya tidak sendirian, saya berasma teman-teman dan adik-adik orang Jawa Asli juga, ada dua orang Jawa dan dua orang Papua. Yang mendengarkan jawaban ini kami ber-empat.

Begitu mendengar jawaban ini, kami ucapkan terimakasih banyak, karena saya sudah berputar-putar hampir sekeliling Pulau Jawa mencari peluang untuk mengurus Surat Izin untuk menjalankan bisnis saya.

Tidak tahun tanpa izin, saya akhirnya pulang ke Tanah Papua dan mengusulkan kepada Rapat Umum Anggota KSU Baliem Arabica tahun 2015 untuk kami buka minimarket PAPUAmart.com di Jayapura.

Rapat menerima, mengesahkan dan bahkan menganggarkan dana yang cukup dari sumbangan kegiatan “Sumbang Makan” yang diselenggarakan di seluruh wilayah petani Kopi.

Kini Toko Offline PAPUAmart.com telah berdiri di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05, Kelurahan Sentani Kota, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua; kontak papuamart@gmail.com telp 0967-592677

Saya sampai menjad heran, sejauh ini, “Mengapa KTP Saya bertuliskan KTP Nasional, dan Kopinya berlambang Garuda, bertuliskan Kartu Tanda Penduduk Negara Republik Indonesia” tetai hanya berlaku di Tanah Papua dan untuk pulau Jawa KTP menjadi tidak bermakna sama sekali?

Saya balik tanya Gubernur Provinsi Papua, “Mengapa kok orang luar masuk ke Tanah Papua seenaknya begitu saja?”

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment